Kecurigaan Keluarga dan Komunikasi Terakhir Sutrimo Sebelum Tewas
Simpang siur penyebab kematian dan sejumlah kejanggalan membuat keluarga mencurigai kematian Sutrimo, pria yang disebut-sebut sebagai kepala rumah tangga (Karumga) mantan Jampidsus Febrie Adriansyah.
Sutrimo, pria asal Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, ditemukan tewas di depan klinik kecantikan Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel).
Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengungkapkan keluarga mempertanyakan penyebab dan kondisi kematian almarhum, dokumen dari rumah sakit dan ponsel hingga barang-barang almarhum yang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," kata Aan saat dihubungi wartawan melalui telepon, Senin (10/8).
Aan menuturkan, jenazah Sutrimo langsung dimakamkan saat tiba di rumah keluarga pada malam hari. Saat itu, keluarga tidak memiliki kecurigaan atas kematian Sutrimo.
Salah satu informasi awal yang diterima keluarga terkait kematian Sutrimo adalah gula darah almarhum menembus 600. Sutrimo disebut memang memiliki riwayat penyakit gula.
"Mereka datang jam 10 (malam) itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya," ujarnya.
Barang Sutrimo belum dikembalikan
Keluarga mulai merasa janggal saat tidak menerima barang-barang Sutrimo. Aan bilang, awalnya keluarga diberi tahu barang pribadi Sutrimo seperti ponsel akan dikirimkan menyusul. Namun, selang beberapa beberapa hari kemudian kan ada berita dan lain-lain.
"Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih," ucap Aan.
Aan mengatakan, keluarga juga berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi mereka mulai merasakan adanya kejanggalan, tetapi di sisi lain mereka takut berhadapan dengan perkara besar.
"Karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia. Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan, keluarga pasti direpotkan. Mereka ketakutan," kata dia.
Kecurigaan makin bertambah setelah barang pribadi seperti HP Sutrimo tak juga dipulangkan.
"Setelah kita lihat belakangan, HP enggak pulang-pulang. Dompet enggak pulang dan lain-lain. Ya mereka juga kecurigaannya bertambah," tutur Aan.
Sosok pengantar jenazah Sutrimo
Keluarga Sutrimo juga mempertanyakan orang yang mengantarkan jenazah. Aan mempertanyakan mengapa nomor telepon orang tersebut kini tidak aktif, padahal awalnya masih dapat dihubungi.
Aan menyebut keluarga Sutrimo memiliki keterbatasan. Mereka tidak memiliki kemampuan secara finansial untuk menghadapi proses panjang jika perkara tersebut dilaporkan.
"Mereka merasa, 'saya ini siapa'. Siapa yang menjamin kalau ada masalah? Mau wara-wiri saja pasti mengeluarkan uang. Sementara mereka itu untuk hidup saja susah. Kondisi emosional keluarga, terutama ibu Sutrimo, juga menjadi salah satu pertimbangan," ujarnya.
Tahu mulut Sutrimo berbusa dari formulir kronologi
Persoalan lain muncul setelah Aan memperoleh dokumen yang disebut berkaitan dengan kronologi kondisi Sutrimo sebelum meninggal.
Aan mengaku terkejut setelah menerima informasi bahwa dalam dokumen itu disebutkan soal busa yang keluar dari mulut dan hidung Sutrimo.
"Saya kaget, enggak ada loh. Kita enggak ada surat dari keterangan rumah sakit yang ada begitu. Kita semuanya bahwa memang ini, karena tidak lengkap. Justru tidak ada apapun gitu kan," katanya.
Menurut Aan, formulir kronologi tersebut tidak pernah disampaikan kepada pihak keluarga Sutrimo saat jenazah dipulangkan.
"Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu formulir kronologis tadi," ujar Aan.
Aan kemudian membandingkan dokumen yang diperolehnya dengan dokumen yang dimiliki keluarga Sutrimo. Dia menyebut terdapat kesamaan tanda tangan dalam formulir tersebut.
"Kita bandingkan tanda tangan dalam formulir, Febrio (Adiono) itu kan identik dengan yang ada di kami," ungkapnya.
Diminta balik Jakarta oleh Febrie
Dikatakan Aan, sebelum ditemukan tewas, Sutrimo sempat diminta balik Jakarta oleh atasannya, eks Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Polisi menggeledah kediaman Febrie pada 8 Juli lalu. Aan, berdasarkan keterangan yang didapat keluarga, menyebut Sutrimo pulang sehari setelah penggeledahan rumah Febrie.
"Dia pulang pada saat sehari setelah penggeledahan. Emang disuruh pulang sama bosnya (Febrie Adriansyah) katanya," ujar Aan.
Ketika itu, dalam teleponnya, Febrie meminta Sutrimo segera kembali ke Jakarta. Namun, Sutrimo menjawab bahwa dirinya tidak mempunyai uang untuk membeli tiket.
"Nah dia pulang memang ditelepon sama Pak Febrie. Pengakuan dari salah satu saksi, bosnya telepon. Intinya, 'kamu pulang saja (ke Jakarta), karena aku ini lagi kalau mau cerita sama siapa' gitu. Sutrimo menyampaikan, 'saya nggak punya uang, Bos'. Lalu dijawab tiket sudah disiapkan, uang sudah ditransfer, dan nanti kamu ditemani dua orang dari Stasiun Purwokerto," ujarnya.
Aan mengatakan, Sutrimo kemudian kembali lagi ke Jakarta sebelum 19 Juli 2026. Namun, tanggal pastinya belum dapat dipastikan karena sebagian riwayat percakapan WhatsApp di ponsel keluarga hilang.
"Pokoknya sebelum tanggal 19, 18 atau 19, saya enggak pasti karena saya lihat WA-nya mulai 19," jelasnya.
Komunikasi terakhir Sutrimo
Keluarga juga mengungkap komunikasi terakhir sebelum Sutrimo ditemukan tewas.
Aan menjelaskan, berdasarkan riwayat percakapan di WhatsApp yang masih bisa diakses, Sutrimo berkomunikasi secara normal.
Sutrimo sempat mengirim foto makanan yang disantapnya. Ia juga sempat menanyakan keponakan hingga mengirim momen kesehariannya.
"Pak Sutrimo ini orangnya penyayang. Selain menjaga ibunya, dia komunikasi baik dengan adiknya. Nanyain keponakannya setiap hari, minta video dan lain-lain," tutur Aan.
Aan mengungkap komunikasi terakhir Sutrimo yang dinilai penting dalam melihat kondisi almarhum sebelum ditemukan meninggal.
Menurutnya, pada 23 Juli, Sutrimo masih sempat mengirim foto makanan sekitar pukul 03.18 WIB.
"Terakhir (komunikasi) itu dari tanggal 19 sampai dengan 23 Juli. Dia terakhir jam 03.18 itu ngirim foto makanan," kata Aan.
Sutrimo disebut mengirim foto makanan berupa ayam goreng lengkap dengan lalapan seperti menu ayam goreng Lamongan.
"Makanannya ayam goreng, ayam goreng Lamongan, piringnya hijau. Jadi ayam goreng, lalapan, kayak Lamongan gitu," jelasnya.
Kemudian, sekitar pukul 04.00 WIB, Sutrimo kembali mengirim foto.
Foto itu, dia terlihat sedang duduk di seberang rumah utama milik eks Jampidsus Febrie Adriansyah.
"Jam 04.00 dia juga ngirim foto dia lagi duduk di seberang rumah utamanya Pak Febrie," ujar Aan.
Aan berkata adik Sutrimo baru membalas pesan itu sekitar pukul 06.00 WIB. Adiknya mengirim video anaknya. Namun, pesan adiknya hanya dibaca, tidak dibalas.
"Jam enam itu baru sadar belakangan. Saya bilang ini dibaca ya? Iya dibaca, langsung. Tapi memang, kenapa nggak balas?" kata Aan.
Kemudian, sekitar pukul 08.00 WIB, ponsel keluarga mendapat panggilan dari nomor milik Sutrimo. Panggilan tersebut baru diangkat sekitar pukul 08.30 WIB.
Namun, bukan Sutrimo yang berbicara di ujung telepon. Orang tersebut mengaku sebagai teman Sutrimo dan menyampaikan kabar bahwa Sutrimo telah meninggal dunia.
"Dua jam setengah kemudian ya. Ternyata jam delapan itu hapenya Mbak Anies ada telepon panggilan dari Pak Sutrimo. Dari nomor HP Sutrimo berkali-kali, baru diangkat jam 08.30," ujar Aan.
"Ternyata yang telepon itu adalah orang mengaku temannya Pak Sutrimo. Mengabarkan Pak Sutrimo jam 08.30 itu sudah tidak ada (meninggal dunia)," pungkasnya.
Baca selengkapnya di sini...
(tim/wis)[Gambas:Video CNN]


