Hide Ads

DVI Polda Jabar Telah Identifikasi 20 Korban Longsor Cisarua

CNN Indonesia
Senin, 26 Jan 2026 20:34 WIB
Tim DVI Polda Jawa Barat telah berhasil mengidentifikasi 20 korban longsor Cisarua dari 34 kantong jenazah atau body pack yang diterima, Senin (26/1).
Tim DVI Polda Jawa Barat telah menerima total 34 kantong jenazah atau body pack korban longsor Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. (AFP/TIMUR MATAHARI)
Bandung, CNN Indonesia --

Tim SAR gabungan menyebut telah mengevakuasi 38 jenazah korban longsor Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian mengatakan bahwa dalam operasi pencarian hari ini telah ditemukan 13 jenazah hingga pukul 18.30 WIB.

"Jumlah korban yang berhasil dievakuasi hari ini sebanyak sembilan jenazah hingga 18.30 WIB, sehingga total korban yang diserahkan berjumlah 38 sejak pertama kali operasi SAR dilaksanakan," katanya di Bandung, Senin (26/1) seperti dikutip dari Antara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihaknya akan kembali melanjutkan proses pencarian dan evakuasi korban longsor Cisarua dengan mengerahkan personel gabungan serta 12 alat berat pada esok hari di sejumlah titik terdampak.

"Tadi kita sudah mendapatkan tiga bantuan alat berat, sehingga untuk pencarian selanjutnya kita dapat mengerahkan 12 unit alat berat," ujarnya.

Selain itu dari 34 kantong jenazah atau body pack yang diserahkan ke DVI,  20 korban berhasil diidentifikasi dan sebagian telah diserahkan kepada pihak keluarga.

"Hingga hari ini, Senin 26 Januari 2026 sekitar pukul 16.57 WIB, Pos DVI Polda Jawa Barat telah menerima 34 kantong jenazah. Hari ini kami menerima tambahan 9 kantong jenazah, yang terdiri dari 8 jenazah dan 1 bagian tubuh," kata Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan saat memberikan keterangan pers di Pos DVI Polda Jawa Barat, Senin sore.

Ia menjelaskan, dari total 34 kantong jenazah tersebut, sebanyak 20 korban telah teridentifikasi melalui proses pencocokan data antemortem dan postmortem yang dilakukan oleh tim gabungan.

"Dari 20 korban yang sudah teridentifikasi, sebagian telah diserahkan kepada keluarga yang sejak awal standby di Pos DVI Polda Jawa Barat," katanya.

Dengan demikian, masih ada 14 kantong jenazah yang hingga kini masih dalam proses identifikasi. Hendra menyebutkan, sebagian jenazah tersebut harus dirujuk ke rumah sakit karena memerlukan pemeriksaan lanjutan berupa tes DNA.

"Dari 14 kantong jenazah yang masih diproses, 4 berada di RSUD Cibabat dan 4 lainnya di RS Sartika Asih. Sisanya masih berada di Pos DVI untuk dilakukan proses identifikasi lebih lanjut," jelasnya.

Menurut Hendra, jenazah yang dirujuk ke rumah sakit umumnya merupakan korban yang memerlukan pemeriksaan DNA karena kondisi jenazah tidak memungkinkan dilakukan identifikasi melalui metode lain.

"Untuk jenazah tertentu, khususnya yang memerlukan penanganan DNA, kami membutuhkan waktu lebih lama. Oleh karena itu, jenazah tersebut kami semayamkan terlebih dahulu di rumah sakit yang telah ditentukan," ungkapnya.

Ia menambahkan, proses identifikasi korban bervariasi tergantung kondisi jenazah. Untuk pemeriksaan DNA, waktu yang dibutuhkan rata-rata mencapai 14 hari.

"Prosesnya berbeda-beda. Namun untuk hasil DNA, paling cepat membutuhkan waktu sekitar dua minggu," katanya.

Hendra juga mengakui, tim DVI menghadapi tantangan dalam proses identifikasi, termasuk ditemukannya potongan tubuh serta korban anak-anak yang memerlukan penanganan khusus.

"Beberapa potongan tubuh memang cukup menyulitkan, termasuk korban anak-anak. Untuk bagian tubuh tertentu, identifikasi bisa dilakukan melalui sidik jari, namun ada juga yang harus melalui pemeriksaan DNA dengan pembanding dari keluarga," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan tim DVI belum mengalami kendala berarti dan proses identifikasi masih berjalan dengan baik.

"Sampai saat ini tim masih dapat bekerja secara optimal. Memang hanya perlu waktu, namun secara umum proses identifikasi berjalan lancar dan pelayanan kepada masyarakat tetap kami utamakan," tegasnya.

Terkait informasi adanya korban dari unsur TNI AL, Hendra menegaskan bahwa seluruh jenazah yang ditemukan tetap harus melalui proses identifikasi resmi di Pos DVI sebelum diserahkan kepada pihak terkait.

"Sesuai kesepakatan tim gabungan Basarnas dan BNPB, setiap jenazah yang diterima harus diidentifikasi terlebih dahulu di Pos DVI. Setelah identitasnya jelas, barulah diserahkan kepada pihak yang berwenang atau keluarga," katanya.

Hendra menyebutkan Pos DVI telah mengumpulkan data antemortem dari 108 orang yang dilaporkan hilang. Data tersebut dihimpun melalui Pos Pengumpulan Informasi (PPI) dan berasal dari keluarga korban maupun laporan masyarakat.

"Data antemortem kami kumpulkan dalam berbagai bentuk, mulai dari data medis, data elektronik, foto, hingga data keluarga sebagai pembanding untuk mempermudah proses identifikasi," jelasnya.

Hingga saat ini, jumlah laporan orang hilang masih berada di angka 108 dan belum terdapat laporan tambahan.

"Sejauh ini belum ada laporan baru. Data 108 orang hilang merupakan data terakhir berdasarkan kesepakatan tim Basarnas dan BPBD yang berada di pos," kata Hendra.

(csr/isn)


[Gambas:Video CNN]