Walkot Surabaya: RPH Pegirian Tetap Pindah untuk Penataan Wisata Ampel

CNN Indonesia
Kamis, 15 Jan 2026 08:10 WIB
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi memastikan Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian tetap dipindah ke RPH Tambak Osowilangun (TOW).
Ratusan jagal sapi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian melakukan unjuk rasa menolak pemindahan. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Surabaya, CNN Indonesia --

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, memberikan respons tegas terkait aksi penolakan para jagal sapi yang enggan dipindahkan dari Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke RPH Tambak Osowilangun (TOW).

Eri menekankan bahwa kebijakan ini bukan keputusan mendadak, melainkan bagian dari rencana besar pembangunan kota yang sudah dirancang sejak lama.

Eri mengatakan, rencana pemindahan operasional RPH tersebut sebenarnya sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya sejak tahun 2016. Namun, pelaksanaannya sempat tertunda akibat pandemi Covid-19.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi saya sampaikan kalau ini saya sudah koordinasi dengan Pak Kapolres, maka RPH ini adalah kegiatan tahun 2016. Sudah masuk dalam rencana pembangunan jangka menengahnya Kota Surabaya. Ini harusnya dijalankan di tahun 2019. Tapi pada waktu itu ada kendala Covid-19," kata Eri saat meninjau eks Hi-tech Mall, Rabu (14/1).

Meski sempat ada penolakan dari jagal dan pedagang, Eri mengatakan, keputusan pemindahan operasi RPH ini sudah final. Ia menyebut hal itu demi kepentingan yang lebih besar, yakni penataan kawasan wisata religi Makam Sunan Ampel agar lebih representatif bagi peziarah.

"[Jagal] mereka mengatakan jangan dipindah, tidak bisa. Karena ini adalah rencana jangka menengahnya pemerintah kota. Di mana kami akan melakukan penataan kawasan Ampel. Tempat itu akan dijadikan tempat parkir. Sehingga tidak ada lagi parkir di jalan. Semuanya akan masuk ke dalam," ucapnya.

Eri kemudian membandingkan kondisi kawasan makam Sunan Ampel dengan wisata religi wali lainnya di Jawa Timur yang umumnya memiliki sistem parkir dan tata kota yang lebih teratur. Ia ingin menjadikan Ampel sebagai kawasan yang nyaman bagi para peziarah, baik dari sisi akses parkir maupun sentra kuliner.

"Jenengan (anda) bisa lihat di mana seluruh [makam] sunan yang ada di wilayah Jatim, para wali sing gak duwe (yang gak punya) diparkir. Ya mek Ampel tok," kata dia.

Meski demikian, Eri mengaku tetap menerima aspirasi dan keberatan para jagal. Ia juga berjanji memenuhi kebutuhan fasilitas di lokasi baru. Namun, ia kembali menegaskan tidak akan membatalkan pemindahan rencana tersebut karena hal ini merupakan aspirasi dari mayoritas warga Surabaya yang menginginkan ketertiban kota.

"Dan penataan kawasan Ampel ini harus berjalan. Jadi saya sampaikan, saya mohon maaf, kalau harus membatalkan, tidak, pasti akan berpindah. Tapi kalau nanti di sana ada yang dilakukan apa, yang InsyaAllah butuh apa, kita akan penuhi untuk teman-teman jagal. Itu kita lakukan ya," ucapnya.

Eri mengatakan, pembangunan gedung parkir dan sentra UMKM di eks lahan RPH Pegirian tersebut direncanakan mulai digarap pada akhir tahun 2026 ini atau awal tahun 2027, seiring dengan penataan kawasan di sekelilingnya.

Sebelumnya, ratusan jagal sapi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPRD dan Balai Kota Surabaya, selama tiga hari berturut-turut, sejak Senin (12/1) hingga Rabu (14/1). Mereka bahkan membawa sejumlah ekor sapi dalam demonstrasi tersebut.

Aksi itu mereka lakukan untuk menolak rencana relokasi aktivitas penyembelihan dari RPH Pegirian ke RPH Tambak Osowilangun (TOW) yang dinilai mengancam mata pencaharian.

Pantauan di lokasi massa membawa truk bermuatan sapi hidup dan menurunkan beberapa ekor sapi berukuran besar tepat di depan gedung parlemen. Mereka bahkan mengancam ancaman akan menyembelih sapi di lokasi aksi sebagai bentuk protes simbolik.

Salah satu orator aksi, Kukuh, menegaskan RPH Pegirian bukan sekadar tempat kerja, melainkan ruang hidup yang telah menopang ekonomi para jagal selama puluhan tahun.

"RPH Pegirian adalah nyawa kami. Kalau dipindah, sama saja mematikan penghidupan kami. Jangan paksa kami menyembelih sapi di depan gedung ini," teriak Kukuh di atas mobil komando.

Selain jagal, aksi juga diikuti pedagang daging sapi dari Pasar Arimbi. Mereka menilai relokasi ke wilayah Surabaya Barat akan berdampak langsung pada distribusi dan kualitas daging.

"Akses ke Tambak Osowilangun terlalu jauh. Biaya operasional naik dan kesegaran daging bisa terganggu," kata Luluk, salah satu pedagang.

Perwakilan jagal, Abdullah Mansyur mengatakan, dalam aksi ini mereka menuntut agar Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi membatalkan kebijakannya memindah RPH Pegirian ke wilayah Tambak Osowilangun.

"Kami menuntut Wali Kota Surabaya membatalkan rencana pemindahan RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun," kata Abdullah, di DPRD Surabaya.

Abdullah juga meminta, Eri untuk mencabut Surat Edaran (SE) yang berisi daftar para jagal yang dipindahkan ke RPH Tambak Osowilangun.

Selain itu pihaknya juga mengancam akan mogok kerja bila belum mendapat tanggapan positif terkait penolakan relokasi RPH dari Pemkot Surabaya.

Oleh karena itu, kata Abdullah, para jagal akan terus menggelar aksi demonstrasi. Sampai, Pemkot Surabaya membatalkan rencana pemindahan RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun.

"Kami akan terus melakukan aksi mogok kerja ini sampai tuntutan kami dipenuhi. Dan kita akan melakukan aksi demo besar-besaran," kata Abdullah.

Abdullah menyebut, total ada sekitar 50 jagal yang bekerja di RPH Pegirian. Mereka mengancam akan melakukan mogok sampai rencana relokasi dibatalkan.

"Total para jagal sekitar 35 sampai 50 orang. Mereka menyuplai semua pasar-pasar tradisional dari Surabaya, hampir di Jawa Timur (Jatim) dan secara nasional," ucapnya.

"Mulai dari hari ini kita pastikan tidak akan ada peredaran daging sapi ke Kota Surabaya. Ini menjadi alarm terhadap pemerintah kota, provinsi dan nasional," tambahnya.

Mogok kerja para jagal tersebut, kata dia, bisa berdampak besar ke kebutuhan daging di pasar. Dengan demikian, pemerintah tidak ada pilihan selain membatalkan rencananya.

"Jadi kita pastikan kalau memang mogok ini tetap berlanjut, akan ada berapa ton daging yang tidak bisa kita suplai. Itu akan mengganggu tentang stabilitas ekonomi nasional," jelasnya.

RPH Pegirian berada di Kecamatan Semampir, Surabaya utara. Sedangkan, Tambak Osowilangun, ada di Kecamatan Benowo, atau di bagian barat Kota Pahlawan.

Total perjalanan yang ditempuh dari wilayah Pegirian menuju ke Tambak Osowilangun, sekitar 15 kilometer atau 35 menit perjalanan.

(frd/isn)


[Gambas:Video CNN]