Walkot Eri Minta Pengelola Mal Bongkar Pagar Tinggi: Surabaya Ini Aman

CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026 07:38 WIB
Sejumlah mal di bawah Pakuwon Group di Surabaya mendadak melakukan pemasangan pagar mengelilingi areanya. Hal itu kemudian memicu perbincangan publik Surabaya di media sosial. Banyak warganet mengaitkan hal itu merupakan antisipasi isu lesunya ekonom
Sejumlah pusat perbelanjaan di Surabaya memasang pagar tinggi. (CNN Indonesia/ Farid)
Surabaya, CNN Indonesia --

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta pengelola mal di Kota Pahlawan tidak meninggikan pagarnya. Menurutnya Surabaya adalah kota yang aman dan masyarakat tak perlu khawatir.

Eri mengaku ia telah bertemu dengan sejumlah pengelola mal. Di pertemuan itu, ia menyarankan agar para pengelola tak perlu melakukan hal itu. Sebab, menurutnya pagar yang tinggi hanya akan merusak estetika bangunan mal.

"Jadi insyaallah nanti kami koordinasikan, yang saya ingin ketika ada pagar itu ada, orang jalan itu semakin terang, tidak terlalu tinggi yang mencerminkan orang itu merasa takut gitu. Padahal kota Surabaya ini aman," kata Eri, Rabu (5/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski diemikian, Eri menegaskan ia tidak meminta pengelola untuk membongkar pagar mal, akan tetapi hanya menurunkan tingginya.

"Kenapa kami tidak menyampaikan itu (pembongkaran pagar) karena tidak semua mal di Surabaya begitu. Hanya dua atau tiga mal saja," ucapnya.

Eri juga menegaskan, pembangunan pagar itu bukan untuk untuk mengantisipasi adanya aksi massa. Melainkan untuk faktor keamanan pengunjung yang akan berkunjung ke mal.

Misalnya, kata Eri, seperti di Tunjungan Plaza Mal. Pengunjung yang masuk dan keluar mal seringkali menyeberang sembarangan ketika melewati Jalan Basuki Rahmat. Hal itu justru akan membahayakan pengunjung mal dan pengendara yang melintas.

"Kalau orang menyeberang kan langsung di depan itu, jadi orang lompat menyeberangi. Kami juga sering tegur, agar orang tidak menyeberang di depan Tunjungan Plaza, karena sudah ada JPO (Jembatan Penyeberangan Orang)," ucapnya.

"Mereka (pemilik mal) menyampaikan, diberi pagar sehingga bisa keluar ke kanan atau kiri dan bisa dipantau. Tapi saya bilang pagarnya jangan terlalu tinggi, dipikir nanti ada apa-apa atau rasa kekhawatiran, padahal tidak seperti itu," tambah Eri.

Eri menyampaikan, Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya juga telah memasang barrier atau pembatas beton di Jalan Basuki Rahmat. Hal ini dilakukan agar pengunjung mal atau pejalan kaki tidak langsung menyeberang jalan tersebut, sehingga bisa memanfaatkan JPO ketika akan menyeberang.

Menurutnya, pemasangan barrier beton tersebut untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengendara. Sebab, jika menggunakan barrier bahan plastik, maka pembatas itu akan mudah digeser sehingga membahayakan pengendara yang melintas.

Fenomena sejumlah pusat perbelanjaan atau mal yang memasang pagar tinggi di area depan gedung belakangan ramai menjadi perbincangan di media sosial.

Pemasangan pagar terlihat di sejumlah mal di berbagai daerah, termasuk Mal Kota Kasablanka di Jakarta dan beberapa mal di bawah pengelolaan Pakuwon Group di Surabaya.

Sebelumnya, sejumlah mal di bawah Pakuwon Group di Surabaya mendadak melakukan pemasangan pagar mengelilingi areanya. Hal itu kemudian memicu perbincangan publik Surabaya di media sosial. Banyak warganet mengaitkan hal itu merupakan antisipasi isu lesunya ekonomi. Namun pengelola dengan tegas membantahnya.

Setidaknya mal-mal milik Pakuwon Group yang mulai membangun pagar di sekeliling areanya ialah Pakuwon Mall di Surabaya Barat, Royal Plaza di Surabaya Selatan, Pakuwon City Mall di Surabaya Timur dan Tunjungan Plaza di Surabaya Pusat.

Pantauan CNNIndonesia.com di kawasan Pakuwon Mall, tampak sudah terpasang pagar setinggi sekitar 2,5 meter, berbahan besi model palisade berwarna hijau dengan ujung meruncing. Pagar itu memisahkan area parkir dan pintu masuk mal dari akses pejalan kaki di trotoar.

Sementara itu, pantauan di Royal Plaza, tampak pembangunan pagar masih berlangsung. Sejumlah kolom pagar yang terdiri dari beton dan besi runcing dengan perkiraan tinggi sekitar 3 meter sudah terpasang. Tapi sebagiannya lagi masih dalam proses pengerjaan.

Saat dikonfirmasi, Direktur Marketing Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi pun membantah pembangunan pagar di sejumlah mal milik grupnya berkaitan dengan persoalan lesunya ekonomi. Ia menegaskan pihaknya tidak melakukan antisipasi terhadap kondisi tertentu, termasuk situasi sosial-politik.

"Tidak ada antisipasi apapun. Kita yakin Indonesia aman sejahtera gitu kan NKRI harga mati gitu," kata Sutandi saat dikonfirmasi, Jumat (17/7).

Ia menegaskan kondisi ekonomi Indonesia atau pada bisnis retail Pakuwon Group justru sedang tumbuh baik pada semester pertama 2026.

"Kalau ekonomi tidak baik-baik saja, justru sebenarnya Pakuwon Group ini sedang bagus di semester pertama tahun 2026 ini," ucapnya.

[Gambas:Youtube]

Ia menjelaskan seluruh laporan keuangan Pakuwon Group dapat diakses secara terbuka lantaran perusahaan berstatus terbuka atau Tbk. Menurutnya, kondisi penjualan di sektor retail Pakuwon Group juga tetap baik selama masa libur sekolah dua pekan terakhir.

"Pakuwon ini kan Tbk, jadi bisa dicek laporan keuangan yang kita buat. Dan kalau kondisi retail pun sampai kemarin libur sekolah, semua baik-baik saja," ucapnya.

Sutandi menganalogikan pembangunan pagar mal dengan pagar rumah pribadi. Menurutnya, fungsi utama pagar adalah untuk keamanan, tanpa perlu dikaitkan dengan ancaman tertentu.

"Misal netizen punya rumah, punya pagar. Fungsinya untuk apa sih? Fungsinya untuk apa? Pagar untuk apa? Ya, pasti pertama untuk keamanan dong. Ya, kan? Tapi keamanan dari apa? Kan kita enggak tahu. Betul enggak?," ujarnya.

(frd/isn)


[Gambas:Video CNN]