Saat sejumlah perkantoran di Jakarta memulangkan karyawannya lebih cepat, pedagang keliling tetap beroperasi di titik demonstrasi, Jumat (29/8).
Dari depan gerbang utama DPR RI di kawasan Senayan, pedagang gerobak sudah buka sejak pagi. Informasi bahwa akan ada demonstrasi di DPR malah mengundang mereka datang.
Pedagang kopi keliling atau biasa disebut starling, juga merapat ke titik demonstrasi. Mereka sengaja datang karena ada rezeki yang bisa diambil dari penumpukan massa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati ada rasa khawatir, faktor ekonomi membuat mereka hadir. Bagi mereka datang ke lokasi demonstrasi lebih berpeluang mendatangkan uang ketimbang diam di lokasi lain.
Sambil berdagang, mereka Ikut menyuarakan isi hatinya. Sembari menjajakan dagangannya, mereka ikut berteriak mengikuti yel-yel yang dipekikkan demonstran.
"Berapa sih untung saya dari jual aqua [air mineral]? Cuma Rp1.500. Mereka yang di dalam [anggota DPR] sehari dapat Rp3 juta sehari. Enak sekali joget-joget," kata Roni, pedagang air mineral.
Muhammad, pedagang kopi keliling, mengaku dagangannya tak begitu laku di depan DPR RI. Dari siang hingga sore berputar-putar di sekitar gedung wakil rakyat, tak banyak pelanggan datang.
Ia maklum dengan kondisi itu, sebab demonstran datang bukan untuk jajan. Fokus massa aksi juga mengeluarkan kegundahan hati dan pikiran. Tak banyak yang bersantai untuk ngopi.
Ketika hujan turun, penjaja jas hujan plastik langsung bermunculan. Kontan saja para demonstran memborong dagangannya. Tak sampai lima menit, satu tas berisi jas hujan habis.
Inilah potret kecil demonstrasi di depan gedung DPR RI. Sambil ikut mendukung aksi, masyarakat kelas bawah ini mencoba mengais rezeki. Biar tak seberapa, mereka ikut bersuara.