Polisi Gelar Sayembara Rp20 Juta Tangkap Erlan Kasus Sekdin Bangkalan

CNN Indonesia
Rabu, 08 Jul 2026 20:45 WIB
Erlan, terduga pelaku pembunuhan Sekretaris Dinas PRKP Pemkab Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati
Penyidik Polda Jatim Buka Sayembara Rp20 Juta Tangkap Terduga Pembunuh Sekdin Bangkalan. (Dok. Istimewa)
Surabaya, CNN Indonesia --

Penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur membuka sayembara sebesar Rp20 juta bagi orang yang memberikan petunjuk keberadaan Erlan alias E, terduga pelaku pembunuhan Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemerintah Kabupaten Bangkalan berinisial RYS (51).

Diketahui RYS sebelumnya ditemukan dalam kondisi tewas misterius di dalam mobil dinas di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Rabu (24/6) lalu.

Kepala Tim (Katim) Opsnal Unit III Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim Aipda Sigit Dwi Susanto mengatakan, sayembara sebesar Rp20 juta tersebut murni inisiatif mandiri para penyidik dan dana pribadi dari dirinya bersama sejumlah rekan, bukan anggaran dinas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Siap [sayembara] dari kami pribadi. Dari awal kami sampaikan dana pribadi mas. Alhamdulillah banyak informasi yang kami dapat dari netizen dan ini mulai kami dalami informasi-informasi tersebut. Semoga ada yg bisa menuntun kami menangkap pelaku," kata Sigit yang akrab disapa Hellboy ini kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/7).

Sigit menjelaskan, langkah tersebut diambil lantaran video dan informasi soal terduga pelaku telanjur viral di berbagai media, sehingga membuat target semakin sering berpindah-pindah lokasi.

Sayembara yang ia umumkan di akun TikTok pribadinya @hellboyjatanraspolda itu pun disebut sebagai cara untuk mempersempit ruang gerak Erlan dengan melibatkan partisipasi warganet.

"Karena kan sudah terlanjur viral banyak media yang ngungkap video terduga pelaku, Mas. Jadi pelaku semakin berpindah-pindah, akhirnya kami inisiatif Mas, inisiatif pribadi untuk mempersempit ruang pelaku bergerak, Mas," katanya.

"Jadi biar semua netizen peduli akhirnya pelaku nanti kalau lari ke ke mana pun kan akhirnya dia nginfokan ke kita gitu, Mas," imbuhnya.

Sigit mengungkapkan, ide sayembara itu sebenarnya berasal dari seorang tokoh organisasi yang tidak ingin disebutkan namanya. Dia menawarkan bantuan dana usai melihat rekam jejak timnya menangani sejumlah kasus pembunuhan lain.

Terkait total dana yang terkumpul, Sigit mengonfirmasi nominal yang disepakati untuk disampaikan ke publik adalah Rp20 juta, meski ia menyebut kemungkinan dukungan dari pihak lain masih terus bertambah.

"Ya, pokoknya terungkap ya nanti pastinya banyak yang mau bantu, Mas. Ya sementara ini Rp20 juta dulu," ujarnya.

Ia mengakui pengejaran terhadap Erlan tidak mudah karena yang bersangkutan diduga masih memiliki jaringan yang menampungnya berpindah-pindah tempat.

"Masalahnya kan dia masih ada yang nampung, pindah masih ada yang nampung," ujarnya.

Sigit menambahkan, penyidik saat ini masih terus mendalami sejumlah informasi dan video CCTV yang dikirimkan masyarakat terkait keberadaan terduga pelaku.

"Kebetulan di admin yang kami pas kan itu ada beberapa info yang menarik. Insyaallah semoga bisa membantu mempercepat ketangkepnya ini. Dan ini masih kami dalami pokoknya," ucapnya.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemerintah Kabupaten Bangkalan berinisial RYS (51) ditemukan tak bernyawa secara misterius di dalam mobil dinas di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Rabu (24/6).

Dugaan pembunuhan itu menguat setelah tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong menemukan sejumlah indikasi kekerasan pada tubuh korban. Pemeriksaan luar menunjukkan adanya luka robek pada cuping telinga kiri akibat benturan benda tumpul.

Selain itu, dokter forensik juga menemukan pelebaran pembuluh darah pada kelopak mata dan kebiruan pada bibir yang lazim dijumpai pada korban meninggal akibat mati lemas atau asfiksia. Pemeriksaan organ dalam turut memperlihatkan perubahan warna pada lidah, epiglotis, saluran napas bagian atas, hingga dinding lambung.

Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya, mengatakan pihaknya sudah mengantongi nama terduga pelaku yang disebutnya dengan inisial E. Hal itu diketahui pihaknya melalui unggahan media sosial terakhir korban dan terduga pelaku.

Sosok E, kata Risang juga diyakini sebagai pria misterius yang terakhir kali bersama korban. Hal itu sebagaimana terekam dalam kamera CCTV di area Bandara Internasional Juanda Surabaya.

Keduanya diketahui bepergian bersama ke daerah Malang dan Batu beberapa hari sebelum mayat RYS ditemukan dalam keadaan kaku di dalam mobil dinasnya di parkiran Terminal 1 Bandara Juanda, Surabaya, Rabu (24/6) lalu.

Risang mengungkapkan, jejak keberadaan terduga pelaku sempat terlacak di wilayah Jawa Tengah, meski hingga kini yang bersangkutan diduga terus berpindah-pindah lokasi dan tidak menetap di alamat resminya di kawasan Malang.

"Iya, sempat terlacak di wilayah Jawa Tengah. Tapi ini berpindah-pindah. Pelaku ini kan alamatnya kan tidak ada itu di alamat rumahnya. Namanya Erlan," ungkapnya.

Dari hasil penelusuran pihaknya, Risang menyebutkan sejumlah informasi terkait soal terduga pelaku. E disebut merupakan pria asal Sulawesi Selatan yang pernah bekerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Lembaga itu sendiri telah dibubarkan pada 2004.

Meski alamat tersebut telah teridentifikasi, Risang menegaskan E diketahui kerap berpindah domisili antara wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

"Nah, dia itu pindah-pindah, Jatim, Jateng, loncat-loncat itu," katanya.

Risang menambahkan, E juga diduga memiliki rekam jejak keterlibatan dalam tindak penipuan dengan berbagai modus, mulai dari penipuan properti, proyek, hingga jual-beli.

"Penipuan semua, ya properti, proyek, jual-beli. Kalau korban ini ya mungkin ya penipuan modusnya love scam itu," ucapnya.

Terkait asal-usul perkenalan antara korban dan terduga pelaku, Risang menduga, hal itu bisa saja berkedok pencarian proyek. Namun, ia menekankan penangkapan terhadap terduga pelaku menjadi kunci untuk mengungkap kronologi awal hubungan keduanya.

"Nah, harus ditangkap dulu E-nya itu. Karena keluarga enggak kenal itu dengan E," katanya.

(frd/isn) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]