"UAS untuk jadi penceramah kemudian tidak boleh, diperiksa orang yang undang, itu namanya adu domba, ada yang menikmati adu domba itu. Ada yang mengail di air keruh," ucapnya, usai menghadiri acara bedah buku di kawasan Medan Merdeka, Jakarta, Sabtu (23/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fadli melanjutkan bahwa bahan adu domba yang rentan digunakan adalah lewat isu radikalisme dan terorisme.
"Ini bisa ditumpang oleh orang-orang yang mau adu domba antara pemerintah dan umat Islam. Orang yang berkepentingan adu domba itu biasanya orang yang tidak suka dengan agama," ungkap dia.
Untuk itu, Fadli meminta pemerintah dan aparat penegak hukum agar bisa lebih jeli melihat berbagai masalah yang ada, termasuk yang dituding berlandaskan radikalisme dan terorisme. Tujuannya, agar tidak termakan dengan potensi adu domba yang mungkin dilancarkan kelompok tertentu.
"Makanya pemerintah harus belajar sejarah, jangan mau diadu domba. Orang Islam di Indonesia sangat moderat, tidak ada teroris, jadi jangan terlalu didramatisir," katanya.
"Kalau itu berulang terus berarti pemberantasan terorisme dan radikalisme itu gagal dong selama belasan tahun ini karena cara pendekatannya atau karena ini proyek terorisme, radikalisme karena ada anggarannya itu," terangnya. (uli/arh)