Di Hadapan Ribuan Buruh, Kapolri Beber Dampak Perang Timur Tengah

CNN Indonesia
Rabu, 11 Mar 2026 07:41 WIB
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membeberkan dampak eskalasi perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat yang diprediksi tak akan usai dalam waktu dekat
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membeberkan dampak eskalasi perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat yang diprediksi tak akan usai dalam waktu dekat CNN Indonesia/ Farid
Surabaya, CNN Indonesia --

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membeberkan dampak eskalasi perang di Timur Tengah antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang diprediksi tidak akan usai dalam waktu dekat.

Sigit mengatakan, situasi global saat ini semakin memanas dan hal itu menuntut kesiapan seluruh elemen bangsa, termasuk kelompok buruh, untuk mengantisipasi dampak jangka panjang yang mungkin timbul.

Hal itu dikatakan Sigit saat menghadiri silaturahmi dan safari Ramadan bersama Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (10/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kondisi di Timur Tengah mungkin yang harapan kita semua bisa selesai dalam waktu dekat, tapi ini sampai saat ini kita lihat kondisinya justru semakin terlihat sehingga mau tidak mau kita harus mempersiapkan diri bahwa perang itu bisa berlaku dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan ini tentunya menjadi hal yang mau tidak mau harus kita antisipasi," kata Sigit.

Ketegangan ini, kata Sigit, diikuti dengan serangkaian serangan terhadap objek vital energi di kawasan tersebut, seperti pangkalan minyak Aramco hingga blokade di Selat Hormuz.

Hal itu, kata Sigit, kemudian memicu lonjakan harga minyak dunia yang sangat drastis dan memberikan tekanan besar bagi ekonomi domestik, mengingat Indonesia masih bergantung pada kuota impor minyak yang cukup tinggi.

"Ini tentunya membuat situasi harga minyak dunia ini terus meningkat kalau kita lihat bagaimana harganya melonjak luar biasa, dari yang awalnya US$60 sekian naik US$70, kemarin US$90 terus kemudian tadi pagi mungkin sudah masuk di permalam ya permalam sudah di angka US$100 per hari ini," ujarnya.

Meski demikian, Kapolri mengingatkan jika perang terus berlanjut, maka implikasinya akan langsung memukul sektor logistik dan harga kebutuhan pokok. Pada akhirnya hal itu bakal membebani masyarakat serta fiskal negara.

"Seiring dengan hal tersebut, tentunya kita juga harus siap-siap untuk kemudian menghadapi kalau perang ini berjalan panjang. Dan kalau harga minyak tidak bisa kita kendalikan, tentunya implikasinya akan berdampak kepada harga-harga. Karena memang kemudian akan berdampak pada masalah harga logistik, logistik kemudian naik harga dan itu tentunya akan membebani masyarakat dan juga fiskal," ucapnya.

Menyikapi hal tersebut, Sigit menegaskan pemerintah tengah bekerja keras melalui jalur diplomasi internasional untuk mendorong perdamaian. Pasalnya lembaga-lembaga internasional yang saat ini telah terbentuk, seperti Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), tidak lagi dianggap oleh Presiden Trump.

"Presiden berusaha untuk ikut aktif dalam menyelesaikan atau mendorong agar perdamaian segera terwujud. Tentunya, dengan beberapa diplomasi yang beliau lakukan, baik dengan Amerika maupun dengan negara-negara teluk dan negara-negara Eropa. Kenapa itu dilakukan? Karena memang saat ini lembaga-lembaga universal yang saat ini sudah terbentuk, seperti PBB dan negara-negara lain, saat ini tidak dianggap oleh Trump. Sehingga mau tidak mau kita mencoba untuk masuk melalui jalur yang dibentuk oleh Trump," papar Sigit.

Karena itu, Kapolri mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk para buruh, untuk memberikan dukungan penuh kepada upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas di tengah gejolak global.

Ia juga menekankan pentingnya persatuan nasional dan semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) melalui penguatan swasembada pangan dan energi agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor.

"Oleh karena itu tentunya ini butuh dukungan, butuh support, butuh doa dari kita semua. Sehingga pada saat kita menghadapi situasi yang ada ini, kita seluruh warga negara, seluruh tokoh komponen-elemen bangsa, kemudian bersatu untuk menghadapi yang ada. Dan salah satunya adalah kedepan apa yang selalu disampaikan oleh Bapak Presiden bahwa kita tengah masuk pada situasi realisme di mana menghadapi kondisi-kondisi yang ada mau tidak mau kita harus bisa berdiri di atas kaki sendiri," pungkasnya. 

(gil/frd/gil)


[Gambas:Video CNN]