Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Iriansyah mengatakan, kondisi Sumsel saat ini berbeda dengan 5 provinsi lain yang sama-sama berjibaku dengan karhutla. Wilayah lain sudah berangsur normal namun Sumsel peningkatan titik api masih terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel Ansori menambahkan, karhutla yang terjadi pada 2019 di Sumsel lebih parah daripada masa 2016-2018 namun masih di bawah daripada 2015. Meskipun pihaknya belum mengevaluasi lebih detil, namun pihaknya mengakui bahwa karhutla 2019 paling parah sejak 3 tahun terakhir.
"Selain personel dan peralatan, kita juga minta anggaran untuk diperpanjang karena sampai 31 Oktober anggaran kita habis. Padahal karhutla masih terjadi," ujar dia.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumsel Nuga Putrantijo berujar potensi hujan akan berkurang dipengaruhi badai tropis Bualoi yang pusat tekanannya terjadi di Samudera Hindia. Hal itu mengakibatkan potensi asap akan terus terjadi.
[Gambas:Video CNN]
Seiring melemahnya Badai Tropis Bualoi akan berpotensi munculnya Borneo Vorteks (Sirkulasi Kalimantan) yang menyebabkan masuknya massa udara dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa ke wilayah Sumsel.
"Ada kemunduran masa musim hujan yang tadinya diprediksi terjadi di Dasarian I mundur ke Dasarian III Oktober. Prediksinya hujan baru terjadi di akhir Oktober sekitar tanggal 27-30 Oktober atau di Dasarian I November sekitar tanggal 1 November. Potensi awan di tanggal itu harus dimanfaatkan untuk hujan buatan," ujarnya.