Veri berkata mengembalikan sistem pilkada menjadi tidak langsung bukan solusi persoalan politik berbiaya tinggi. Sebab permasalahannya bukan pada sistem, tetapi pelaksanaan pemilihan di lapangan.
"Mestinya kalau ada tesis bahwa pilkada berbiaya tinggi maka rekomendasinya bagaimana tidak berbiaya tinggi. Bukan kemudian merombak sistemnya dari langsung menjadi tidak langsung. Itu yang menurut saya perlu diklirkan dulu," kata Veri kepada CNNIndonesia.com, Jumat (8/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak empat tahun lalu Mendagri (Tjahjo Kumolo) juga concern politik biaya tinggi ini adalah persoalan bersama. Hanya memang ndak boleh langsung lompat kesimpulannya, tapi mengupayakan bagaimana perbaikan-perbaikan itu dilakukan supaya politik tidak berbiaya tinggi," tutur Veri.
"Ini yang memang menurut saya sih pemerintah melakukan kajian secara terbuka, mengundang seluruh elemen untuk mendiskusikan di mana letak persoalannya dan apa yang harus dilakukan," Veri menjelaskan.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Mendagri Tito Karnavian mengatakan berencana melakukan evaluasi terhadap pilkada langsung. Menurutnya pilkada secara langsung menimbulkan biaya tinggi dan memicu potensi korupsi kepala daerah.
"Kalau dari saya sendiri justru pertanyaan saya adalah apakah sistem politik pemilu pilkada ini masih relevan setelah 20 tahun? Banyak manfaatnya partisipan demokrasi meningkat. Tapi juga kita lihat mudaratnya ada, politik biaya tinggi. Kepala daerah kalau enggak punya Rp30 miliar mau jadi bupati, mana berani dia," kata Tito di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (6/11). (dhf/osc)