Menurut Moeldoko, gizi yang diberikan sejak usia dini dapat menekan angka stunting alias gagal tumbuh akibat kurang gizi kronis pada seribu hari pertama.
"Perlu setiap rumah ada (memelihara) ayam, sehingga telurnya itu bisa untuk anak-anaknya," kata Moeldoko di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Jumat (15/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Moeldoko pun mencontohkan India yang kini sudah menerapkan wajib makan lima telur dalam satu minggu. Menurutnya, program itu bisa diterapkan agar anak-anak Indonesia tak mengalami stunting. Saat ini terdapat program yang dijalankan Kementerian Kesehatan, yakni isipiringku.
Moeldoko. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A) |
"Walaupun ini dianggap presiden masih lambat, tetapi kita akan gas lagi ke depan. Untuk itu kita undang para pegiat, teman- kita yang ada di berbagai daerah," tuturnya.
10 Pegiat Pencegahan Stunting
Moeldoko lantas memberikan penghargaan kepada 10 pegiat pencegahan stunting 2019. Ia menyatakan penghargaan yang diberikan pemerintah ini merupakan apresiasi terhadap kerja nyata para pegiat dalam mencegah stunting.
"Kurang lebih 1,7 juta balita telah terselamatkan dari stunting. Ini karena berkat kerja keras pegiat yang tidak kenal menyerah, berbagai inovasi dilakukan. Profilnya luar biasa," kata Moeldoko.
Dalam kesempatan ini, Moeldoko menyerahkan langsung penghargaan kepada 10 pegiat pencegahan stunting. Masing-masing mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp10 juta.
Para pegiat yang mendapatkan penghargaan antara lain, istri Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil, Ratna Megawangi; Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Selina Patta Sumbu; Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini.
[Gambas:Video CNN]
Kemudian penggagas Yayasan 1000 days fund, Zack Petersen; pendiri aplikasi Teman Bumil, Robyn Soetikno; pendiri FeelWell Ceramic (FWC) Stevia Angesty; istri Bupati Sumba Barat, Agustinus Niga Dapawole, Meity Monteiro.
Selanjutnya pendiri Rumoh Gizi Gampong, Aripin Ahmad; Direktur Kemitraan Masyarakat Noer Wulan Sari Kaban; dan mahasiswa Universitas Pertamina Jakarta, Heri Kurniawan (fra/asa)
Moeldoko. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)