BPPTKG Tegaskan Larangan Pendakian Merapi, Waspada Erupsi Eksplosif

CNN Indonesia
Kamis, 02 Jul 2026 02:30 WIB
Relawan berkomunikasi menggunakan Handy Talky (HT) dengan berlatar belakang Gunung Merapi yang mengeluarkan asap putih di Kendalsari, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (25/4/2026). Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (P
BPPTKG ingatkan masyarakat untuk tidak mendaki Gunung Merapi. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pendakian di Gunung Merapi karena potensi bahaya masih tinggi.

Kepala BPPTKG, Agus Budi menegaskan, keselamatan pendaki harus menjadi prioritas mengingat ancaman erupsi eksplosif masih dapat terjadi sewaktu-waktu.

"Kami ingin menegaskan kembali bahwa aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan," kata Agus Budi, Rabu (1/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus Budi menjelaskan, apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak. Jangkauan tersebut meliputi area yang selama ini menjadi jalur maupun batas akhir pendakian, sehingga siapa pun yang berada di zona tersebut berisiko tinggi terdampak.

Ia juga meminta masyarakat dan para pendaki memahami dinamika aktivitas Merapi saat ini. Menurutnya, Merapi memang sedang berada dalam fase erupsi efusif yang ditandai dengan keluarnya magma ke permukaan secara perlahan.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti ancaman telah berakhir. Justru pada fase ini, potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu masih tinggi apabila jalur keluarnya magma mengalami sumbatan secara tiba-tiba.

"Namun, justru dalam kondisi inilah potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi," tegas Agus Budi.

Ia menerangkan, sumbatan pada jalur keluarnya magma akan menyebabkan akumulasi tekanan gas yang sangat kuat di dalam kawah. Tekanan tersebut pada akhirnya dapat melepaskan energi dalam bentuk erupsi eksplosif yang terjadi secara mendadak.

Catatan tiga abad Merapi

Lebih lanjut, Agus Budi mengatakan kewaspadaan tersebut didasarkan pada data historis aktivitas vulkanik Merapi. Dalam catatan tiga abad terakhir, Gunung Merapi telah menunjukkan lima tipe erupsi yang berbeda, dan tipe erupsi yang bersifat eksplosif merupakan yang paling sering terjadi.

Bahkan, lanjut Agus Budi, sejak erupsi 2010 telah tercatat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh erupsi freatik.

"Oleh karena itu, selama potensi ancaman ini masih tinggi, penutupan aktivitas pendakian di daerah potensi bahaya merupakan langkah mitigasi utama yang harus dipatuhi," pungkasnya.

Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sebelumnya juga menegaskan jalur pendakian Gunung Merapi masih ditutup sampai hari ini. Pernyataan ini sebagai respons atas konten viral di media sosial, memperlihatkan aktivitas pendakian dan ajakan kepada masyarakat, bahkan pembukaan jalur pendakian Gunung Merapi.

Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo menjelaskan, penutupan jalur pendakian telah diberlakukan sejak 22 Mei 2018 menyusul peningkatan status aktivitas Gunung Merapi dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Selanjutnya, pada 5 November 2020, status aktivitas kembali dinaikkan menjadi Level III (Siaga) dan hingga kini masih berlaku.

"Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana," kata Heri dalam keterangan resminya, Senin (29/6).

Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 19-25 Juni 2026 yang diterbitkan BPPTKG, aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi dengan aktivitas erupsi efusif dan status gunung masih berada pada Level III (Siaga). Heri menyebut suplai magma ke permukaan masih berlangsung sehingga sewaktu-waktu dapat memicu guguran lava maupun awan panas guguran yang meluncur mengikuti alur sungai di lereng gunung.

Saat ini, kata Heri, potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas berada di sektor selatan-barat daya yang meliputi alur Sungai Boyong dengan jarak luncur maksimal 5 kilometer dari puncak. Sementara pada alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng, potensi luncuran material vulkanik dapat mencapai jarak maksimal 7 kilometer dari puncak.

Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi alur Sungai Woro dengan jarak luncur maksimal 3 kilometer serta Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer dari puncak. Selain itu, apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik berupa lontaran batu pijar diperkirakan dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Balai TNGM juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi sesuai rekomendasi BPPTKG/PVMBG.

Menurut Balai TNGM, jalur pendakian melalui New Selo menuju puncak Gunung Merapi justru berada di dalam kawasan rawan tersebut. Jalur itu mencakup pintu gerbang hingga Pos I yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari puncak, Pos II sekitar 1,64 kilometer, Pasar Bubrah sekitar 0,7 kilometer, hingga puncak. Seluruh titik tersebut berada di dalam zona yang berpotensi terdampak lontaran material vulkanik maupun awan panas, sehingga aktivitas pendakian dinilai sangat membahayakan keselamatan pendaki.

(kum/isn) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]