Alasan AHY Kampanye Terbuka di Jakarta: 'Central of Gravity'

CNN Indonesia | Senin, 25/03/2019 01:18 WIB
Alasan AHY Kampanye Terbuka di Jakarta: 'Central of Gravity' AHY menggelar kampanye terbuka pertama di Ciracas, Jakarta, karena dianggap sebagai pusat kegiatan ekonomi dan politik. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY sengaja memilih DKI Jakarta sebagai tempat pertama untuk melakukan kampanye terbuka hari ini, Minggu (24/3).

Hal ini lantaran Jakarta dianggap sebagai ibu kota tentu merupakan pusat kegiatan berbagai macam sektor, dari ekonomi, politik, hingga sosial. Untuk itu, penyebaran visi dan misi partai dimulai dari Jakarta.

"Jakarta tentunya menjadi central of gravity. Dimulai dari Jakarta disebarluaskan ke seluruh wilayah tanah air," ungkap AHY, Minggu (24/3).


Kendati begitu, AHY juga segera berkunjung ke berbagai daerah untuk menyapa masyarakat dan mendengar keluhan mereka, serta menawarkan solusi yang terbaik. Tak lupa, AHY juga akan meyakinkan para kader bahwa Partai Demokrat bekerja dengan baik dan efektif.

"Lusa dan seterusnya saya akan berkeliling ke berbagai wilayah lainnya," terang dia.

Dalam kampanyenya kali ini, AHY bercerita mengenai beberapa keluhan warga yang ia datangi beberapa waktu lalu di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kabupaten Cilacap dan Kebumen.

Untuk di Sumatera, banyak warga yang mengeluhkan jatuhnya harga komoditas karet saat ini. AHY pun langsung membandingkan harga karet zaman SBY yang sebesar Rp15.000 per kilogram (kg), dibandingkan sekarang yang jauh di bawah itu.

Kemudian, beberapa warga juga komplain terkait mahalnya harga beras. AHY mengklaim warga rindu era SBY yang bisa membuat harga beras hanya Rp5.000 per kg.

"Karet sekarang hancur. Harga beras naik. Belum lagi permasalahan daya beli yang melemah. Ini memberatkan masyarakat di sana-sini," ucap AHY.

Sementara itu, ia juga bertemu dengan beberapa tenaga honorer di Kabupaten Cilacap dan Kebumen. Dalam hal ini, mereka bercerita bahwa tak diangkat penjadi pegawai negeri sipil (PNS) meski sudah mengabdi puluhan tahun.

"Masa pemerintahan SBY ada lebih 1 juta honorer yang diangkat PNS, sedangkan empat sampai lima tahun terakhir yang diangkat PNS belum ada," jelas AHY.

Lebih lanjut AHY mengatakan bahwa partainya menargetkan raihan suara setidaknya 10 persen dalam pemilihan legislatif (pileg) tahun ini. Angka itu sama seperti pileg 2014 lalu.

"Dua digit, tidak mudah. Tapi kami ikhtiar," katanya.

(aud/lav)