Anggota Polisi Meninggal Dunia karena Pemilu Capai 18 Orang

CNN Indonesia | Jumat, 26/04/2019 16:30 WIB
Anggota Polisi Meninggal Dunia karena Pemilu Capai 18 Orang Ilustrasi petugas KPPS tengah melakukan penghitungan suara di Pemilu 2019. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyebut jumlah personel kepolisian yang meninggal dunia selama bertugas untuk Pemilu 2019 mencapai 18 orang. Angka tersebut bertambah dari data sebelumnya per Kamis (25/4) yang berjumlah 16 orang.

"Jadi ini sudah 18 anggota polri yang gugur selama pelaksanaan pengamanan pemilu," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal (Brigjen) Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jumat (26/4).

18 orang yang meninggal tersebut berada di sejumlah wilayah, mulai dari Kalimantan Timur, Sumatra Utara, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Jakarta, hingga Sulawesi Selatan


Dedi mengatakan kemarin pihaknya mendapat informasi bahwa satu anggota Polri di Purwakarta meninggal pada saat proses pengamanan Pemilu 2019. Personel gugur karena kelelahan secara fisik.

Anggota Polisi Meninggal Dunia karena Pemilu tembus 18 OrangBrigjen Pol Ded Prasetyo. (CNN Indonesia/Hesti Rika)



"Badannya merasa tidak enak, saat pengamanan di KPUD, kemudian dibawa ke RS Siloam, di Purwakarta, dalam perawatan 1 hari kemudian meninggal dunia," tutur Dedi.

Kemudian, Dedi menjelaskan sebagian besar kondisi kesehatan anggota Polri kurang baik karena rangkaian pengamanan Pemilu 2019 yang cukup lama. Ia menambahkan bahwa sebagian anggota yang gugur juga karena mengalami gagal jantung.

Lebih dari itu, Dedi mengatakan bahwa terdapat beberapa hak yang akan diterima personel yang meninggal. Mereka akan menerima gaji terusan secara penuh selama setahun. Selain itu, juga bakal menerima asuransi bakti Bhayangkara, Asuransi Asapri, Wirapta, serta uang yang berkaitan dengan kedukaan.

Polri, kata Dedi, juga telah melakukan evaluasi dari aspek kesehatan bagi para personel yang bertugas serta analisis yang komperhensif divisi kedokteran kesehatan Polri.

"Itu perlu dilakukan suatu analisa yg komprehensif oleh pusdokkes," kata Dedi menambahkan.


Kemudian, Dedi mengakui tidak ada pemeriksaan kesehatan bagi anggota Polri pada saat pemilu. Ia menambahkan, itu terjadi lantaran setiap semester Polri selalu mengadakan jadwal pemeriksaan kesehatan bagi para anggota

"Polri sebenarnya setiap semester itu selalu mengadakan jadwal untuk pemeriksaan rutin kepada seluruh anggota," kata dia.

Dalam pemeriksaan tersebut Dedi mengatakan para anggota Polri akan mendapatakan obat-obatan, vitamin dan sebagainya. Namun, beberapa anggota Polri tidak melaksanakan pemeriksaan kesehatan ketika sudah masuk jadwalnya. Dedi menambahkan sebagian besar anggota Polri yang meninggal karena tidak melakukan pemeriksaan secara teratur.

"Sebagian besar anggota polisi yang meninggal karena keenganan mereka melakukan pemeriksaan kesehatan, akibatnya sebagian besar terserang jantung," jelas Dedi.


[Gambas:Video CNN] (Sas/ain)