Ombak Tak Bersahabat, Warga Pulau Bawean Carter Pesawat Demi Rujuk Ibu

CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026 22:44 WIB
Pengusaha di Pulau Bawean mencarter pesawat Rp110 juta demi ibunya guna dirujuk ke Surabaya karena gelombang tinggi yang membuat pelayaran terkendala.
Ilustrasi pesawat. (istockphoto/Björn Forenius)
Jakarta, CNN Indonesia --

H Ridwan, seorang pengusaha asal Desa Sungaiteluk, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, harus merogoh kocek hingga Rp110 juta untuk mencarter pesawat demi mengevakuasi ibunya yang membutuhkan perawatan lanjutan ke rumah sakit di Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Langkah itu diambil Ridwan setelah stok oksigen medis di RSUD Umar Mas'ud Bawean menipis akibat kapal logistik tak bisa berlayar selama beberapa hari, karena gelombang laut tinggi di jalur Gresik-Bawean.

Ibu Ridwan, Minasuha, sebelumnya menjalani perawatan intensif selama lima hari-- dua hari di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan tiga hari di ruang Intensive Care Unit (ICU) di RSUD Umar Mas'ud, Bawean.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, kondisi pasien yang masih membutuhkan bantuan oksigen membuat keluarga tak tinggal diam.

Pasien akhirnya diterbangkan dari Bandara Harun Thohir Bawean menuju Bandara Juanda Surabaya menggunakan pesawat Susi Air yang disewa secara penuh tanpa penumpang lain, Sabtu (1/8).

Ridwan mengatakan keputusan mencarter pesawat diambil usai memperoleh informasi bahwa persediaan oksigen di rumah sakit semakin terbatas karena distribusi dari Gresik terhambat cuaca ekstrem.

"Informasi yang saya dapat, persediaan oksigen menipis karena sudah beberapa hari tidak ada kapal berlayar. Kalau tidak dirujuk, oksigen yang dipakai ibu saya diperkirakan hanya bertahan sampai Minggu sore," kata Ridwan, Rabu (5/8).

Untuk menerbangkan satu pasien dari Bawean ke Surabaya, Ridwan harus merogoh kocek biaya sekitar Rp110 juta hanya untuk menyewa pesawat, belum termasuk berbagai kebutuhan lainnya.

Tak hanya uang. Pasalnya, kata Ridwan proses evakuasi pasien melalui jalur udara juga harus memenuhi berbagai persyaratan medis yang ditetapkan maskapai penerbangan.

"Sewa langsung ke Susi Air Rp110 juta. Tapi uang saja tidak cukup. Semua formulir dan persyaratan medis harus dipenuhi terlebih dahulu. Belum lagi biaya lainnya," ucapnya Ridwan.

Meski menghadapi situasi darurat dan biaya yang sangat besar, Ridwan memberikan apresiasi kepada tenaga kesehatan RSUD Umar Mas'ud Bawean.

Ia menilai pelayanan dokter, perawat, hingga petugas di ruang UGD, ICU, dan rawat inap sangat profesional serta sigap mendampingi pasien. Baginya, persoalan utama bukan terletak pada pelayanan rumah sakit, melainkan keterbatasan pasokan oksigen yang sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut menuju Pulau Bawean.

Ia berharap kejadian yang dialami keluarganya menjadi pelajaran penting agar pemerintah dan pihak terkait menambah cadangan atau buffer stock oksigen medis di Bawean sebagai langkah antisipasi ketika cuaca ekstrem kembali melumpuhkan jalur pelayaran.

"Pelayanannya sangat bagus, ramah, dan responsif. Hanya saja persediaan oksigen perlu ditambah untuk antisipasi. Cuaca di jalur Bawean-Gresik sulit diprediksi sehingga stok cadangan sangat penting," ungkapnya.

Respons pemerintah

Merespons hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik bergerak menyiapkan pengiriman darurat sebanyak 40 tabung oksigen medis untuk RSUD Umar Mas'ud Bawean.

Langkah tersebut diambil setelah cuaca ekstrem yang melanda perairan Gresik-Bawean menghentikan aktivitas pelayaran dan menghambat distribusi logistik kesehatan ke wilayah kepulauan tersebut.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, drg Setyo Susilo menegaskan bahwa pihaknya langsung menyiapkan puluhan tabung oksigen darurat begitu mendapati persediaan di RSUD Umar Mas'ud mulai menipis.

"Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan menjadi kendala utama dalam distribusi logistik kesehatan ke Bawean. Selama periode 28 Juli hingga 4 Agustus, kapal menuju Bawean tidak beroperasi akibat cuaca buruk sehingga pengiriman logistik kesehatan, termasuk oksigen medis, tidak dapat dilakukan," kata Setyo,

"Saat stok oksigen di RSUD Umar Mas'ud mulai menipis pada 1 hingga 3 Agustus, kami langsung menyiapkan pengiriman darurat sebanyak 40 tabung oksigen. Kami berharap kondisi cuaca membaik dalam satu hingga dua hari ke depan agar distribusi dapat segera dilakukan," tambahnya.

Selain 40 tabung oksigen untuk pengiriman darurat, Dinkes Gresik juga telah menyiapkan pasokan lanjutan sebanyak 80 tabung oksigen yang siap diberangkatkan segera setelah kapal barang kembali berlayar dari Pelabuhan Sidayu.

Untuk mempercepat penyaluran bantuan medis tersebut, Dinkes Gresik berkoordinasi intensif dengan Dinas Perhubungan, Syahbandar, serta pihak terkait di Paciran dan Lamongan. Bahkan, jika cuaca buruk berlangsung lebih lama, maka skenario distribusi darurat bekerja sama dengan Koarmada II TNI AL telah disiapkan.

(frd/kid)


[Gambas:Video CNN]