Dokter Magang Meninggal di RS Jambi, Keluarga Buka Suara
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengirim tim investigasi untuk mendalami peristiwa meninggalnya Myta Aprilia Azmy, dokter internship yang bertugas di Rumah Sakit KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.
Semula, dr Myta diduga wafat setelah mengalami beban kerja berat. Jenazah korban pun telah dimakamkan pihak keluarga di Pemakaman Umum Simpang Pendagan, Kelurahan Pasar Muaradua, Kecamatan Muaradua, Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan pada Sabtu (2/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, dugaan faktor penyebab kematian dokter intership dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri) itu pun menjadi sorotan, terutama dukungan dari kolega kampusnya.
Pihak keluarga almarhumah dr Myta Aprilia Azmy mengatakan mendukung langkah yang diambil Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri), yang mendorong Kemenkes untuk melakukan investigasi terkait wafatnya Myta.
"Kami mendukung apa yang dilakukan IKA FK Unsri, untuk melakukan investigasi dari kasus Myta ini," kata salah satu kerabat korban, Dr Febri, Sabtu lalu, dikutip dari detikJateng.
Ia berharap ada titik terang terhadap kasus tersebut dan hasil investigasi bisa menjadi bahan evaluasi total terhadap sistem kerja dokter internship di Indonesia.
"Mudah-mudahan ada titik terang tentang perbaikan kerja dari rekan-rekan dokter internship ini ke depannya. Kami tidak memvonis siapa yang salah atau siapa yang melanggar etik atau apapun itu. Yang penting kami berharap tidak ada Myta-Myta kedua setelah ini," sambungnya.
Di tengah suasana duka, pihak keluarga lainnya menyampaikan harapan agar wafatnya dr Myta menjadi perhatian serius bagi pihak terkait.
"Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama terkait sistem kerja dokter internship. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali," ujar salah satu anggota keluarga di rumah duka.
Dr Myta sebelumnya diketahui menjalani program Internship di RSUD K.H Daud Arif Kuala Tungkal. Saat itu, dr Myta sempat dilaporkan mengalami sakit dan menjalani perawatan di Kuala Tungkal dan dirujuk ke rumah sakit di Provinsi Jambi.
Setelah itu, almarhumah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang. Selama sekitar tiga hari dr Myta menjalani perawatan dan dinyatakan meninggal dunia.
Tim investigasi Kemenkes
Terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan Kemenkes menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa itu. Ia menyebut peristiwa itu menjadi perhatian serius bagi Kemenkes.
"Kemenkes telah mengirimkan tim investigasi terpadu yang terdiri dari Inspektorat Jenderal, Ditjen SDM Kesehatan, Ditjen Kesehatan Lanjutan, dan tim ahli profesi untuk melakukan penelusuran menyeluruh," kata Aji saat dihubungi, Minggu (3/5).
Aji mengatakan investigasi dilakukan secara komprehensif untuk menelusuri seluruh rangkaian kejadian, termasuk aspek pelayanan medis, tata kelola wahana internship, beban kerja, pendampingan peserta, serta proses skrining kesehatan sebelum penempatan.
"Pendalaman juga dilakukan melalui audit rekam medis, penelusuran proses medical check-up, serta pengumpulan keterangan dari keluarga, rekan sejawat, pendamping internship, dan tenaga medis atau tenaga kesehatan yang menangani almarhumah," ujarnya.
Ia mengatakan informasi awal terkait kondisi kesehatan almarhumah, termasuk dugaan penyakit penyerta, akan diverifikasi lebih lanjut. Oleh karena itu, Kemenkes tidak akan berspekulasi dan menunggu hasil investigasi secara menyeluruh selesai.
Sebelumnya, Ketua Umum IKA FK Unsri Achmad Junaidi mengatakan pihaknya akan mengawal kasus meninggalnya Myta yang tengah menjalani program internship tersebut.
"Kita sebelumnya telah mengirim surat ke Kementerian Kesehatan RI. Mereka meminta dilakukan audit terhadap RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, yang menjadi lokasi penugasan dr Myta," kata Junaidi seperti dikutip dari detik Sumbagsel, Sabtu (2/5).
Dalam surat tertanggal 30 April 2026, IKA FK Unsri mengungkap keprihatinan sekaligus sejumlah temuan terkait kondisi kerja dokter internship di rumah sakit daerah tersebut. Junaidi menyebut Myta diduga menjalani beban kerja berat tanpa istirahat yang cukup selama masa internship. Bahkan, saat kondisi kesehatannya mulai menurun sejak Maret 2026, Myta disebut tetap menjalani jadwal jaga.
Dalam kasus ini, IKA FK Unsri juga menyoroti sejumlah hal lain, mulai dari dugaan minimnya supervisi dokter pembimbing, keterbatasan fasilitas seperti stok obat, hingga adanya indikasi tekanan agar kondisi tersebut tidak meluas.
Berdasarkan beberapa bukti yang diklaim didapatkan Ikatan Alumni FK Unsri, sejumlah oknum pembimbing juga disebut sengaja merahasiakan kondisi almarhumah agar masa internship tidak diperpanjang. Dugaan bullying secara verbal juga dialami mendiang dr Myta.
"Adanya arahan untuk merahasiakan kondisi ini serta narasi yang menyudutkan dokter internship menjadi perhatian serius kami," ucap Junaidi.
"Narasi gas lighting yang menyerang mentalitas dokter internship seperti sebutan generasi Z lembek saat mereka menyuarakan hak dasar kesehatan," tutup poin kekhawatiran dugaan perundungan dalam surat IKAFK Unsri terhadap Kemenkes.
Sementara itu, Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) juga menyoroti empat kasus kematian dokter internship sebelum Myta yang terjadi di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali dan Sulawesi Selatan.
Dalam keempat kasus itu, MGBKI menilai investigasi yang dilakukan Kemenkes terlalu cepat untuk disimpulkan karena faktor kesehatan semata.
"Dari Kementerian Kesehatan mengembalikan bahwa mereka yang meninggal ini memiliki penyakit. Mereka menganalisa ke sana," ujar Pengurus MGBKI Zainal Muttaqin dalam konferensi pers, Minggu (3/5).
Ia menegaskan hampir semua masyarakat Indonesia, termasuk dokter memiliki penyakit bawaan. Persoalannya, kata dia, hal itu seharusnya sudah dideteksi institusi atau rumah sakit wahana pendidikan.
"Kita semua itu pasti di antara kita punya problem kesehatan. Bagaimana saat kita menjalani internship ada upaya deteksi dan penanganan penyakit bersamaan dengan pekerjaan, itu yang harus dilakukan," tegasnya.
Zainal menilai sebuah kesalahan yang besar jika pengelola program internship, dalam hal ini Rumah Sakit tidak tahu kondisi kesehatan para peserta didik.
"Kalau itu berjalan tanpa ada deteksi dan pihak penerima, artinya pengelola program ini sampai tidak mengetahui persoalan kesehatan yang dimiliki oleh peserta didik, itu suatu kesalahan," tuturnya.
"Bukan peserta didik yang salah. Kita jangan terbiasa menyalahkan peserta program ini karena dia punya penyakit sehingga beban kerja yang ada menyebabkan dia meninggal," imbuhnya.
Baca berita lengkapnya di sini.
(kid/ugo) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

