ANALISIS

Solo dan Jalan Terjal Prabowo Kikis Hegemoni Jokowi

CNN Indonesia | Rabu, 10/04/2019 12:33 WIB
Solo dan Jalan Terjal Prabowo Kikis Hegemoni Jokowi Calon presiden Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kampanye Prabowo Subianto di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, hari ini (10/4) hanya berselang sehari setelah kampanye rivalnya, Joko Widodo, di tempat yang sama.

Kemeriahan kampanye Prabowo di Solo bisa menjadi simbol penting yang diharapkan mempengaruhi pemilih di daerah lain di Jawa Tengah.

Secara elektoral, jumlah pemilih di Solo raya memang tak begitu istimewa. KPU mencatat pemilih di eks Keresidenan Solo yang berjumlah 7 daerah sebesar 5,24 juta suara dari total 27,8 juta pemilih di Provinsi Jawa Tengah.


Untuk Surakarta sendiri di mana Jokowi berasal, jumlah pemilih tetapnya pada Pemilu 2019 ini adalah 422.689 orang.

Namun status Solo sebagai kota kelahiran Jokowi membuat kota itu punya magnet politik tersendiri. Solo bahkan dianggap bisa menjadi batu loncatan bagi rival Jokowi, Prabowo Subianto, dalam ambisi menaklukkan Jawa Tengah.

Agus Riewanto, pengamat politik dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengatakan selain jadi kampung halaman Jokowi, Solo juga identik dengan basis pemilih PDIP.

Karena itulah Solo dianggap punya daya tarik bagi kubu Prabowo sebagai oposisi. Agus mengatakan jika kampanye Prabowo hari ini bisa lebih menggegerkan dari kampanye petahana sebelumnya, maka mantan Danjen Kopassus itu dianggap dapat melempar kesan kuat bagi pemilih baru.

"Ketika kampanye di Solo sangat meriah dan bisa menghadirkan massa yang luar biasa, itu bisa menampilkan kesan ke nasional dan internasional seolah-olah menguasai Jawa Tengah yang merupakan kandang banteng," kata Agus kepada CNNIndonesia.com.

Meski demikian Agus menilai upaya Prabowo tersebut akan menemui jalan terjal. Pasalnya tak ada gebrakan khusus yang kubu oposisi lakukan di Solo dengan waktu yang tersisa sekarang.

"Kalau kemarin terjadi perolehan suara yang tinggi dari Sudirman Said, itu bukan karena dia. Itu karena Mbak Ida (Fauziyah) yang didukung PKB," jelas Agus.

Kendati demikian, Agus memperkirakan target Prabowo di Solo memang tidak sejauh itu. Mengingat perolehan suara Jokowi di kampung halamannya ini pada 2014 mencapai 84 persen, ia menduga strategi Prabowo di sana hanya untuk psywar yang dapat menjadi batu loncatan di skala nasional.

"Yang diincar bukan Solo-nya. Solo itu batu loncatan bahwa kita berani bertarung di kandang lawan. Tapi keberanian mereka bertarung di kandang lawan itu yang akan dijadikan bahan merebut simpati ke nasional," kata Agus.

Upaya menaklukkan Solo dan menggoda pemilih lain di Jawa Tengah penting bagi Prabowo untuk memperkecil kekalahannya di Jawa Tengah. Pada Pemilu 2014 lalu, selisih perolehan suara Jokowi dengan Prabowo mencapai 6,5 juta suara di Jawa Tengah. 
Solo dan Jalan Terjal Prabowo Kikis Hegemoni JokowiSuasana kampanye Prabowo di Stadion Sriwedari, Solo. (CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)

Memperkecil kekalahan di Jawa Tengah, pada akhirnya bisa memperbesar kans kemenangan Prabowo di Pilpres 2019. Ini karena Jawa Tengah jadi salah satu dari tiga provinsi dengan jumlah pemilih terbanyak.

Ujang Komaruddin, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, melihat sejauh ini belum ada strategi khusus dari kubu Prabowo untuk menandingi Jokowi di Solo serta Jawa Tengah.

Dengan kondisi demikian, Ujang ragu barisan oposisi bisa menembus rapatnya basis pemilih Jokowi di sana.

"Mereka enggak punya jaringan yang cukup kuat di sana. Dukungan partai, masyarakat Jawa Tengah, lebih identik ke Jokowi sehingga sulit digoyahkan," jelasnya.

Namun kampanye Prabowo di Solo hari ini yang hanya berselang sehari dari rivalnya, dianggap dapat sedikit memberi gebrakan bagi oposisi di sana.

Ujang menyebut setidaknya menembus sedikit pertahanan petahana bila Prabowo, di hadapan massa, bisa mematahkan klaim-klaim Jokowi dalam kampanye sebelumnya.

"Itu namanya bersih-bersih. Apa yang dikatakan Jokowi akan disikat habis setelahnya. Tapi itu tergantung masyarakat sendiri yang menilai," ujar Ujang. (bin/wis)