Radea Apresiasi Pengabdian Masyarakat KCK FEB Universitas Widyatama

DPRD Kota Bandung | CNN Indonesia
Rabu, 19 Agu 2026 12:48 WIB
DPRD Bandung
Radea Apresiasi Pengabdian Masyarakat KCK FEB Universitas Widyatama. (Foto: Arsip DPRD Bandung)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung Radea Respati Paramudhita mengapresiasi kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kelompok Cabang Keilmuan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (KCK FEB) Universitas Widyatama di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Selasa (18/8).

Kegiatan bertema Ecopreneurship Berbasis Daur Ulang Limbah Plastik Rumah Tangga sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Warga Binaan itu dinilai menjadi langkah konkret untuk meningkatkan keterampilan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi warga binaan, khususnya perempuan.

Program tersebut dilaksanakan tim PKM Universitas Widyatama yang diketuai Dr. Rima Rahmayanti, SE., MM. Radea juga menjadi salah satu anggota tim PKM dan hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegiatan turut dihadiri perwakilan Pemerintah Kota Bandung, antara lain dari Sekretariat DPRD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta unsur kewilayahan setempat.

Radea menilai kegiatan tersebut merupakan langkah konkret dalam meningkatkan keterampilan, kreativitas, serta kemandirian ekonomi warga binaan, khususnya perempuan, melalui pemanfaatan limbah plastik rumah tangga menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.

Menurutnya, pemberdayaan warga binaan tidak cukup hanya dilakukan melalui pemberian keterampilan teknis. Diperlukan ekosistem yang mampu menghubungkan proses pelatihan, pengembangan produk, hingga pemasaran, sehingga hasil karya warga binaan dapat memberikan manfaat ekonomi secara nyata.

"Kita tentu sangat mengapresiasi kegiatan ini. Yang diberikan bukan hanya ilmu dan keterampilan, tetapi bagaimana warga binaan dapat melihat bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sampah ternyata bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi," kata Radea dalam keterangannya dikutip Rabu (19/8).

Ia menjelaskan, konsep ecopreneurship memiliki manfaat ganda. Pertama, membantu mengurangi timbulan sampah, khususnya limbah plastik rumah tangga. Kedua, membuka peluang ekonomi melalui kreativitas dan keterampilan dalam mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Radea menilai pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga pemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar program serupa tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga binaan.

"Yang paling penting adalah keberlanjutan. Setelah diberikan pelatihan dan menghasilkan produk, harus ada pendampingan berikutnya, termasuk bagaimana produk tersebut dikembangkan, dipromosikan, dan mendapatkan akses pasar," ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Radea menilai sinergi dengan Pemerintah Kota Bandung juga penting, khususnya dalam membuka peluang pemasaran bagi produk hasil karya warga binaan.

Kehadiran perwakilan Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian dalam kegiatan ini pun dinilai menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan program, mengingat kedua dinas tersebut memiliki peran strategis, baik dalam pengelolaan sampah maupun pembukaan akses pasar bagi produk UMKM.

Pemerintah daerah, menurutnya, dapat berperan sebagai fasilitator dengan mempertemukan produk-produk tersebut dengan berbagai kanal pemasaran, pelaku UMKM, maupun ruang promosi yang tersedia.

Selain aspek ekonomi, kegiatan PKM ini juga dinilai memiliki dimensi lingkungan yang kuat. Pemanfaatan limbah plastik rumah tangga diharapkan dapat membantu mengurangi timbulan sampah sekaligus memberikan nilai tambah melalui pengolahan menjadi produk kreatif.

Sementara dari sisi ekonomi, peningkatan kualitas produk dan akses pemasaran diharapkan dapat memberikan motivasi sekaligus bekal bagi warga binaan untuk membangun kemandirian setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Radea menegaskan bahwa keberhasilan program pemberdayaan warga binaan tidak semata-mata diukur dari jumlah produk yang dihasilkan. Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat dari meningkatnya keterampilan, tumbuhnya kepercayaan diri, serta kesiapan warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.

Oleh karena itu, Radea berharap kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Universitas Widyatama, di bawah kepemimpinan Dr. Rima Rahmayanti, SE., MM selaku ketua tim PKM, dapat menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mentransformasikan pengetahuan, kreativitas, dan inovasi menjadi solusi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Aktivitas kolaborasi seperti ini tidak boleh berhenti di sini dan bisa terus disinkronisasikan dengan program Pemerintah Kota Bandung, serta dikembangkan di berbagai wilayah, sehingga ilmu yang dimiliki para dosen dan perguruan tinggi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata Radea.

Ia berharap model pemberdayaan berbasis ecopreneurship tersebut dapat terus dikembangkan sebagai salah satu pendekatan dalam membangun kemandirian warga binaan, sekaligus mendukung upaya pengurangan sampah dan penguatan ekonomi masyarakat.

"Ini adalah bentuk pemberdayaan yang sangat terintegrasi. Ada pendidikan, ada keterampilan, ada proses menghasilkan produk, kemudian ada upaya membuka pasar. Kalau seluruh mata rantai ini dapat berjalan dengan baik, maka manfaatnya akan jauh lebih besar bagi warga binaan," pungkasnya.

Adapun PKM ini beranggotakan, Shinta Oktafien; Pipin Sukandi; Imanirrahma Salsabil; Nina Nurani; Darwis Agustriyana; Dwinto Martri Aji Buana; Indra Taruna Anggapradja; Nabila Tri Hapsari Najwar; dan Isra Detia Haloho.

(inh)