Kemenhut Tangkap Harimau Sumatera Terkam Ternak Warga di Sumbar
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bergerak menangani konflik antara masyarakat dengan Harimau Sumatera di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Berdasar keterangan tertulis Kemenhut, Harimau Sumatera itu disebut sebelumnya memangsa ternak warga dan berkeliaran di sekitar permukiman serta fasilitas publik, termasuk sekolah.
Setelah dilakukan pemasangan perangkap, satwa dilindungi itu akhirnya berhasil dievakuasi oleh tim BKSDA Sumatera Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan laporan mengenai serangan harimau terhadap ternak warga diterima Balai KSDA Sumbar pada Senin (10/8) sore.
"Pada hari Senin pukul 16.30 WIB Balai KSDA Sumbar menerima laporan dari masyarakat bahwa 2 ekor kambing milik warga menjadi korban terkaman Harimau Sumatera. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) segera turun ke lapangan untuk verifikasi," kata Ristianto dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8).
Berdasarkan hasil verifikasi di lapangan, petugas menemukan satu ekor kambing mati di dalam kandang dengan luka gigitan pada bagian leher.
Sementara satu kambing lainnya dibawa Harimau Sumatera ke semak-semak dan hanya menyisakan dua kaki bagian depan.
Lokasi kejadian menjadi perhatian karena berada cukup dekat dengan sejumlah fasilitas publik.
Ristianto menyebut lokasi tersebut berjarak sekitar 50 meter di belakang SDN 10 Palimbatan, sekitar 100 meter dari SMP Negeri 1 Palupuh, dan sekitar 150 meter dari Masjid Syukra.
Ia mengatakan keberadaan Harimau Sumatera di sekitar permukiman dan fasilitas pendidikan tersebut meningkatkan kekhawatiran masyarakat.
Sebelumnya, interaksi negatif antara harimau dan warga sebelumnya juga tercatat pada 31 Juli 2026 dengan korban berupa anjing dan kambing milik warga.
Ia menjelaskan karena frekuensi kejadian yang berulang dan masih berkeliarannya Harimau Sumatera di sekitar permukiman serta area sekolah, Balai KSDA Sumbar mengambil langkah penanganan dengan memasang perangkap jebak atau box trap pada Selasa (11/8) pukul 18.00 WIB.
Lalu, sekitar pukul 19.45 WIB, tim yang masih berada di sekitar lokasi menerima laporan dari penjaga SDN 10 Palimbatan bahwa Harimau Sumatera telah masuk ke dalam perangkap.
"Tim Balai KSDA Sumatera Barat, saat ini telah melakukan evakuasi terhadap Harimau Sumatera tersebut dengan berkoordinasi bersama Polsek Palupuh untuk memastikan proses evakuasi berlangsung aman dan terkendali. Evakuasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko terhadap satwa," kata Ristianto.
Setelah berhasil dievakuasi, Harimau Sumatera tersebut dititipkan pada lembaga konservasi untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Ia mengatakan penanganan cepat konflik Harimau Sumatera di Agam tersebut sejalan dengan kebijakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menempatkan mitigasi konflik manusia dan satwa liar sebagai bagian penting dari pengelolaan konservasi.
Ristianto menyebut dalam kasus di Palupuh, pemasangan box trap menjadi salah satu langkah mitigasi untuk mengurangi risiko interaksi berulang antara Harimau Sumatera dan masyarakat, khususnya karena lokasi kejadian berada berdekatan dengan sekolah dan fasilitas umum.
"Komitmen tersebut juga sejalan dengan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap perlindungan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati Indonesia," katanya.
(yoa/fra)
