PDIP: Pihak Yang Baru Datang Jangan Uji Kesabaran NU

CNN Indonesia | Senin, 04/03/2019 06:30 WIB
PDIP: Pihak Yang Baru Datang Jangan Uji Kesabaran NU Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto meminta semua pihak tidak menguji kesabaran NU. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto meminta semua pihak tidak menguji kesabaran Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu ia sampaikan untuk menanggapi kericuhan dalam peringatan Hari Lahir NU di Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Menurutnya, NU merupakan salah satu organisasi yang berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Nahdliyin, kata dia, berkeringat demi bangsa dan negara.

"Kepada pihak mana pun, terlebih yang baru datang, yang tidak ikut berkeringat di dalam perjuangan kemerdekaan jangan uji kesabaran NU," ujar Hasto di sela Safari Kebangsaan PDIP di Lampung, Sabtu (2/3).


Hasto membeberkan NU memiliki semangat hubbul wathan minal iman (mencintai negara sebagian dari iman). Semangat itu dibuktikan lewat terbitnya Resolusi Jihad 1945. Resolusi tersebut menjadi salah satu modal mengusir penjajah.


NU, kata Hasto, juga selalu sabar dan lebih banyak mengalah meski diprovokasi. Namun begitu, ia mengingatkan NU bisa mengambil tindakan yang tegas jika tersinggung.

"Kalau mereka sudah betul-betul tersinggung, waduh Inggris saja kalang kabut saat itu ya (tahun 1945)," ujarnya.

Anggota NU sekaligus politisi PDIP Zuhairi Misrawi menegaskan NU merupakan organisasi yang beradab dan menjunjung supremasi hukum. NU, lanjutnya, ingin kedamaian, kerukunan, dan kebhinekaan di Indonesia terjaga.

"Tidak boleh ada organisasi yang di atas hukum. Apalagi dengan sengaja melanggar hukum," ujar Zuhairi di Lampung.


Mewakili NU, Zuhairi mengaku berterima kasih kepada Kepolisian yang bergerak cepat meringkus terduga pelaku kericuhan. Ia berkata hukum harus ditegakkan kepada siapapun yang melakukan kekerasan dan menebar konflik di masyarakat.

"Jadi NU selalu damai dan percaya bahwa negara bisa melindungi segenap kelompok, suku, agama dari kelompok-kelompok intoleran," ujarnya.

Acara tablig akbar dan tausyiah kebangsaan dalam memperingati hari lahir ke-93 Nahdlatul Ulama beberapa waktu lalu ricuh. Saat tablig akbar berlangsung , kelompok masa yang disebut-sebut berasal dari Front Pembela Islam (FPI) berteriak dan meminta acara tersebut dibubarkan.

Buntut dari kejadian tersebut, kepolisian menetapkan 11 anggota Front Pembela Islam (FPI) sebagai tersangka kericuhan

"Awalnya diamankan delapan orang. Tadi malam, dari hasil pengembangan ada tiga orang lagi. Semuanya sudah ditetapkan sebagai tersangka," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sumatera Utara Komisaris Besar Polisi Tatan Dirsan Atmaja, Kamis (28/2).

(panji/agt)