Siswa di Pati Diduga Jadi Korban Bullying Hingga Dua Jari Putus

CNN Indonesia
Minggu, 02 Agu 2026 21:20 WIB
ilustrasi Perundungan, ilustrasi Bullying, ilustrasi Bully
Siswa di Pati di-bully kakak kelas kemudian lari hingga naik pagar kemudian tangannya terjepit hingga putus dua jari. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Siswa kelas 7 MTS di Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati diduga menjadi korban bullying atau perundungan oleh kakak kelasnya hingga dua jari tangan kiri putus. Diduga, aksi bullying ini dipicu masalah saling ejek nama orang tua.

Kuasa hukum korban dari LBH Garda Muda Nusantara Cabang Pati, Catur Andi Cahyanto mengatakan peristiwa itu telah resmi dilaporkan ke pihak berwajib pada Sabtu (1/8) kemarin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Catur mengatakan dugaan bullying yang dialami korban terjadi di MTS wilayah Kecamatan Margorejo pada Senin (27/7) lalu selepas salat Zuhur.

"Kejadian Senin(27/6) mereka itu ada kegiatan salat Zuhur di lingkungan MTS, setelah salat itu ada tenggang waktu 15 menit untuk istirahat," kata dia kepada wartawan saat ditemui di Polresta Pati, seperti dikutip dari detik.com, Minggu (2/8).

Catur mengatakan korban dan tiga terduga pelaku diduga saling ejek nama orang tua. Dari situ lalu terjadi keributan hingga korban dianiaya oleh tiga siswa yang merupakan kakak kelasnya.

Korban kemudian berusaha berlari mencari perlindungan sampai ke dalam kelas. Korban juga sempat berlari ke dalam kelas.

Namun di kelas korban pun dianiaya oleh para pelaku. Korban lalu lari dan sampai ke pagar besi yang ada di dekat kamar mandi dan tempat wudu.

Di situ, korban kembali dianiaya. Karena kondisi tersebut korban lalu manjat naik pagar yang setinggi sekitar 2 meter dan tangannya terjepit pagar hingga putus dua jari.

"Terus korban ini melarikan diri ke arah kamar mandi tempat wudu yang ada pagarnya. Di sini juga terjadi penganiayaan juga. Korban berusaha melompat pagar itu masih disiram air," tutur dia.

"Sehingga korban berusaha lompat pagar, setinggi 2 meter. Karena pagar ada kayu dan besi, mungkin manjat nggak tahu setelah turun tangan kiri terjepit, sehingga 2 jari terputus dan satu yang retak itu," lanjutnya.

Catur menyebut ada satu jari korban yang putus tertinggal di pagar. Kemudian, oleh guru MTS awalnya diminta untuk mengubur di lingkungan sekitar.

"Ada bekas jari yang masih tertinggal di pagar, oleh guru diambil perintah siswa terus dikubur," jelasnya.

Disampaikan Catur, kondisi korban sudah membaik setelah dirawat di rumah sakit. Korban pun mendatangi pemeriksaan keterangan di Polresta Pati hari ini.

"Terus dibawa ke KSH, kemudian jari disusul harapannya bisa disambung bahkan sempat dibawa ke Solo. Cuman karena sudah terinfeksi di tanah tidak bisa disambung khawatir menimbulkan luka lain," ujarnya.

Hingga saat ini, polisi belum memberikan keterangan lebih lanjut lagi. Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadian Widya, saat dihubungi tengah berada di luar kota.

Sebelumnya, Kepala MTS, Safi'i mengatakan bahwa kejadian tersebut bukan bullying. Namun, insiden murni dari kecelakaan yang tidak ada unsur kesengajaan.

"Menyatakan kejadian yang ada bahwa sebetulnya murni dari insiden atau kecelakaan yang tidak ada unsur kesengajaan atau pembullyan," kata Safi'i ditemui wartawan di MTS wilayah Margorejo, Sabtu (1/8).

(dis/fea)


[Gambas:Video CNN]