PBNU dan Polemik Khotbah Jumat Menteri Agama Fachrul Razi

CNN Indonesia | Sabtu, 09/11/2019 17:12 WIB
PBNU dan Polemik Khotbah Jumat Menteri Agama Fachrul Razi Menag Fachrul Razi. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Khotbah perdana Menteri Agama Fachrul Razi pada salat Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta menuai respons. Sebabnya, khotbah pada 1 November 2019 itu disebut tak menggunakan salawat yang merupakan salah satu rukun khotbah Jumat.

Akun Generasi Muda NU di laman berbagi Youtube mengunggah ulasan khotbah berjudul 'KH Zuhri Ya'qub: Khotbah Jumat Menag Fachrul Razi di Istiqlal Tidak Sah'.

Dalam video berdurasi dua menit lebih itu, pewawancara bertanya pada Rois Syuriyah PWNU Jakarta Zuhri Ya'qub tentang pelaksanaan khotbah salat Jumat yang ia sebut tanpa salawat pada khotbah pertama dan tanpa wasiat takwa pada khotbah kedua.


"Sejauh yang saya tahu dalam perspektif fiqih mazhab Syafi'i bahwa rukun khotbah itu yang pertama membaca hamdallah, yang kedua salawat lalu membaca wasiat takwa. Ketiga rukun ini mesti disampaikan baik di khotbah pertama maupun kedua," jawab Zuhri dalam video yang diakses CNNIndonesia.com, Jumat (8/11).

"Lalu kemudian membaca ayat Al Quran di salah satu dua khotbah dan, kemudian membaca doa untuk muslimin dan muslimat di khotbah kedua," lanjut dia lagi.


Ia pun melanjutkan ketika seorang khotib tidak menyampaikan salah satu rukun maka khotbahnya dianggap tidak sah. Sebab rukun itu, menurut dia tidak boleh ditinggal. Konsekuensinya, Zuhri berkata pelaksanaan prosesi salat Jumat itu tercederai.

"Karena khotbah bagian dari pelaksanaan Jumat. Maka bagi orang yang melaksanakan Jumat di tempat tersebut, seharusnya meng-qodho dengan salat dhuhur," sambung dia.

Merespons kejadian tersebut, Rois Syuriyah PBNU Masdar Farid Mas'udi menduga apa yang abai dilakukan Menteri Agama, adalah faktor ketidaksengajaan.

"Karena lupa saja, masa' baca salawat saja enggak mau," kata Masdar diikuti tawa, saat ditemui CNNIndonesia.com di rumahnya di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, Kamis (8/11).

Polemik Khotbah Jumat Menteri Agama Fachrul RaziIlustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


"Ya, sudah, faktanya begitu ya terima saja. Yang penting ada tausiyah, tiga atau empat syaratnya sudah dilakukan, saya kira cukup itu. Insyaallah diterima lah, diampuni sama maha pengampun," jelas Masdar.

Kendati begitu ia mengakui, standar rukun khotbah yang dianut NU merujuk pada Mazhab Syafi'i yang memuat lima syarat. Mazhab Syafi'i adalah ajaran yang dianut mayoritas muslim di Indonesia.

Kata Masdar, selain memenuhi rukun khotbah, NU juga mengimbau pesan dalam khotbah disampaikan dengan santun, lembut dan sentuhan hati.

Menurut pendakwah sekaligus pengajar di Kampus Syariah Sekolah Fiqih Ahmad Sarwat, terdapat perbedaan rukun khotbah dari tiap-tiap Mazhab. Pandangan Mazhab Hanafi, misalnya, rukun khotbahnya hanya satu yakni membaca hamdalah, tahlil dan tasbih.

"Mazhab Hanafi cuma satu yaitu dzikir kepada Allah saja. Sebab ayatnya dalam Alquran kan cuma memerintahkan dzikir saja," jelas Sarwat saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (8/11).


Ia melanjutkan dengan mengutip salah satu ayat Alquran dalam surat Al Jumuah ayat sembilan yang berbunyi: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.

"Jadi dalam keadaan minimalis, misalnya khotbah itu cuma berupa dzikir seperti subhanallah pun cukup sudah dan sah," tambah Sarwat yang menghabiskan kuliah sarjananya di jurusan perbandingan Mazhab.

Hanya saja, Syarwat mengatakan jejak penyebaran Mazhab Hanafi ini tak sampai ke negara seperti Indonesia, Malaysia atau Asia Tenggara pada umumnya.

"Di kita mana bisa seperti itu," tambah dia lagi. Pasalnya, umat muslim di Indonesia mayoritas menganut Mazhab Syafi'i.

Lain lagi dengan rukun khotbah Mazhab Maliki. Syarwat berkata Mazhab Maliki memuat lima ketentuan dan Mazhab Hambali terdiri atas empat syarat.

[Gambas:Video CNN]

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam menyatakan mayoritas muslim di Indonesia mengikuti Mazhab Syafi'i. Karena itu ia menegaskan khotbah Jumat harus memenuhi rukun khotbah yang memuat lima ketentuan.

"Menurut jumhur ulama ada 5, memuji Allah di kedua khotbah, misalnya dengan Alhamdulillah. Membaca salawat di kedua khotbah, membaca wasiat takwa di kedua khotbah, membaca ayat suci Alquran di salah satu khotbah dan berdoa untuk kaum muslim di khotbah kedua," kata Asrorun melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com.

"Salat Jumat tanpa khotbah, atau khotbah yang tidak memenuhi syarat dan turunannya, tidak sah," tukas Asrorun lagi.


Sarwat pun tak menampik jika kurang rukun khotbah memang agak bermasalah. Apalagi mengingat posisi Fachrul Razi sebagai menteri agama di Indonesia yang bermazhab Syafi'i. Hanya saja ia mengusulkan, alangkah lebih elok bila kekeliruan itu direspons secara adil.

"Sebenarnya yang melakukan 'kesalahan' kayak gitu banyak banget di negeri kita ini," tutur dia.

"Kalau saya pribadi sih sederhana saja. Yang pada enggak baca salawat waktu khotbah itu cukup banyak juga. Kalau mau menegur, ya tegur semuanya," pungkas Sarwat.

Menteri Agama Fachrul Razi telah menanggapi kritik mengenai khotbah Jumatnya. Ia mengaku mulanya sempat ingin marah, bahkan tak ingin peduli juga malas menanggapi. Tapi kemudian ia meminta bawahannya untuk mencari rekaman lengkap saat dirinya menjadi khatib.


Tujuannya, untuk menyeimbangkan informasi dan asumsi negatif yang telanjur beredar. Setelah memeriksa video, Mantan Wakil Panglima TNI tersebut lantas berterima kasih karena Zuhri Ya'qub memberikan kritik yang substantif.

"Untung dia masih kasih masukan ada substansinya sedikit," kata Fachrul di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (7/11). (ika)