Tangan mereka pun diborgol. Kemudian, para penjaga akan mengantar mereka ke ruang sidang masing-masing. Seorang ibu, yang melihat anaknya diborgol, tak sadar berkeluh pada diri sendiri. Suaranya terdengar dari jarak yang tak terlalu jauh.
"Aduh, ngilu lihatnya, enggak akan kabur kok, anak saya," ucap ibu tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain menegangkan, persidangan juga terkesan kaku alias formal. Sidang bergulat antara pernyataan hakim, kuasa hukum, jaksa penuntut dan ekspresi resah terdakwa dengan rompi merah di tengah ruangan.
Lihat juga:Nunung dan Suami Dituntut 1,5 Tahun Penjara |
Beberapa jam sebelum sidang para tahanan sudah dibawa ke ruang tahanan pengadilan. Jeda waktu hingga sidang dimulai acap dimanfaatkan oleh sanak saudara para tahanan yang menjadi terdakwa, untuk bertemu atau sekadar bersahut sejenak.
Para keluarga atau kerabat biasanya bergerombol di dekat pagar yang membatasi ruang tahanan. Dari balik pagar jeruji, sesekali mereka bersahutan dengan para tahanan. Suara mereka cukup keras. Sebab pagar pembatas dan ruang tahanan berjarak sekitar lima meter.
Sejumlah ibu-ibu yang sebenarnya tak saling kenal terlihat bertukar cerita. Mereka sama-sama berkumpul dekat pagar pembatas untuk melihat anaknya yang sedang menunggu sidang.
"Saya kasihan bu liat anak saya ditahan gitu. Tapi kadang juga jengkel, kenapa bandel banget sih," ujar salah satunya.
Sesekali mereka berteriak ke arah jeruji tahanan, memanggil anaknya dan menanyakan kabar.
Rininta (bukan nama sebenarnya) yang sedang mengandung anak pertama, bercerita dirinya selalu mampir ke area ruang tahanan setiap suaminya dijadwalkan sidang. Ini merupakan kali ke-5 ia berkunjung ke PN Jakarta Selatan untuk menjenguk suaminya.
"Ini sudah sidang ke lima. Belum divonis soalnya masih ditunda terus. Berkasnya ada yang kurang atau belum siap," ujar Rininta kepada CNNIndonesia.com selagi beristirahat di pojok ruangan bersama temannya, Kirana (bukan nama sebenarnya).
Kirana dan Rininta pertama kali kenal ketika suami mereka ditahan di Rutan Cipinang, Jakarta Timur, 7 bulan lalu. Ketika suaminya ditahan, usia kandungan Rininta masih seumur jagung. Setiap menjenguk ke rutan ataupun menghadiri sidang, ia selalu ditemani Kirana.
"Kita kenal waktu suami sama-sama ditahan. Ternyata pas sidang jadwalnya bareng. Jadi ke sini selalu bareng," tutur Kirana menambahkan.
"Kadang bisa ngobrol kalau lagi sidang. Tapi ya enggak banyak, karena kan fokus ke sidangnya dan enggak boleh lama-lama," cerita Kirana.
Hal serupa dituturkan Tono (bukan nama sebenarnya) yang sedang menjenguk keponakannya.
Keponakan Tono menjalani sidang setiap hari Kamis di PN Jakarta Selatan. Setidaknya dua minggu sekali Tono datang ke sini untuk mengantar makanan untuk keponakannya.
"Anaknya nggak suka makan ayam atau daging. Sukanya telur. Di sana kan nggak setiap hari dikasih makan telur terus. Jadi saya bawakan nasi sama telur," ujarnya.
Tono bercerita keluarganya yang lain tak tega berkunjung ke sidang melihat keponakannya memakai rompi merah dengan tangan diborgol. Maka itu, ia menawarkan diri setiap dua minggu sekali datang mengantar makanan.
"Orang di rumah itu perempuan semua. Mereka nggak tega. Jadi saya bawain makanan. Kasihan, kan, dia sukanya makan telur," tutur Tono. (fey/wis)