Hal tersebut dibenarkan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Lahat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Selatan Martialis Puspito. Dirinya berujar, jejak harimau disampaikan oleh seorang warga yang melihat harimau tersebut berkeliaran.
"Ada jejak dan perjumpaan langsung dengan masyarakat yang sedang beraktivitas di dalam hutan lindung," ujar pria yang akrab disapa Ito ini, Jumat (29/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari jejaknya, dugaan kuat itu serangan harimau," ujar Ito.
Namun, dirinya belum bisa memastikan apakah harimau yang terlihat di Desa Rimba Candi sama dengan harimau yang sempat menyerang wisatawan di Taman Wisata Gunung Dempo. Meskipun sama-sama berada di Kota Pagar Alam, lanskap hutan lindung di Desa Rimba Candi dan Gunung Dempo berbeda.
Pihaknya mengimbau agar masyarakat, baik wisatawan maupun warga yang beraktivitas di dekat hutan lindung yang merupakan habitat harimau Sumatra, agar berhati-hati.
Kepala BKSDA Sumsel Genman Hasibuan mengungkapkan, pihaknya belum mengetahui berapa banyak populasi harimau Sumatra di kawasan tersebut. Dari hasil analisa terbaru, setidaknya ada dua ekor harimau yang tinggal di hutan lindung Gunung Dempo. Belum lagi keberadaan jejak tapak kaki yang baru ditemukan di perkebunan warga.
"Yang jelas ada dua ekor karena harimau yang menyerang di dua tempat itu berbeda. Untuk jejak kaki yang baru ditemukan, belum tahu apa harimau yang sama atau bukan," ujarnya.
Menurut dia, warga diimbau untuk tetap beraktivitas seperti biasa karena berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat. Hanya saja, mereka diminta lebih waspada dan menghindari beraktivitas di kebun pada malam hari.
Sebelumnya diberitakan, seorang wisatawan terluka akibat serangan harimau di Taman Wisata Gunung Dempo, Kota Pagar Alam pada Sabtu (16/11) lalu. Selang satu hari berikutnya, Minggu (17/11), seorang petani kopi tewas saat sedang berkebun di Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat karena serangan harimau.
[Gambas:Video CNN] (idz/asr)