ANALISIS

Gerakan Arah Baru Indonesia dan Upaya Membelah PKS

CNN Indonesia | Sabtu, 09/03/2019 10:22 WIB
Gerakan Arah Baru Indonesia dan Upaya Membelah PKS Pimpinan PKS disebut tak akomodir aspirasi GARBI yang dipimpin oleh eks Presiden PKS Anis Matta. (Dok. Humas PKS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) terus mendeklarasikan kepengurusan di sejumlah daerah sejak awal tahun lalu. Organisasi kemasyarakatan itu digagas oleh mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta.

Anis membawa para loyalisnya di tubuh PKS untuk ikut membangun GARBI, seperti Mahfudz Siddiq hingga Fahri Hamzah. Kemunculan GARBI tak lepas dari konflik internal yang terjadi di tubuh partai yang kini dipimpin oleh Sohibul Iman itu.

Mahfudz Siddiq, Anggota DPR dari Fraksi PKS mengatakan pembentukan GARBI sudah dirancang sejak 2013 lalu, saat Anis masih memegang tongkat kepemimpinan PKS.


Namun, ketika ide membuat ormas itu semakin matang terjadi perubahan kepengurusan. Menurut Mahfudz, gagasan membuat sebuah organ di bawah naungan partai dimentahkan pengurus PKS selepas Anis.

"Lalu ada persoalan lah, ada konflik di PKS, dan ini tidak boleh berhenti tidak boleh mati. Artinya disiapkan wadah mengusung ide ini Gerakan Arah Baru Indonesia," kata Mahfudz kepada CNNIndonesia.com, Kamis (7/3).


Mahfudz heran PKS tak menjadikan GARBI sebagai aset, padahal digagas oleh kader partai. Ia menyebut partai yang lahir setelah reformasi itu justru menempatkan ormas dengan nuansa merah tersebut sebagai musuh.

"Saya pikir itu kesalahan terbesar yang dilakukan pimpinan PKS," ujarnya.

Mahfudz mengklaim saat ini GARBI telah memiliki kepengurusan di 25 daerah. Terakhir, GARBI mendeklarasikan pengurus DKI Jakarta, Minggu (3/3). Akhir pekan depan, Mahfudz mengatakan pihaknya akan mendeklarasikan pengurus Jawa Tengah dan Yogyakarta, 16 dan 17 Maret.

"Sekarang ini masih di daerah-daerah, nasionalnya belum," tuturnya.

Mahfudz menyatakan dirinya kini lebih aktif di GARBI ketimbang PKS. Demikian juga Anis Matta yang sudah fokus membesarkan GARBI. Menurut Mahfudz, secara administratif dirinya masih sebagai kader PKS.

"Secara administratif saya masih PKS, karena saya juga masih di DPR. Tetapi secara aktivitas lebih fokus di GARBI," katanya.

Gerakan Arah Baru Indonesia dan Upaya Membelah PKSMahfudz Siddiq sesalkan pimpinan PKS tak akomodasi aspirasi GARBI. (CNN Indonesia/Andry )Novelino

Arah Menjadi Parpol

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menilai GARBI yang digagas Anis Cs disiapkan untuk menjadi sebuah partai politik baru. Ujang mengatakan Anis yang sudah tersingkir di PKS tak ingin karir politiknya mandek.

"Saya meyakini bahwa Anis Matta tidak diam diri. Dia seorang politisi tentu karir politiknya ingin muncul lagi, ingin naik lagi, ingin memberikan kontribusi juga kepada bangsa," kata Ujang kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Ujang, GARBI yang kini sudah memiliki kepengurusan tingkat daerah merupakan awal bagi Anis dan loyalisnya, yang tersingkir dari PKS, membuat wadah baru untuk membawa kepentingan politiknya.


Ujang mencotohkan pola yang sama seperti dilakukan Partai NasDem dan Perindo. Kedua partai tersebut awalnya adalah ormas. Seiring berjalannya waktu kedua ormas yang masing-masing dipimpin Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo itu menjadi partai politik.

"Jadi sebenarnya ormas ini pra, pra mereka membuat gerakan suatu saat nanti bisa menjadi partai politik," ujarnya.

Menurut dosen Universitas Al-Azhar Indonesia itu, bila sebatas ormas, GARBI nantinya tak bisa berbuat banyak dalam kancah politik nasional. Ujang menyebut perjuangan politik di Indonesia memerlukan wadah berupa partai.

Ia mencotohkan seseorang yang ingin masuk dalam DPR atau DPRD harus melalui partai politik. Sehingga, kata Ujang, GARBI memiliki arah menjadi partai untuk menampung gagasan Anis Cs yang sudah tak tersalurkan di PKS.

"Sangat wajar ketika aspirasi kelompok mereka (Anis Matta Cs) tidak pernah terpenuhi di internal PKS, maka membuat gerakan tersendiri," katanya.


Menggerus PKS

Ujang mengatakan berdasarkan informasi yang dirinya dapat, 90 persen anggota GARBI merupakan kader PKS yang loyal terhadap Anis. Menurutnya, para kader itu tak mendapat ruang di PKS sehingga memilih untuk aktif membesarkan GARBI.

"Mereka isinya kubu-kubu Anis yang dipecatin semua dan ditambah dengan tokoh-tokoh luar, itu hanya pemanis lah," tuturnya.

Menurut Ujang, PKS harus berhati-hati dengan kemunculan GARBI yang sudah dideklarasikan di sejumlah daerah. Ia menyebut kemungkinan suara PKS dalam pemilihan umum (Pemilu) 2019 merosot, karena konflik internal ditambah kehadiran GARBI yang dibangun mantan pimpinan partai.

"Banyak lembaga survei yang mengatakan (PKS) tidak lolos (ke DPR). Ini kan timbul karena perpecahan itu. Oleh karena itu mereka yang pengurusan hari ini berusaha menaikkan elektabilitas," ujarnya.


Untuk itu, kata Ujang langkah antisipasi PKS adalah mencegah semakin banyaknya kader yang hijrah ke GARBI. Menurut Ujang, pimpinan PKS harus melakukan konsolidasi agar tetap solid untuk bisa mengamankan kursi di Senayan.

"Mereka hanya bisa bertahan dengan kelompok yang di internal, memperkuat militansi. Agar migrasi itu tidak semakin banyak, tidak semakin besar. Jika terjadi migrasi besar-besaran PKS akan jadi partai yang lemah," kata Ujang.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Bakir Ihsan mengatakan PKS sebagai partai yang sudah berdiri 20 tahun akan sulit digoyang. Bakir menyebut salah satu kekuatan PKS adalah anak muda yang Islamis.

"Tidak mudah digoyahkan dalam jangka pendek, karena sudah punya basis baik secara struktural maupun kultural," kata Bakir kepada CNNIndonesia.com.


Bakir menyatakan GARBI yang digagas Anis Cs juga tak menutup kemungkinan menjadi partai. Menurut Bakir, peluang sebuah ormas berubah sebagai partai semakin terbuka ketika banyak diisi oleh politisi.

"Kemungkinan ormas menjadi partai semakin terbuka apabila ormas tersebut diinisiasi oleh orang-orang partai," ujarnya.

[Gambas:Video CNN] (fra/DAL)