Kementerian HAM Belum Butuh Tim Investigasi Usut Penembakan di Papua

CNN Indonesia
Rabu, 08 Jul 2026 08:51 WIB
Satgas Operasi Damai Cartenz menembak satu anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) berinisial OE alias ME di wilayah Wuyuki, Puncak Jaya.
Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) menilai belum dibutuhkan tim investigasi untuk mengusut peristiwa penembakan di Papua, salah satunya penembakan terhadap seorang ibu hamil di Kabupaten Intan Jaya. (Arsip Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) menilai belum dibutuhkan tim investigasi untuk mengusut peristiwa penembakan di Papua, salah satunya penembakan terhadap seorang ibu hamil di Kabupaten Intan Jaya.

Wakil Menteri HAM Mugiyanto mengaku awalnya telah memikirkan pembentukan tim investigasi. Namun, setelah berkoordinasi dengan Polri, menurutnya tim investigasi belum dibutuhkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebetulnya ya, sebelumnya kami memikirkan pembentukan tim investigasi diperlukan. Tapi tadi Pak Astamaops, Pak Fadil sudah menjelaskan bahwa proses tersebut sedang ditangani ya secara menyeluruh, sehingga menjadi belum ada kebutuhan untuk membentuk tim penyelidikan, tim investigasi," kata Mugiyanto di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (7/7).

Dalam kesempatan yang sama, Astamaops Kapolri Komjen Fadil Imran mengatakan kasus penembakan ibu hamil itu sedang diselidiki TNI.

Di sisi lain, ia menyebut, TNI-Polri juga telah mengidentifikasi pelaku penembakan pilot AMA AIR di Papua.

"Kolaborasi antara TNI-Polri di lapangan dalam konteks penegakan hukum untuk mengidentifikasi pelakunya itu sudah berjalan dengan baik. Saya kira tidak perlu, jadi tim dari Satgas Operasi Damai Cartenz, Satgas Gakkum sudah bekerja, tinggal koordinasi di lapangan teknis bagaimana untuk menemukan tersangkanya," katanya.

Dalam keterangan tertulis pada 3 Juli lalu, Koops TNI Habema menjelaskan soal insiden penembakan terhadap ibu hamil bernama Melkiana Dwitau di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya.

Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna mengatakan berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit.

Tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga. Lima menit kemudian kembali terdengar tembakan dari titik berbeda di kawasan perbukitan depan Koramil Sugapa.

Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai.

Ia menjelaskan selama rangkaian kejadian tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan.

"Kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih menempati posisi perlindungan (stelling) sambil memantau situasi, guna menghindari risiko terhadap masyarakat sipil," kata Wirya.

Ia mengatakan berdasar hasil analisis spasial menunjukkan ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter.

Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.

"Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya," ujar dia.

(yoa/fra) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]