SMA Pontianak Tolak Ikut Cerdas Cermat Ulang MPR, Dukung SMA Sambas

CNN Indonesia
Kamis, 14 Mei 2026 16:36 WIB
SMAN 1 Pontianak menegaskan upaya yang dilakukan bukan untuk menyerang-menjatuhkan kredibilitas lembaga maupun individu tertentu. Dan, akan ikut lomba di 2027.
Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Tangkapan layar Youtube @MPRGOID)
Jakarta, CNN Indonesia --

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI memutuskan bakal menggelar ulang final Lomba Cerdas Cermat (LCC) antar SMA di Kalimantan Barat (Kalbar) buntut polemik penjurian yang viral dan menjadi sorotan karena sikap dewan juri yang berasal dari kesekretariatan MPR.

Namun, SMAN 1 Pontianak lewat pernyataan resmi menegaskan tetap menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan dan mendukung SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalbar di tingkat nasional.

"SMAN 1 Pontianak menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan serta menyampaikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan Kalimantan Barat pada ajang LCC 4 Pilar tingkat nasional," kata Kepala SMAN 1 Pontianak Indang Maryati dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/5) dikutip dari detikKalimantan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indang menegaskan SMAN 1 Pontianak sejak awal menegaskan tak pernah berkeinginan membatalkan hasil perlombaan. Menurut Indang, langkah yang dilakukan semata-mata untuk meminta klarifikasi terkait proses penilaian dalam final lomba.

Adapun protes yang dilakukan anak didiknya saat perlombaan, lalu ditindaklanjuti setelahnya yang kemudian viral adalah untuk mendapatkan klarifikasi yang jelas.

"SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi terhadap poin-poin yang dipersoalkan," katanya.

Lanjut Indang, SMAN 1 Pontianak tidak akan terlibat apabila lomba LCC tingkat Kalbar 2026 diulang seperti yang telah disampaikan MPR RI pekan ini.

"SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba LCC yang diulang," tegasnya.

Pihak sekolah juga menegaskan upaya yang dilakukan bukan untuk menyerang atau menjatuhkan kredibilitas lembaga maupun individu tertentu.

"Langkah yang dilakukan bukan merupakan upaya untuk menyerang ataupun menjatuhkan kredibilitas lembaga, penyelenggara lomba, maupun individu tertentu," ujarnya.

Selain itu, pihak SMAN 1 Pontianak menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat selama polemik berlangsung dan meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi.

"SMAN 1 Pontianak memohon maaf atas kegaduhan yang terjadi, serta mengajak semua pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan semangat kebersamaan," ucapnya.

Pihak sekolah juga mengajak seluruh pihak menjaga iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman bagi semua peserta didik.

"Sampai jumpa di LCC 4 Pilar 2027," katanya.

Diketahui, polemik Final LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Kalbar menjadi perhatian publik usai viralnya video penilaian juri terhadap peserta SMAN 1 Pontianak. Kontroversi itu memicu protes dari peserta, alumni, hingga masyarakat dan berujung pada permintaan maaf serta komitmen evaluasi dari MPR RI.

Keputusan gelar ulang lomba cerdas cermat

Setelah viral dan jadi perbincangan selama beberapa hari ini, sebelumnya MPR   memutuskan bakal menggelar ulang final cerdas cermat empat pilar antar SMA di tingkat Kalbar.

Keputusan itu disampaikan langsung oleh Ketua MPR Ahmad Muzani dalam jumpa pers di kompleks parlemen, Jakarta Rabu (13/5).

Muzani menegaskan pihaknya telah mengambil keputusan dan telah mengevaluasi kasus tersebut.

"Lomba cerdas cermat (LCC) di tingkat Kalimantan Barat yang final akan kita lakukan ulang," kata Muzani kala itu.

Namun, Muzani belum mengungkap waktu pelaksanaan ulang lombanya. MPR memastikan akan digelar dalam waktu dekat.

Selain itu, Muzani mengatakan pihaknya juga telah memutuskan dalam final ulang, juri akan dipilih secara independen di luar Sekretariat Jenderal (Setjen) MPR. Mereka akan diambil dari unsur akademisi di wilayah Kalimantan Barat.

"Juri yang akan menjuri dalam Lomba Cerdas Cermat tersebut adalah juri independen," katanya.

Insiden viral dalam final lomba cerdas cermat Empat Pilar MPR RI Provinsi Kalbar itu bermula saat dewan juri memberi nilai berbeda terhadap jawaban yang sama oleh regu B dan C dalam pertanyaan rebutan.

"Pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota. Namun untuk menjadi anggota BPK, keterkaitan dengan perwakilan daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?" tanya pembawa acara dikutip dari YouTube MPR, Senin (11/5).

Grup C dari SMAN 1 Pontianak yang menekan bel terlebih dahulu menjawab bahwa 'Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden'

Namun, Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita selaku dewan juri memberi nilai -5 atau menyalahkan jawaban Grup C itu.

Pertanyaan itu kemudian dilempar kembali ke peserta lain, dan dijawab regu B dengan memberikan jawaban yang sama.

Mendengar jawaban Regu B, juri membenarkan memberikan 10 poin.

Peserta di Regu C yang memberikan jawaban lebih dulu pun meminta izin untuk menyampaikan keberatan. Mereka menunjukkan ekspresi bingung lantaran jawabannya disalahkan meski sama.

Namun, Dyastasita tetap bersikeras, dan beralasan jawaban regu C tidak menyertakan Dewan Perwakilan Daerah atau DPD.

Grup C pun kembali memprotes. Josepha Alexandra alias Ocha dari Regu C yang menjawab soal dan menyampaikan keberatan menegaskan jawaban awal dirinya telah menyertakan Dewan Perwakilan Daerah. Namun, Dyastasita tidak mengubah keputusannya.

Sementara dewan juri lainnya, yakni Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR, Indri Wahyuni justru meminta agar peserta memperjelas artikulasi saat menjawab pertanyaan.

Dari tayangan di Youtube diduga pembina yang mendampingi dari SMAN 1 Pontianak hendak menyampaikan pendapat, namun kemudian disanggah pihak juri.

Sementara itu MC yang mengendalikan jalannya acara itu kemudian meminta semua pihak bersikap sportif menerima nilai dari dewan juri yang sudah berkompetensi, dan menyebut soal 'perasaan' terhadap peserta yang memprotes.

MPR belakangan menyampaikan permintaan maaf soal viral keputusan dewan juri. Wakil Ketua MPR, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, memastikan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap kinerja dewan juri dan sistem lomba.

"Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini," kata Abcandra dalam keterangannya, Selasa (12/5).

MC kegiatan tersebut pun sudah menyampaikan pernintaan maaf secara tertulis lewat akun Instagramnya.

Baca berita lengkapnya di sini.

(kid) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]