Eks Kasat Narkoba Kutai Barat Dibawa ke Bareskrim Polri Buat Diperiksa
Mantan Kasat Narkoba Polres Kutai Barat, Kalimantan Timur (Kaltim) AKP Deky Jonathan Sasiang telah tiba di Gedung Bareskrim Polri Jakarta, Senin (18/5) petang.
Kedatangannya itu untuk menjalani pemeriksaan lanjutan oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana (Dittipid Narkoba Bareskrim Polri.
Deky datang dengan pengawalan ketat dari petugas gabungan dipimpin Kasatgas NIC Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Kombes Kevin Leleury bersama tim dari Direktorat IV Dittipidnarkoba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menjemput AKP Deki ya dari Polda Kaltim untuk dibawa ke Bareskrim Polri akan menindaklanjuti terkait tindak pidana pencucian uang," kata Kevin kepada wartawan.
Kevin menerangkan salah satu materi yang akan didalami adalah seputar dugaan aliran dana yang diterima Deky dari jaringan narkoba Ishak dalam upaya membekingi peredaran barang haram di Kaltim.
"Sementara kita dalami, pemeriksaan ya (aliran dana). Jadi nanti akan disampaikan terkait hasil pemeriksaannya," ucap dia.
Sebelumnya, AKP Deky ditangkap karena diduga terlibat dalam jaringan narkoba di wilayah Kutai Barat jaringan narkoba di wilayah Kutai Barat dengan bandar narkoba Ishak.
Selain Deky, polisi juga menangkap Mery Christine Kiling (26) yang berperan sebagai bendahara atau pemegang keuangan jaringan bandar narkoba Ishak.
Mery ditangkap bersama Marselus Vernandus (42) yang berperan sebagai perantara penghubung Deky dengan Mery.
Berdasarkan hasil interogasi, sekitar Desember 2025, AKP Deky meminta bantuan Marselus untuk dihubungkan kepada Ishak melalui Mery. Deky meminta Ishak memancing seseorang bernama Fathur agar menjual 1 kilogram sabu miliknya agar bisa ditangkap sebagai bahan rilis tahunan.
"AKP Deky juga menjanjikan bahwa kalau berhasil memberikan tangkapan tersebut akan menjaminkan keamanan jaringan tersangka Ishak untuk beroperasi mengedarkan narkoba di wilayah Kutai Barat, Kalimantan Timur," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso.
Sementara Mery yang juga merupakan calon istri bandar Ishak mengakui keterlibatannya dalam membantu operasional bisnis haram tersebut. Selain mengelola keuangan, Mery juga bertugas melakukan pengemasan paket sabu seharga Rp300-500 ribu serta mengoperasikan loket jual beli narkoba.
"Loket tersebut adalah tempat workshop milik Marselus yang disewa oleh Tersangka Ishak dengan dalih akan membuka usaha koperasi simpan pinjam yang ternyata dijadikan loket jual beli narkoba oleh Ishak tanpa sepengetahuan Marselus," tutur Eko.
Mery juga membeberkan fakta mengenai aliran dana kepada AKP Deky guna menjamin keamanan bisnis narkoba jaringan Ishak agar tidak diganggu. Dari hasil pendalaman, terjadi beberapa kali pemberian uang tunai sepanjang akhir 2025.
Rinciannya, uang Rp5 juta diserahkan pada sekitar Oktober November 2025 sebagai uang 'pantauan' bisnis diserahkan di rumah Deky, uang Rp50 juta diserahkan pada Desember 2025 diserahkan melalui perantara Marselus dengan dalih uang sertijab Deky.
Kemudian uang Rp15 juta diserahkan pada akhir Desember 2025 untuk keperluan malam tahun baru diserahkan melalui perantara Marselus.
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]