Kebakaran KMP Mutiara Sentosa, Publik Diminta Tunggu Investigasi KNKT

CNN Indonesia
Senin, 10 Agu 2026 01:00 WIB
Rescue team members carry a man after a Mutiara Sentosa 2 ferry caught fire off Indonesia's Madura island, at Tanjung Perak port in Surabaya, East Java province, Indonesia, August 3, 2026. REUTERS/Dipta Wahyu
KMP Mutiara Sentosa II terbakar di Sumenep Madura. (REUTERS/Dipta Wahyu)
Jakarta, CNN Indonesia --

KMP Mutiara Sentosa II terbakar di perairan utara Sumenep, Madura, Jawa Timur (Jatim). Berdasarkan data terakhir Basarnas, Selasa (4/8), sebanyak 238 orang yang ada di kapal tersebut sudah dievakuasi. Ada 233 di antaranya ditemukan dalam kondisi selamat, sedangkan lima orang lainnya dinyatakan meninggal dunia.

Kordinator Komunitas Pengguna Kapal Penyeberangan Nusantara (KPK-PN) Maruly Hendra Utama, berharap publik memberikan ruang dan waktu kepada otoritas Komite Nasional Keselamatan transportasi (KNKT) dalam melakukan investigasi soal penyebab kecelakaan yang makan korban jiwa itu.

"Masyarakat diharapkan bisa memberikan ruang dan waktu kepada otoritas yang berwenang dalam hal ini KNKT agar bisa lakukan investigasi musibah yang ada dan merilis rekomendasi resmi agar kejadian tidak berulang di masa depan" urai Maruly lewat keterangan tertulis, Minggu (9/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sambil menunggu KNKT, ia berharap pemilik kapal dan otoritas lainnya agar bisa berkonsentrasi pada penyelamatan, pemulihan dan konsolidasi data kerugian pada korban.

"Saatnya kita berkonsentrasi penuh untuk selalu dan terus berpihak pada korban," lanjutnya.

Lebih jauh Maruly juga berharap hasil investigasi dan rekomendasi KNKT bisa dibuka seluruhnya ke publik. Hasil rekomendasi bisa memberikan pembelajaran dan mitigasi yang lebih serius agar kejadian serupa tidak lagi terjadi.

Berdasarkan catatan, pada Mei 2017 lalu, KM Mutiara Sentosa 1 terbakar hebat di perairan Masalembu (rute Surabaya-Balikpapan) dan menelan korban jiwa.

Ke depan, ia menyarankan kepada para pengguna jasa transportasi laut untuk memberikan informasi yang benar mengenai barang yang dibawa dan tegas terhadap hak keselamatan dan jumlah penumpang kapal.

Selain itu, operator kapal dan otoritas pelabuhan juga wajib memastikan seluruh proses pemuatan penumpang, kendaraan dan barang-barang yang dibawa sesuai prosedur keselamatan.

"Termasuk memastikan tidak terdapat barang berbahaya atau mudah terbakar yang diangkut tanpa melalui mekanisme pemeriksaan dan pengemasan sebelum loading/muat ke Kapal. Sebab pengecekan barang/orang/kendaraan sebagai angkutan ke kapal tersebut ada di wilayah kewenangan kerja bagian pelabuhan," katanya.

Salah satu dugaan penyebab banyak korban kapal tersebut diduga tak memiliki sekoci atau perahu penyelamat yang biasa digunakan dalam keadaan darurat.

Tak adanya sekoci itulah yang memicu para penumpang dan awak kapal justru menyelamatkan diri dengan melompat ke laut, hanya dengan bekal life vest atau rompi pelampung.

KPK-PN kemudian membantah rumor yang disiarkan di sejumlah podcast dan media sosial perihal KMP Mutiara Sentosa 2 dimiliki oleh dua pengusaha besar di Indonesia.

"Mari kita percaya pada KNKT dalam melakukan investigasi dan rekomendasinya, tanpa bergeser menduga-duga atau ujaran fitnah di platform sosial media," katanya.

Ia kembali menekankan KNKT bekerja sesuai dengan peraturan yang melingkupinya yakni Undang-Undang nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, Peraturan Pemerintah nomor 62 tahun 2013 tentang Investigasi Kecelakaan Transportasi, Peraturan Presiden nomor 2 tahun 2012 tentang Komite Nasional Keselamatan Transportasi.

Basarnas akhiri monitoring

Sementara itu, Basarnas mengakhiri monitoring aktif KMP Mutiara Sentosa II setelah empat hari melakukan penyisiran dan pemantauan di perairan utara Pulau Madura, Jawa Timur.

Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya Nanang Sigit PH mengatakan keputusan tersebut diambil pada hari ketujuh setelah insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II karena tidak ditemukan indikasi keberadaan kapal maupun korban yang mungkin masih belum ditemukan.

"Dengan tidak adanya tanda-tanda korban yang mungkin belum ditemukan, maka kami mengakhiri kegiatan monitoring aktif," kata Nanang mengutip Antara. Minggu.

(tim/dal)


[Gambas:Video CNN]