Sebelum Ditemukan Tewas, Sutrimo Kirim Foto Rumah Febrie ke Keluarga
Kepolisian akan melakukan proses ekshumasi untuk menangani kasus misteri temuan jasad pria yang disebut sebagai Kepala Rumah Tangga (Karumga) eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Sutrimo di Jakarta Selatan (Jaksel).
Ekshumasi adalah proses penggalian atau pembongkaran kembali makam atau kuburan untuk mengangkat jenazah yang sudah dikubur. Proses itu dilakukan untuk memastikan kembali kasus kematian yang dianggap janggal.
Keluarga Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas mengungkap komunikasi terakhir almarhum sebelum ditemukan meninggal dunia. Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengatakan korban masih aktif mengirim pesan dan foto kepada keluarganya hingga dini hari, termasuk foto makanan dan aktivitasnya di sekitar almarhum tinggal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aan lalu membeberkan komunikasi terakhir dan foto yang dikirim ke pihak keluarga sebelum Sutrimo ditemukan meninggal dalam kondisi mencurigakan. Dia mengatakan komunikasi terakhir Sutrimo penting untuk melihat kondisi almarhum sebelum ditemukan meninggal.
Menurutnya, pada 23 Juli 2026, Sutrimo masih sempat mengirim foto makanan kepada pihak keluarga di Banyumas sekitar pukul 03.18 WIB.
"Terakhir (komunikasi) itu dari tanggal 19 sampai dengan 23 Juli. Dia terakhir jam 03.18 itu ngirim foto makanan," kata Aan saat dihubungi wartawan lewat telepon, Senin (10/8) dikutip dari detikJateng.
Foto tersebut memperlihatkan makanan berupa ayam goreng lengkap dengan lalapan. Aan menyebut makanan tersebut seperti menu ayam goreng Lamongan.
"Makanannya ayam goreng, ayam goreng Lamongan, piringnya hijau. Jadi ayam goreng, lalapan, kayak Lamongan gitu," jelasnya.
Tak berhenti di situ. Sekitar pukul 04.00 WIB, Sutrimo kembali mengirim foto. Kali ini, dia terlihat sedang duduk di seberang rumah utama milik eks Jampidsus Febrie Adriansyah.
"Jam 04.00 dia juga ngirim foto dia lagi duduk di seberang rumah utamanya Pak Febrie," ujar Aan.
Dia mengatakan saat Sutrimo mengirim foto itu adiknya belum bangun. Baru kemudian, sekitar pukul 06.00 WIB, adiknya membalas pesan sekaligus mengirimkan video anaknya--yang merupakan keponakan Sutrimo.
Aan mengatakan pesan tersebut kemudian ada laporan sudah dibaca penerima, tapi tak ada balasan dari Sutrimo.
"Jam enam itu baru sadar belakangan. Saya bilang ini dibaca ya? Iya dibaca, langsung. Tapi memang, kenapa nggak balas?" kata Aan.
Kemudian, sekitar pukul 08.00 WIB, ponsel keluarga mendapat panggilan dari nomor milik Sutrimo. Panggilan tersebut baru diangkat sekitar pukul 08.30 WIB.
Namun, bukan Sutrimo yang berbicara di ujung telepon. Orang tersebut mengaku sebagai teman Sutrimo dan menyampaikan kabar bahwa korban telah meninggal dunia.
"Dua jam setengah kemudian ya. Ternyata jam delapan itu hapenya Mbak Anies ada telepon panggilan dari Pak Sutrimo. Dari nomor HP Sutrimo berkali-kali, baru diangkat jam 08.30," ujar Aan.
"Ternyata yang telepon itu adalah orang mengaku temannya Pak Sutrimo. Mengabarkan Pak Sutrimo jam 08.30 itu sudah tidak ada (meninggal dunia)," kata Aan.
Soal keluhan sakit
Terkait dugaan gangguan kesehatan, Aan mengatakan sebelumnya Sutrimo memang sempat mengeluh ke pihak keluarganya di Banyumas soal kondisi kaki yang bengkak. Namun, keluhan itu disampaikan di Banyumas, sebelum kembali ke Jakarta.
"Kalau sebelum berangkat ya ngeluh, bengkak kakinya. Tapi memang karena gulanya sudah lama. Bengkak kakinya itu diblonyoh sama ibunya dan lain-lain," kata Aan
Namun, menurut Aan, berdasarkan riwayat percakapan pada aplikasi WhatsApp yang masih dapat dibuka, tidak terlihat adanya keluhan sakit dari Sutrimo pada 19-23 Juli 2026.
"Kalau dari tanggal 19 sampai tanggal 23 itu tidak pernah ada WA ngeluh sakit," ujarnya.
Aan menjelaskan sebelumnya komunikasi Sutrimo dengan keluarga terlihat normal. Dia mengatakan Sutrimo rutin berkomunikasi dengan adiknya, menanyakan kabar keponakan, hingga mengirimkan foto dan video aktivitas sehari-hari.
"Pak Sutrimo ini orangnya penyayang. Selain menjaga ibunya, dia komunikasi baik dengan adiknya. Nanyain keponakannya setiap hari, minta video dan lain-lain," tutur Aan
Aan menegaskan, isi komunikasi Sutrimo dengan keluarga pada 19-23 Juli 2026 justru menunjukkan aktivitas yang biasa dan tidak memperlihatkan adanya keluhan mengenai kondisi kesehatan.
Sutrimo bahkan disebut sempat mengirim foto sejumlah aktivitasnya, termasuk ketika makan bersama ajudan Pak Febri dan saat mendapat hadiah minyak wangi.
"Di dalam WA malah dari tanggal 19 sampai 23 itu happy-happy saja. Sampai ngirim foto bahwa dia baru dibeliin minyak wangi sama ajudannya Pak Febrie. Makan di Soto Kudus Blok M sama ajudannya Pak Febrie," ungkapnya.
Menurut Aan, Sutrimo juga memiliki hubungan baik dengan ajudan tersebut.
"Ajudannya baik sama Pak Sutrimo. Jadi tidak ada keluhan sama sekali selama 19 sampai 23," imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan teka-teki kematian Sutrimo yang ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mulut berbusa di depan klinik kecantikan Mordent di kawasan Jakarta Selatan (Jaksel) masih belum diketahui.
Pihak keluarga, awalnya tidak menaruh kecurigaan apa pun saat menerima jenazah almarhum. Namun, belakangan keluarga mulai mempertanyakan sejumlah kejanggalan, mulai dari dokumen rumah sakit, kondisi jenazah, hingga ponsel dan barang pribadi yang disebut tak kunjung dikembalikan.
Aan mengatakan pihak keluarga pada awalnya menerima jenazah dalam kondisi sudah dikafani dan dibersihkan sehingga tidak melihat adanya sesuatu yang mencurigakan.
"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," kata Aan saat dihubungi melalui telepon, Senin (10/8).
Namun, belakangan kecurigaan muncul sehingga pihak keluarga pun melaporkan dugaan kematian tak wajar itu ke polisi di Banyumas yang lalu diteruskan ke Polda Metro Jaya.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/kid)[Gambas:Video CNN]