Bupati Arief Dorong Pengembangan Pertanian Organik di Kabupaten Blora

Pemkab Blora | CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 15:23 WIB
Pemkab Blora
(Foto: dok Pemkab Blora)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bupati Blora Arief Rohman menyatakan bahwa Kabupaten Blora merupakan penghasil beras terbesar nomer 6 se-Jawa Tengah, yang menjadikan Kabupaten Blora sebagai salah satu lumbung pangan utama bagi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Arief dalam Muktamar Petani Nahdliyyin di Pesantren Al-Itqon, Desa Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah pada Senin (10/8). Saat itu, ia memaparkan terkait pertanian organik Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama LPP NU dan jaringan petani Nahdliyin.

"Produksi Gabah Kering Giling (GKG) Kabupaten Blora pada tahun 2025 mencapai 530.818 ton, meningkat 106.407 ton atau 25.07 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 424.411 ton. Peningkatan produksi tersebut didukung oleh naiknya produktivitas (provitas) menjadi 50.98 kuintal per hektare, atau meningkat 0,96 kuintal per hektare (1.92 persen) dibandingkan tahun 2024," kata Arief.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sejalan dengan peningkatan produksi gabah, produksi beras Kabupaten Blora pada tahun 2025 juga mengalami peningkatan signifikan menjadi sekitar 305.252 ton. Jumlah tersebut naik 61.190 ton atau 25,07 persen dibandingkan produksi beras tahun 2024 yang mencapai sekitar 244.062 ton," lanjutnya.

Arief mengatakan, pertanian organik merupakan solusi masa depan yang tidak hanya menjaga kesehatan konsumen, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia berbahaya.

Bupati juga mendorong agar setiap desa menyediakan lahan bengkok minimal satu hektare sebagai lokasi uji coba pertanian organik.

"Jika satu desa bisa menyediakan 1 hektare tentunya di Blora ini ada 295 desa/kelurahan yang bisa ada juga 295 hektare pertanian organik," kata Arief.

Secara khusus, ia menyampaikan visi agar Blora menjadi salah satu sentra pertanian organik di Jawa Tengah. Visi itu pun diwujudkan antara lain lewat kolaborasi dengan PCNU.

Pemkab Blora saat ini juga tengah melakukan penjajakan kerja sama dengan BUMN seperti Pertamina, untuk mendukung pendampingan dan pembinaan petani.

"Kami ingin NU, khususnya LPPNU, terus menggerakkan semangat petani organik di setiap desa. Blora harus menjadi kabupaten percontohan di bidang pertanian organik," ujar Bupati.

Arief menjelaskan, bahwa pertanian organik adalah ikhtiar bersama untuk menjaga tanah, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menghadirkan pangan yang sehat bagi masyarakat.

"Ke depan, kami berharap kader NU sebagai petani binaan dapat menjadi bagian penting dalam menggerakkan pertanian organik di Kabupaten Blora. Tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelopor, penggerak, dan teladan bagi masyarakat dalam menerapkan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan," katanya.

Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh mengatakan, forum Muktamar Petani Nahdliyyin lahir dari kegelisahan bersama atas kondisi petani, khususnya warga NU yang selama ini menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.

Menurutnya, forum ini dimaksudkan sebagai ruang bagi petani Nahdliyin untuk berkumpul, menyampaikan aspirasi, serta memperjuangkan kepentingan mereka secara mandiri.

"Kegiatan ini adalah kegelisahan kita semua yang ada di Jawa Tengah dan lainnya. Muktamar petani ini lisensi Jawa Tengah, bukan berarti untuk menunjukkan perlawanan atau tandingan. Merupakan wadah petani-petani jamiyah NU yang berdaulat dan merdeka," pungkasnya.

(rea/rir)
placeholder