Anggota DPR Sentil Dinas soal Bocah Meninggal di Tengah Asap Karhutla

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 16:41 WIB
 Anggota DPR Daniel Johan menyentil dinas kesehatan di Kalimantan Tengah soal bocah meninggal tak dapat dikaitkan dengan tragedi asap karhutla.
Ilustrasi. Suasana kawasan yang mengalami karhutla membara di Kalimantan beberapa waktu lalu. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan menyentil pernyataan Dinas Kesehatan Murung Raya, Kalimantan Tengah soal meninggalnya anak berusia 11 tahun di RSUD Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, yang diklaim sebelumnya belum dapat dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dinkes Murung Raya sebelumnya menyebut kematian korban belum dapat dikaitkan langsung dengan paparan asap maupun infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla, karena korban juga disebut memiliki riwayat penyakit bawaan.

Namun, Daniel mengingatkan soal dugaan kelompok rentan yang kesehatannya memburuk karena paparan asap karhutla.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita juga tidak bisa serta merta menyatakan kematian korban tidak ada kaitannya dengan kabut asap karena memang keadaan Karhutla sudah semakin buruk, terutama di Kalimantan," ucap Daniel dalam keterangannya, Jumat (4/9).

Daniel menyatakan kasus itu harus ditangani secara empatik dan berbasis bukti medis.

"Tapi kita juga tidak boleh lupa, kelompok rentan yang memiliki penyakit bawaan seperti anak ini adalah yang paling terdampak kabut asap Karhutla," kata Daniel.

Daniel memahami pernyataan Dinkes Murung Raya yang menyebut kematian korban tidak dapat serta-merta disimpulkan akibat kabut asap Karhutla atau ISPA karena korban memiliki riwayat asma dan kelainan ginjal. Namun, ia mengingatkan bahwa adanya penyakit penyerta justru menempatkan seorang anak dalam kelompok yang lebih rentan ketika kualitas udara memburuk.

"Apalagi bagi mereka yang memang memiliki riwayat penyakit bawaan," ucap dia.

Daniel memahami bahwa pemerintah memang tidak boleh menyimpulkan penyebab kematian tanpa dasar medis.

"Namun ketidakpastian penyebab tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mengecilkan risiko," sambungnya.

Untuk mengantisipasi dampak yang semakin meluas, Daniel mendesak pemerintah segera mengatasi Karhutla.

Ia menyampaikan penanganan Karhutla tidak boleh seadanya karena dampaknya menyangkut kesehatan masyarakat dan habitat lingkungan.

"Paparan kabut asap sangat mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat dan satwa. Orangutan sebagai satwa yang dilindungi bahkan sudah terkena dampaknya," ujarnya.

Daniel pun meminta Pemerintah menangani karhutla dengan lebih serius.

"Pemerintah juga harus memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan bantuan. Masker, alat kesehatan, oksigen, layanan kesehatan, dan kebutuhan lainnya harus tersedia, terutama bagi kelompok rentan," ucap dia.

Sebelumnya diberitakan seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun menderita sesak napas dan kesehatannya menurun hingga akhirnya meninggal setelah sempat dirawat di RSUD Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya.

Hal itu terjadi di tengah kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti Kota Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat.

Mengutip dari detikKalimantan, korban diketahui mulai mengalami sesak napas sebelum akhirnya mendapat perawatan di rumah sakit pada Jumat (28/8). Di tengah kondisi tersebut, kabut asap juga sedang menyelimuti wilayah Puruk Cahu.

Sejauh ini, Dinkes Murung Raya menyebut kematian korban belum dapat dikaitkan secara langsung dengan paparan asap maupun ISPA. Sebab korban juga mempunyai riwayat penyakit lain yang telah lama diderita.

"Anak tersebut juga sempat mengalami sesak napas, tapi tidak semerta-merta karena asap terus ISPA lalu meninggal. Namun, anak tersebut juga mengalami penyakit lain, yaitu kelainan yang terdapat pada ginjalnya," kata Kepala Dinas Kesehatan Murung Raya Suwirman Hutagalung.

Sementara itu tetangga korban, Lulus Sriyati, mengatakan berdasarkan informasi dari keluarga, almarhum bocah itu telah memiliki riwayat asma sejak masih berusia dua tahun. Kondisi penyakit bawaan itu dinilai makin parah sejak kabut asap karhutla yang tak kunjung mereda.

"Menurut keluarganya, anak itu mengalami asma sejak usia dua tahun dan makin parah sejak terjadinya kabut asap di Kota Puruk Cahu," ujar Lulus, dikutip dari detikKalimantan, Rabu (2/9).

Berdasarkan keterangan yang didapatnya, keluarga korban bahkan sempat berencana membawa anak tersebut ke rumah sakit di Banjarmasin untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Namun, rencana itu tidak sempat terlaksana karena korban meninggal dunia pada Senin (31/8) pagi.

(mnf/kid)
placeholder