Babak Baru Konflik Keraton Solo, Ribut Dua Kubu karena SK Fadli Zon

CNN Indonesia
Senin, 19 Jan 2026 07:42 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Konflik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali memanas setelah kedua kubu yang saling mengklaim takhta kerajaan terlibat adu mulut di depan Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Minggu (18/1).

Kericuhan terjadi ketika penyerahan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan tentang Pemanfaatan Cagar Budaya Keraton Surakarta.

SK Nomor 8 Tahun 2026 itu diserahkan oleh Fadli Zon kepada Kanjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, penyerahan SK sempat tertunda karena kubu SISKS Pakubuwana XIV Purbaya menyampaikan protes dengan alasan tidak dilibatkan dalam penetapan Gusti Tedjowulan sebagai penerima mandat dari Kementerian Kebudayaan.

Acara serah terima SK yang semula dijadwalkan di Sasana Parasdya kemudian dihentikan. Fadli selanjutnya meninjau kawasan Keraton Surakarta yang membutuhkan renovasi, terlebih di Kompleks Keputren.

Setelah peninjauan, Fadli akhirnya menyerahkan SK tersebut secara resmi kepada Tedjowulan di Sasana Hadrawina.

"Untuk kepemimpinan Keraton saat ini pelaksananya Panembahan Agung Tedjowulan," ujarnya.

Dalam SK tersebut menetapkan Tedjowulan sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan/atau Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional.

"Semacam penanggung jawab gitu ya, supaya Kalau kita menghibahkan dana gitu kan jelas kepada siapa," kata Fadli.

Fadli juga mempercayakan Tedjowulan untuk menjadi penengah antara dua kubu yang berselisih soal klaim pemimpin sah Keraton Surakarta.

"Terkait dengan musyawarah mufakat (soal pewaris takhta), nanti beliau (Tedjowulan) akan mengundang semua kerabat untuk duduk bersama," katanya.

Fadli menyebut SK tersebut sebenarnya telah diserahkan beberapa hari sebelumnya di Jakarta. Kata dia, acara penyerahan di Keraton Surakarta, hanya bersifat formalitas.

"Sebenarnya SK ini sudah kita serahkan beberapa hari yang lalu di Jakarta. Ini cuma formalitas saja, supaya ada foto yang bagus," ujarnya.

Politikus Partai Gerindra itu membantah soal penetapan Tedjowulan tanpa melibatkan pihak SISKS Pakubuwono XIV Purbaya. Kata dia, Kemenbud telah berulang kali mengundang pihak PB XIV Purbaya untuk membahas terkait Keraton.

"Selalu kita undang. Tapi waktu diundang tidak datang," katanya.

Pertemuan dengan Gibran

Sebelumnya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sempat makan siang bersama PBXIV Purbaya dan PBXIV Mangkubumi di Solo, Jumat (16/1).

Ia menyebut kunjungannya ke Solo tadinya untuk menghadiri pernikahan sepupunya, Adinda Istiqfarinna. Ia kemudian bertemu dengan tokoh-tokoh Keraton Surakarta.

"Hari ini setelah menghadiri ijab kabul saudara saya, kita jumatan. (Ada) Pak Wali, Gusti Ngabehi, Gusti Purboyo, Gusti Tedjowulan semua," kata Gibran.

Gibran duduk satu meja dengan dua sosok yang mengaku diri sebagai Raja di Keraton Surakarta yaitu Pakubuwana XIV Purbaya dan Pakubuwana XIV Mangkubumi.

Mereka tampak berbincang di salah satu warung sate setelah melaksanakan Salat Jumat di Masjid Agung Surakarta, Solo.

Gibran mengaku sengaja bertemu dengan kedua anak lelaki mendiang Raja Solo PB XIII Hangabehi itu. Terlihat juga di sana Wali Kota Solo Respati Ardi di perbincangan tersebut sambil menikmati hidangan.

Ia mengharapkan pemerintah dan seluruh pihak Keraton mampu menjaga ketertiban serta melestarikan kawasan cagar budaya di Keraton Surakarta.

"Kami titip ke Pak Wali, mohon selalu dijaga kondusivitasnya, aset-aset yang sudah terbangun. Mohon bisa termaintain dengan baik," ujarnya.

Selain itu, Gibran turut mengingatkan seluruh pihak untuk menjaga budaya luhur Kota Solo.

Sementara itu, PB XIV Purbaya menyebut pertemuan dengan Gibran dan PB XIV Mangkubumi, kakaknya, berlangsung dengan santai.

"Enggak (ada pesan khusus). Tadi ngobrol-ngobrol biasa aja beliaunya sudah lama enggak di Solo kan. Terus kebetulan beliau di Solo ada kesempatan Salat Jumat, ya sudah," ujar PB XIV Purbaya.

(fra/nat/fra)