JIAT Bantu Petani Banjar Amankan Pasokan Air di Tengah Ancaman El Nino
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, untuk mendukung swasembada pangan nasional. Infrastruktur ini memanfaatkan air tanah sehingga petani tetap punya sumber air saat curah hujan menurun akibat El Nino.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menyebut pembangunan JIAT menjadi langkah strategis menjamin ketersediaan air, terutama saat kemarau panjang. Sistem irigasi yang lebih andal ini diharapkan mendongkrak produktivitas pertanian secara signifikan.
"Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun meminta pengembangan JIAT tidak hanya berhenti pada pembangunan sumur dan pompa air tanah. Jaringan saluran tersier perlu dilengkapi agar air dapat mengalir lebih efektif hingga ke lahan pertanian.
Sebagai informasi, JIAT merupakan sistem irigasi yang memanfaatkan air tanah melalui sumur bor atau pompa untuk mengairi lahan pertanian. Sistem ini terutama digunakan di daerah yang belum terjangkau jaringan irigasi permukaan.
Salah satu pembangunan JIAT berada di Desa Bawahan Seberang, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar. Jaringan sepanjang 1 kilometer ini mampu mengairi 10,71 hektare lahan pertanian.
Infrastruktur tersebut dibangun oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin. Sumur dengan kedalaman 100 meter itu mampu menghasilkan debit air sekitar 3 liter per detik.
BWS Kalimantan III Banjarmasin juga membangun JIAT di Desa Bawahan Selan sepanjang 760 meter. Jaringan ini mengairi lahan pertanian seluas 13,30 hektare dengan sumur sedalam 126 meter yang menghasilkan debit air sekitar 3 liter per detik.
Pembangunan ini disambut antusias oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat, Waluyo. Dirinya berterima kasih atas bantuan sumur bor yang dibangun di desanya.
"Terima kasih kepada BWS Kalimantan III Banjarmasin yang telah membantu pembangunan sumur bor yang ada di desa kami. Mudah-mudahan dengan adanya bantuan dari Kementerian PU ini bisa meningkatkan taraf hidup petani yang ada di Desa Bawahan Selan, yang tadinya menanam padi setahun sekali, bisa menjadi dua kali, syukur-syukur bisa menjadi tiga kali," kata dia.
Dalam pengoperasiannya, sistem JIAT menggunakan listrik sebagai sumber daya utama. Genset disiapkan sebagai sumber daya cadangan agar layanan tetap berjalan saat pasokan listrik utama terganggu.
Air yang dihasilkan JIAT terutama dimanfaatkan sebagai air baku irigasi untuk mendukung swasembada pangan. Infrastruktur ini juga memberi manfaat tambahan bagi masyarakat berupa penyediaan air baku untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan adanya JIAT, petani tidak lagi hanya mengandalkan curah hujan harian. Proses bercocok tanam pun dapat berjalan lebih optimal dan teratur sepanjang tahun.
Langkah ini sejalan dengan Visi PU608 yang mengutamakan pembangunan infrastruktur berorientasi manfaat nyata bagi masyarakat. Pembangunan JIAT diharapkan turut mendorong produktivitas pertanian sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi di daerah.
(rir)