Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan Jakarta untuk bisa masuk 50 besar Kota Global Dunia pada tahun 2029 atau 2030.
Target ini ia sampaikan dalam acara Jambore Kader Posyandu Bidang Kesehatan DKI Jakarta 2026 di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (11/9).
"Saya berharap mudah-mudahan di tahun 2029 atau 2030, Jakarta sudah bisa menjadi top 50 atau 50 besar kota global dunia," ujar Pramono.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyatakan bahwa kini Jakarta masih menduduki posisi 71 dari 156 kota global dunia.
Untuk dapat menjadi kota global dunia, Pramono pun menyorot Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jakarta.
"Maka, prasyarat utama untuk menjadi kota global dengan indeks yang membaik, salah satunya adalah apa yang disebut dengan IPM, Indeks Pembangunan Manusia. Jakarta sekarang nomor satu di seluruh provinsi yang ada di Indonesia, yaitu 85,05, jauh meninggalkan yang lainnya," katanya.
IPM diukur berdasarkan indeks kesehatan, pendidikan, dan pengeluaran. Indeks kesehatan dilihat melalui angka harapan hidup ketika lahir.
Sedangkan, indeks pendidikan terdiri dari indikator harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Terakhir, IPM diukur melalui indeks pengeluaran yang dilihat dari indikator pengeluaran per kapita disesuaikan.
Namun, tak hanya IPM, penurunan angka rasio gini atau ketimpangan juga menjadi fokus dalam upaya DKI Jakarta menjadi kota global.
"Apa yang kita kerjakan dengan pendidikan, kesehatan, sosial, yang sama sekali budget-nya tidak kita potong, bahkan kita lebihkan, kita tambahi, itulah yang membuat kemudian Gini rasio-nya mengalami penurunan dari 0,441 menjadi 0,435, walaupun masih tinggi,"
Melihat adanya angka-angka tersebut, Pramono sebut DKI Jakarta sudah berada di jalan yang baik. Ia juga berharap angka yang sudah baik dapat terus ditingkatkan.
"Sekali lagi, saya selalu mendorong bahwa Jakarta itu benchmarking-nya, pembandingnya, itu harus kota-kota dunia untuk bisa memicu, mendorong agar masyarakat Jakarta hidupnya lebih sehat, lebih teratur, lebih nyaman, lebih rapi, dan juga tentunya yang paling penting adalah membuat masyarakatnya bahagia," sebut Pramono.
Sebelumnya, Pram juga memasang target tak kalah berani. Saat meninjau pembangunan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Pram mengungkap ingin membuat Jakarta terbebas dari kabel semrawut dalam kurun lima tahun ini.
"Saya terus terang mem-planning-kan dalam lima tahun semua kabel-kabel yang ada di permukaan itu bisa diturunkan dan kalau itu bisa diturunkan maka wajah Jakarta pasti akan sangat berbeda. Apakah lima tahun itu bisa atau tidak? Karena memerlukan kurang lebih 6.500 km yang harus ditangani," kata Pramono, Kamis (10/9).
(mou/wis)

