Tim Jokowi Nilai Amien Rais Alami Gejala Post Power Syndrome

CNN Indonesia | Rabu, 24/04/2019 18:43 WIB
Tim Jokowi Nilai Amien Rais Alami Gejala Post Power Syndrome Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Amien Rais. (CNN Indonesia/Claudea Novitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru Kampanye Nasional Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Dedek Prayudi mengkritik keras pernyataan Politikus senior PAN Amien Rais yang menuduh presiden Jokowi totaliter dan otoriter.

Dedek menilai pernyataan itu muncul lantaran Amien sedang mengalami gejala kejiwaan akibat kehilangan kekuasaan atau 'post power syndrome' karena tak pernah mencapai puncak karier politik yang dicita-citakannya.

"Saya menilai Pak Amien itu tak mencapai puncak karier yang dicita-citakan padahal usia beliau sudah uzur, sehingga saya sebut sebagai post power syndrome," kata Dedek kepada CNNIndonesia.com, Rabu (24/4).


Dedek tak heran lagi mendengar berbagai tuduhan tak rasional yang dialamatkan Amien untuk Jokowi lima tahun belakangan ini. Ia lantas menyinggung bahwa Amien pernah berjanji akan jalan kaki Yogyakarta-Jakarta bila Jokowi terpilih di Pilpres 2014.

"Tapi sampai sekarang enggak pernah jalan kaki, lalu Pak Amien juga pernah mengatakan pemilu ini perang uhud, perang badar, perang armageddon. Saya pikir ini hanya kalimat irasional yang diucapkan oleh seseorang mengalami post power syndrome," kata dia.
Dedek menilai praktik kehidupan berdemokrasi di Indonesia pada saat pemerintahan Jokowi 4,5 tahun belakangan memang masih belum sempurna.

Meski demikian praktik kehidupan demokrasi di era Jokowi masih lebih baik ketimbang periode presiden-presiden sebelumnya.

Ia menilai Jokowi sedang berupaya keras untuk memperbaiki kualitas kehidupan berdemokrasi di Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.

"Di saat itu [sebelum era Jokowi] ada pihak-pihak yang melakukan persekusi kemudian dibiarkan. Nah di era sekarang ini pak Jokowi diwariskan hal demikian rupa, dan pak Jokowi sedang memperbaiki hal itu," kata dia.

Tak hanya itu, Dedek menilai penyelenggaraan Pemilu serentak tahun 2019 menunjukkan Indonesia masih menjadi negara terbesar demokrasi di dunia.

Ia menyatakan Pemilu 2019 ini dilakukan dengan sangat transparan dan tak ada yang ditutup-tutupi seperti halnya terjadi di bawah kendali rezim yang otoriter.

"Jadi kalau kita lihat size dalam pilpres kali ini sangat besar. Dan yg boleh dilihat pilpres kali ini bisa di desain sedemikian terbuka," kata dia.
Selain itu, Dedek menilai kritik Amien Rais kepada Jokowi itu tak lebih dari ungkapan rasa kecewa akibat Prabowo-Sandiaga mengalami kekalahan di versi hitung cepat (quick count).

"Pernyataan itu nggak lebih karena Paslon Prabowo kalah di quick count saja," kata dia.

Sebelumnya, Amien menyebut demokrasi di era pemerintahan Joko Widodo berwatak demokrasi seolah-olah. Menurut Amien penampakannya saja demokrasi, padahal substansinya otoriter.
[Gambas:Video CNN] (rzr/ugo)