Ketua DPR Desak Operasi Ofensif untuk Tumpas KKB di Nduga

CNN Indonesia | Jumat, 08/03/2019 12:36 WIB
Ketua DPR Desak Operasi Ofensif untuk Tumpas KKB di Nduga Prajurit TNI dan Polri mengusung peti jenazah korban KKB di Bandara Moses Kilangin Timika, Mimika, Papua, Jumat (7/12/2018). (ANTARA FOTO/Jeremias Rahadat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPR Bambang Soesatyo mendorong operasi yang lebih ofensif atau menyerang terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga, Papua. Sebab, kelompok ini terindikasi memiliki kemampuan tempur yang signifikan mengganggu keamanan.

"Setelah tewasnya sejumlah prajurit TNI dan warga sipil, diperlukan respons yang lebih tegas dan terukur," kata dia, melalui pesan singkat, Jumat (8/3).


"Operasi yang lebih ofensif tampaknya sangat diperlukan untuk menumpas gerakan KKB di Nduga dan sekitarnya," imbuhnya.


Menurut Bambang, kekuatan KKB itu tampak dari insiden tewasnya tiga prajurit TNI dalam kontak senjata dengan KKB di Nduga, Papua, Kamis (7/3).

Pertama, KKB mampu memberi perlawanan dan mengganggu proses evakuasi. Yakni, ketika helikopter yang akan mengangkut prajurit TNI yang gugur masih ditembaki KKB.

Unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Papua, Front Rakyat Indonesia untuk West Papua, di kawasan Monas, Jakarta, 19 Desember 2018. Unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Papua, Front Rakyat Indonesia untuk West Papua, di kawasan Monas, Jakarta, 19 Desember 2018. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Kedua, KKB mampu membawa lari jenazah rekan mereka yang tewas. Hal ini, kata Bambang, mengindikasikan bahwa KKB memiliki markas dan tempat-tempat persembunyian di Nduga.

"Operasi yang lebih ofensif diperlukan untuk menjangkau dan menemukan tempat-tempat persembuyian KKB," ujar dia, yang juga politikus Partai Golkar ini.

Bambang mengatakan operasi ofensif itu tak hanya akan berdampak pada penguatan moral prajurit TNI.


"Operasi yang lebih ofensif secara tidak langsung akan meningkatkan aspek pengamanan proses pembangunan infrastruktur di Nduga. Pembangunan di Papua hendaknya tidak boleh dihambat oleh gerakan KKB," tutur dia.

Terpisah, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Muhamad Aidi mengatakan jenazah tiga anggota TNI yang menjadi korban KKB di Mugi, Nduga, sudah dievakuasi dari Timika ke Denpasar, Jakarta, dan Makassar, Jumat.

Evakuasi itu, kata dia, dilakukan dengan menggunakan dua pesawat. Yakni, pesawat Garuda yang membawa dua jenazah, yaitu Serda Mirwariyadin asal NTB yang diturunkan di Denpasar; Siswanto Bayu Aji ke Jakarta, dan selanjutnya ke Grobokan, Jawa Tengah.

Kemudian, jenazah Serda Yusdin akan diterbangkan dengan pesawat Sriwijaya ke Makassar, dan selanjutnya ke Palopo.

Ketiga anggota TNI ini gugur dalam kontak tembak dengan KKB pimpinan Egianus Kogoya. Sebanyak 10 anggota KKB disebut tewas, serta lima pucuk senjata api yang mereka gunakan berhasil diamankan anggota TNI.

Aidi, yang juga mantan Waasintel Kodam XVII/Cenderwasih itu, mengaku belum mengetahui pasti jenis senjata api yang berhasil diamankan anggota dalam kontak tembak di Mugi tersebut.

Untuk jenazah anggota KKB yang tewas, Aidi mengaku jasadnya belum ditemukan karena diduga dibawa lari rekan-rekannya.

[Gambas:Video CNN] (Antara/arh)