ANALISIS

Cek Ombak Bamsoet, Blunder Airlangga dan Pengaruh Jokowi

CNN Indonesia | Kamis, 07/11/2019 07:08 WIB
Cek Ombak Bamsoet, Blunder Airlangga dan Pengaruh Jokowi Bambang Soesatyo (kiri) bersama Airlangga Hartarto (kanan). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Persaingan antara Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) dalam perebutan kursi Golkar 1 memasuki babak baru.

Setelah sempat surut saat mendapat kursi Ketua MPR, Bamsoet bermanuver dengan mengeluarkan sikap akan mempertimbangkan kembali untuk maju dalam bursa pencalonan ketua umum partai berlogo pohon beringin tersebut.

Bamsoet menilai tak ada sesuatu yang dilanggar dalam pencalonannya ini setelah mendapat tugas dari partai sebagai Ketua MPR. Menurut dia, tak ada komitmen politik yang menyebut 'tukar-guling' soal posisi dirinya sebagai Ketua MPR dan Airlangga sebagai Ketua Umum Golkar.


"Emang pacaran pakai pengkhianatan? ini kan saya tidak sedang bercinta, tapi sedang berpolitik. Masa ada pengkhianatan-pengkhianatan?" Kata dia di Gedung DPR, Senin (4/11).

Sikap ini membuat kubu Airlangga 'panas'. Kritik acapkali dilontarkan kader pendukung sang ketum petahana, salah satunya Aziz Syamsuddin yang saat ini menjadi Wakil Ketua DPR. Aziz, yang juga merupakan Koordinator Bidang Ekonomi DPP Partai Golkar bahkan menyindir manuver Bamsoet itu dengan mengingatkan soal laknat Tuhan terhadap seseorang yang ingkar janji.

"Yang tahu antara Pak Airlangga, Pak Bamsoet, sama Allah yang tahu. Biar yang mengingkari, Allah yang melaknatnya," ujar Aziz.

Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno melihat manuver Bamsoet sebagai upaya mencari bekal sebelum meneguhkan diri bakal maju atau tidak dalam pencalonan ketua umum Golkar.

"Saya membaca ini sedang mengetes kecenderungan pasar bagaimana resistensi dan reaksi publik. Terutama bagaimana reaksi di internal golkar. Bagaimana respons kalau Bamsoet maju," kata Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (6/11).

"Apakah dengan statement Bamsoet yang sedang mempertimbangkan untuk maju sebagai caketum itu reaksinya positif atau tidak, itu menjadi penting sebagai bekal untuk meneguhkan Bamsoet ini maju atau tidak di Desember nanti," sambung pengajar ilmu politik di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta tersebut.

Di satu sisi, Adi menilai langkah Bamsoet kali ini tepat yakni di saat dirinya sudah menjabat sebagai Ketua MPR.

"Apalagi Bamsoet sekarang sebagai Ketua MPR itu bisa dijadikan sebagai instrumen untuk menjangkau (kader) golkar-golkar di daerah. Ketua MPR itu punya suatu keistimewaan misalnya program kebangsaan empat pilar, dan sebagainya itu," ujarnya.

"Saat ini Bamsoet punya jalur berkomunikasi dengan teman-teman di DPD itu. Sekali pun enggak ngomongin politik, enggak ngomongin internal golkar, tapi bisa berkunjung dengan mereka itu satu hal yang luar biasa," simpul Adi.

Bursa Caketum Golkar, 'Blunder' Airlangga dan Pengaruh JokowiIlustrasi suasana musyawarah nasional Golkar. (CNNIndonesia/Gilang Fauzi)
Secara terpisah, pengamat politik Kunto Adi Wibowo menyebut kubu Airlangga telah melakukan 'blunder' dengan menempatkan Bamsoet sebagai Ketua MPR.

Senada dengan Adi, Kunto memandang Bamsoet akan lebih mudah menjangkau kader Golkar di daerah yang memiliki suara dalam musyawarah nasional yang rencananya digelar Desember mendatang.

"Sebenarnya kemarin saya melihatnya ada kesalahan strategi dari kubu Airlangga ketika menawarkan kursi MPR itu ke Bamsoet dengan catatan bahwa Bamsoet enggak akan maju lagi jadi calon ketua umum," kata Kunto, Rabu.

"Tinggal cari dukungan saja dalam bertarung. Kalau masalah jadi calon atau enggak menurut saya Bamsoet sangat bisa jadi calon sekarang, punya peluang besar," sambung Direktur Eksekutif KedaiKOPI tersebut.

Baik Adi maupun Kunto menganggap wajar kegaduhan yang muncul di internal Golkar menjelang berlangsungnya Munas. Mereka menilai itulah sejatinya ciri khas dari Partai Golkar.

"Dasar dari politik internal itu memang persaingan, panas gitu. Berbeda dengan partai yang sebelumnya ada pemilihan. PDIP dan PKB relatif adem ayem. Kalau panas, ada dinamika, dan bergejolak seperti sekarang itu adalah habitus dasar dari politik internal golkar," kata Adi.

Adi menilai kegaduhan awal akan muncul ketika Bamsoet secara gamblang mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon ketua umum.

Sementara itu bagi Kunto, kegaduhan tidak serta merta membuat partai beringin tersebut goyang. Pasalnya, kata dia, Golkar memiliki sejarah panjang seputar pemilihan calon ketua umum. 

"Itu terlalu dini karena kesejarahannya panjang kok, kayak gini sering. Jadi, kejadian ini tidak akan secara otomatis menggoyangkan pohon beringin. Akarnya sudah kuat itu," katanya.

[Gambas:Video CNN]
Kendati demikian, ujar Kunto, masih ada indikator lain yang sangat menentukan hasil yakni pengaruh besar dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

"Kalau Partai Golkar biasanya pemilik suara akan mengikuti arahan penguasa. Nah, kali ini mereka akan ikut arahan Jokowi. Jadi saling berebut pengaruh ini tidak hanya fokus ke pemilik suara namun juga ke presiden," ujar pria yang juga mengajar ilmu komunikasi di Universitas Padjadjaran tersebut.

Sebelumnya Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto resmi memutuskan jadwal penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) untuk memilih Ketua Umum Golkar periode 2019-2024 akan digelar di Jakarta pada tanggal 4-6 Desember 2019. Keputusan itu berdasarkan hasil rapat pleno Partai Golkar yang digelar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, pada Selasa (5/11) malam.

(ryn/kid)