Dua Pejabat Kementerian PUPR Kembalikan Rp650 Juta ke KPK

CNN Indonesia | Jumat, 08/03/2019 21:59 WIB
Dua Pejabat Kementerian PUPR Kembalikan Rp650 Juta ke KPK Juru bicara KPK Febry Diansyah. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) Kementerian PUPR mengembalikan uang sebanyak Rp650 juta ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Uang tersebut kemudian disita oleh penyidik sebagai bagian dalam penyidikan kasus dugaan suap proyek pembangunan SPAM Kementerian PUPR.

"Terdapat 2 orang PPK lainnya yang mengembalikan uang total Rp650 juta," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (8/3).


Sebelumnya 57 orang pejabat di Kementerian PUPR yang sudah mengembalikan uang ke KPK terkait kasus dugaan suap ini. Dengan demikian total sudah 59 orang yang mengembalikan uang dengan jumlah keseluruhan sekitar Rp22 miliar, US$148.500, dan Sin$28.100.

"Uang tersebut [kemudian] telah disita oleh penyidik sebagai bagian dari berkas perkara," ujar dia.

Dalam kasus dugaan suap proyek SPAM, KPK sebelumnya menetapkan delapan tersangka. Dari delapan tersangka ini, empat orang diduga sebagai pemberi suap, yaitu Direktur Utama PT WKE, Budi Suharto; Direktur PT WKE, Lily Sundarsih; Direktur PT TSP, Irene Irma; dan Direktur PT TSP, Yuliana Enganita Dibyo.

Sedangkan empat orang lainnya diduga sebagai penerima suap. Mereka adalah Kepala Satuan Kerja SPAM Strategis/PPK SPAM Lampung, Anggiat Partunggul Nahot Simaremare; PPK SPAM Katulampa, Meina Woro Kustinah; Kepala Satuan Kerja SPAM Darurat, Teuku Moch Nazar; dan PPK SPAM Toba 1, Donny Sofyan Arifin.

Anggiat, Meina, Teuku Nazar, dan Donny diduga menerima suap untuk mengatur lelang terkait proyek pembangunan SPAM Tahun Anggaran 2017-2018 di Umbulan 3-Pasuruan, Lampung, Toba 1, dan Katulampa.

Dua proyek lainnya adalah pengadaan pipa HDPE di Bekasi dan daerah bencana di Donggala, Palu, Sulawesi Tengah.

Untuk proyek-proyek tersebut, mereka masing-masing menerima uang dengan jumlah bervariasi. Anggiat menerima Rp350 juta dan US$5.000 untuk pembangunan SPAM Lampung. Selanjutnya, Rp500 juta untuk pembangunan SPAM Umbulan 3, Pasuruan, Jawa Timur.

Kemudian Meina menerima Rp1,42 miliar dan 22.100 dolar Singapura untuk pembangunan SPAM Katulampa. Teuku Nazar menerima Rp2,9 miliar untuk pengadaan pipa HDPE di Bekasi dan Donggala. Sementara Donny menerima Rp170 juta untuk pembangunan SPAM Toba 1. (ani/osc)