Tedjowulan Klaim Panembahan Agung Keraton Surakarta, Apa Artinya?

CNN Indonesia
Selasa, 20 Jan 2026 15:41 WIB
Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan kini menjabat Panembahan Agung Keraton Surakarta, melanjutkan tradisi pemberian gelar 'panembahan'.
Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung (KGPH-PA) Tedjowulan kini menjabat Panembahan Agung Keraton Kasunanan Surakarta. (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Solo, CNN Indonesia --

Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung (KGPH-PA) Tedjowulan kini menjabat Panembahan Agung Keraton Kasunanan Surakarta.

Lalu apa arti jabatan Panembahan Agung Keraton Surakarta yang kini dipegang Tedjowulan?

Peneliti Sraddha Institute, Rendra Agusta menjelaskan 'panembahan' berasal dari kata 'sembah' atau menghormati. Gelar panembahan biasanya diberikan kepada orang yang dihormati atau dituakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sepanjang sejarah, banyak tokoh yang memakai gelar panembahan," kata Rendra kepada CNNIndonesia.com, Selasa (20/1).

Ada banyak tokoh sepanjang sejarah Dinasti Mataram Islam yang menyandang gelar Panembahan. Gelar tersebut biasanya diberikan kepada orang yang dihormati atau dituakan.

Ia mencontohkan Pangeran Kajoran yang hidup di era Sultan Agung Hanyakrakusuma. Pangeran Kajoran mendapat gelar Panembahan Romo karena kepemimpinan dan keilmuannya.

Tradisi pemberian gelar 'panembahan' kepada sesepuh ini bahkan masih berlanjut hingga menjelang kemerdekaan.

"Di masa Pakubuwana XII juga ada Panembahan Hadiwijaya, seorang yang menjadi tempat raja meminta pertimbangan," kata dia.

Hanya saja, Rendra mengaku tidak pernah mendengar 'panembahan' digunakan sebagai jabatan di Keraton Surakarta seperti KGPH-PA Tedjowulan yang kini menjabat Panembahan Agung Keraton Surakarta.

"Saya kurang tahu apakah ada Panembahan yang menjadi caretaker (pelaksana tugas raja)," kata Rendra.

Meski demikian, adanya sesepuh yang memandu masa transisi kepemimpinan di Keraton Surakarta bukan hal baru.

"Tapi biasanya memang ada wali raja pada masa transisi. Ada masa permusyawaratan yang biasanya dipimpin oleh tetua. Bisa adik raja atau orang yang dituakan," ujarnya.

Sebelumnya, Gusti Tedjowulan melepas jabatannya sebagai Maha Menteri Keraton Surakarta. Adik beda ibu dari mendiang SISKS Pakubuwana XIII Hangabehi itu kini menyebut dirinya Panembahan Agung Karaton Kasunanan Surakarta.

Pergantian jabatan tersebut dilakukan Gusti Tedjo setelah menerima Surat Keputusan (SK) Menteri Kebudayaan nomor 8 tahun 2026 tentang Penunjukan Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan/atau Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional.

SK tersebut diserahkan Fadli Zon kepada Gusti Tedjo di Jakarta 9 Januari lalu. Sedangkan seremoni serah terima digelar di Sasana Handrawina, Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (18/1) kemarin.

"Dalam menjalankan tugas sebagai pelaksana dan penanggung jawab pengelolaan keraton, Gusti Tedjowulan berkedudukan sebagai Panembahan Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat," kata juru bicara Panembahan Agung Tedjowulan, Kangjeng Pakoenegoro lewat keterangan tertulis, Senin (19/1).

(fra/syd/fra)


[Gambas:Video CNN]