Pengungsi Kota Borong NTT Berburu Besi Puing Gempa untuk Biaya Makan

CNN Indonesia
Rabu, 19 Agu 2026 13:31 WIB
Warga Manggarai Timur, NTT, berjuang bertahan hidup pasca-gempa dengan mengumpulkan besi tua. Bantuan terlambat, mereka berbagi untuk dapur umum.
Warga Manggarai Timur, NTT, berjuang bertahan hidup pasca-gempa dengan mengumpulkan besi tua. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga di Kabupaten Manggarai Timur, NTT, terpaksa mencari jalan sendiri untuk bertahan hidup di tengah keterlambatan bantuan usai gempa.

Mayoritas buruh tani yang belum berani kembali ke ladang karena takut gempa susulan, kini beralih mengumpulkan besi tua dari puing-puing bangunan yang runtuh.

Hasil penjualan besi tua yang dikumpulkan sebagiannya diserahkan untuk membiayai dapur umum pengungsian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dionisius Parera, warga Kota Borong, menyampaikan kondisi pahit yang dialami warga di lokasi pengungsian, Rabu (19/8).

"Bantuan tak kunjung tiba. Sementara warga mayoritas buruh tani belum berani bekerja karena takut sewaktu-waktu terjadi gempa dan air laut naik. Apalagi gempa susulan terjadi terus-menerus dengan getaran yang lumayan kuat. Akhirnya warga melakukan pekerjaan apa saja untuk dapat penghasilan, terutama untuk membiayai dapur umum selama mereka tinggal bersama di pengungsian," ujar Dionisius kepada CNNIndonesia.com.

Tempat pembuangan puing reruntuhan bangunan kini berubah menjadi sumber harapan baru.

Warga berbondong-bondong mengumpulkan besi bekas yang langsung dibeli oleh pengepul besi tua di lokasi.

Sebagian hasil penjualan diserahkan kepada pengurus dapur umum untuk membeli bahan makanan.

Aris Lodo (44), salah satu warga Bea Borong yang turut serta menyebut hal ini sebagai "berkah" di tengah bencana.

"Kami memang menderita akibat bencana gempa bumi, ditambah lagi belum ada bantuan yang masuk. Tapi kemudian ada puing reruntuhan yang dibuang dekat tempat pengungsian kami, sehingga dapat kami ambil besi bekasnya untuk biaya hidup dalam kondisi darurat seperti sekarang ini. Warga saling berbagi, rebutan besi tua dari reruntuhan gedung menjadi mata pencaharian baru untuk bertahan hidup," tutur Aris.

Aris mengaku sehari ia mampu mengumpulkan hingga 15 kilogram besi tua untuk diserahkan ke pengepul di Kota Borong. Meski demikian, ia tetap berharap kondisi segera berubah.

"Kami berharap bantuan segera tiba, agar kami bisa berhenti mengais puing dan kembali menata kehidupan kami," tambahnya.

(lou/isn)
placeholder