Polda Kirim Konselor ke Ngada Dampingi Keluarga Anak SD Akhiri Hidup
Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mengirim konselor ke Ngada untuk membantu pendampingan terhadap keluarga korban siswa yang meninggal diduga akibat mengakhiri hidupnya sendiri.
"Kita sudah mengirim psikolog dan konselor untuk memberikan pendampingan terhadap keluarga korban," kata Kapolda NTT Irjen Pol. Rudi Darmoko usai meresmikan Direktorat PPA dan PPO, Kupang, Rabu (4/2).
Rudi Darmoko mengatakan pendampingan dimaksudkan untuk mencari tahu penyebab utama dan motif terjadinya bunuh diri yang dilakukan oleh korban yang adalah seorang siswa berusia sepuluh tahun yang masih duduk di bangku kelas IV berinisial YBR.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan lanjut Rudi Darmoko pendampingan sangat perlu dilakukan sehingga akar persoalan yang mengakibatkan korban nekat mengakhiri hidupnya bisa diketahui secara pasti.
"Ini untuk pendampingan dan pembinaan mental psikologi terhadap keluarga korban," ujar Rudi Darmoko.
Instruksi bantuan materi ke Kapolres Ngada
Menurut Rudi Darmoko selain pembinaan mental dan pendampingan, telah memberi perintah kepada Kapolres Ngada untuk membantu secara materi kepada keluarga korban. Hal itu, sambungnya, guna membantu meringankan keluarga korban.
Selain itu, Rudi memastikan kasus dugaan mengakhiri hidup sendiri itu masih didalami pihak kepolisian setempat.
"Untuk sementara dari hasil penyelidikan awal, dari hasil olah TKP demikian [akibat mengakhiri hidup sendiri], karena [diduga] ada kekecewaan tapi masih kita dalami lagi," tutur Rudi Darmoko.
Sebelumnya seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar berusia sepuluh tahun berinisial YBR warga Dusun Sawasima, Desa Naruwolo Kecamatan Jerewuu, Kabupaten Ngada, NTT ditemukan tewas tergantung di pohon cengkeh di kebun dekat rumah atau pondok neneknya.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (29/1). Dan tempat kejadian berada idak jauh dari pondok tempat tinggal korban dan neneknya yang berusia 80 tahun.
Dalam penyelidikan dan olah TKP, petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diduga ditulis korban kepada ibunya.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus Pissort, mengatakan sejauh ini pihaknya menduga surat tulisan tangan itu dibuat korban sebelum mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.
"Kesimpulan ini berdasarkan hasil pencocokan tulisan dengan beberapa buku tulis yang dimiliki korban. Tim penyidik menemukan kesamaan yang jelas antara tulisan di surat dengan tulisan di buku-buku tersebut," jelas Benediktus Pissort.
Dalam foto yang dilihat, surat itu ditulis tangan dalam bahasa Ngada.
Dalam surat tersebut, korban meminta ibundanya untuk merelakan dia pergi lebih dulu. Dalam surat itu juga itu ditulis agar ibunda merelakannya--tak perlu menangis, mencari, atau merindukannya.
Pada bagian akhir tulisan tangan tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.
beri |


beri