16 Personel Meninggal Tugas Pemilu, Polri Benahi Aturan Shift

CNN Indonesia | Kamis, 25/04/2019 14:45 WIB
16 Personel Meninggal Tugas Pemilu, Polri Benahi Aturan Shift Tim medis memeriksa kondisi kesehatan anggota TNI/Polri saat pengamanan penghitungan suara Pemilu 2019 tingkat kecamatan di Sekretariat PPK Talun, Blitar, Jawa Timur, Senin (22/4/2019). (ANTARA FOTO/Irfan Anshori)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengaku pihaknya membenahi sistem bagi waktu (shift) kepada personel di lapangan dalam rangka pengamanan Pemilu 2019.

Pengaturan shift dilakukan menyusul kabar 16 personel polisi meninggal dunia selama bertugas mengamankan pemilu. Faktor dominan penyebabnya adalah kelelahan.

"Ini harus betul-betul shiftnya secara bergantian diatur waktunya, kemudian waktu-waktu istirahatnya juga harus diperhatikan," kata Dedi di Mabes Polri, Kamis (25/4).


Dedi mengatakan sudah ada telegram rahasia (TR) berupa arahan yang dikirimkan kepada seluruh anggota Polri yang bertugas untuk mengatur pembagian shift tersebut. TR tersebut, kata dia, merupakan hasil evaluasi dari Asisten Sumber Daya Manusia Polri.


16 Personel Meninggal Tugas Pemilu, Polri Benahi Aturan ShiftBrigjen Pol Dedi Prasetyo. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Selain itu, kata dia, Divisi Kedokteran dan Kesehatan seluruh Polda juga diminta untuk memberikan tambahan asupan vitamin dalam rangka menjaga stamina para anggota. Para anggota juga diminta rutin melakukan cek kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya.

"Kesehatan tentunya dikontrol terus tiap saat agar betul-betul menjaga stamina anggota tersebut," ucap Dedi.

Dedi mengungkapkan memang ada peningkatan jumlah anggota yang meninggal selama pelaksanaan pemilu tahun ini jika dibanding dengan pemilu sebelumnya. Pada 2014, dikatakan Dedi, jumlah anggota meninggal tercatat sebanyak delapan orang.

Disampaikan Dedi, faktor kelelahan menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, sambungnya, penyebab lainnya adalah faktor durasi yang panjang dalam rangkaian pengamanan pemilu.


"Mulai dari persiapan berangkat, persiapan pengamanan di TPS, pengamanan penghitungan suara, dan pengamanan pengawalan surat suara," ucap Dedi.

Selain itu, kata Dedi, faktor geografis di tempat bertugas juga menjadi penyebab meninggalnya para anggota.

"Memang kondisi tiap orang berbeda, kemudian kondisi geografis TPS tersebut ada yang sangat jauh dari pemukiman dan menyulitkan. Maka sebagian besar yang meninggal di luar Pulau Jawa, kalau yang di Pulau Jawa disebabkan kecelakaan lalu lintas," tuturnya.

Sementara itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia pada Pemilu 2019 bertambah menjadi 144 orang. Komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik mengatakan angka itu bertambah dari jumlah sebelumnya 119 orang yang tercatat pada Selasa (23/4).

"Berita duka lagi yang saya sampaikan, update kita tanggal 24 April pukul 15.00 WIB, kedukaan kami sebagai penyelenggara pemilu bertambah. Saat ini 144 orang yang wafat dari penyelenggara pemilu dan 883 sakit," kata Evi lewat keterangan tertulis, Rabu (24/4).


[Gambas:Video CNN] (dis/ain)