Polres Tebo Jambi Sasar Ponpes untuk Cegah Radikalisme

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 00:06 WIB
Polres Tebo Jambi Sasar Ponpes untuk Cegah Radikalisme Para santri saat bersalawat untuk Indonesia. (Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jambi, CNN Indonesia -- Polres Tebo, Jambi, menyambangi sejumlah institusi pendidikan untuk menangkal paham radikalisme yang dapat bermuara kepada terorisme. Pondok pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan yang kerap diberi penyuluhan mengenai bahaya paham radikalisme.

Kepala Satuan Bina Masyarakat Polres Tebo AKP Rismayardi mengatakan penyuluhan kontra radikalisme ini dilakukan di tingkat universitas, sekolah, dan termasuk pondok pesantren. Kendati di wilayahnya belum ada tanda-tanda kelompok intoleran dan radikal, ia menegaskan pihaknya akan terus melancarkan sosialiasi dan penyuluhan ke pelosok kabupaten.

"Di Polres Tebo yang diawasi sampai sekarang belum ada, tapi yang namanya kepolisian tetap waspada," kata Rismayardi usai memberi paparan mengenai radikalisme di Ponpes Al Mubarak Wali Songo, Tebo, Jambi, Senin (18/2).


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tebo M. Rifai Ahmad terlibat aktif dalam upaya sosialisasi ini. Rifai membenarkan bahwa sejauh pengawasannya belum ada benih-benih radikalisme ditemukan di wilayah Tebo.


"Alhamdulillah masih terkendali belum ada. Kalau dari kita belum mendapat laporan atau mendengar isu yang muncul di tengah masyarakat ada benih-benih radikalisme atau terorisme," cetus Rifai di tempat yang sama.

Beberapa cara ditempuh oleh MUI setempat untuk mencegah tumbuhnya benih radikalisme. Salah satu cara yang dilakukan adalah menyeleksi dengan saksama mubalig atau penceramah yang akan mengisi mimbar-mimbar di Tebo.

Hal ini tercermin dari keputusan Rifai kala menolak suatu kelompok ajaran Islam yang menurutnya tidak cocok dengan masyarakat Tebo.

"Pernah diundang dari kelompok Salafi itu saya tolak karena ajarannya Wahabi," kenang Rifai.


Khoiron, selaku pengasuh Ponpes Al Mubarak, menyambut baik penyuluhan semacam ini dari aparat. Selaras dengan upaya menghindari radikalisme, Khoiron pun menerapkan aturan ketat bagi para santrinya agar jauh dari paham-paham asing yang dianggap berbahaya.

AKBP Don Gaspar Mikel Da Costa dari Divisi Humas Mabes Polri menjelaskan kunjungan ke ponpes adalah bagian dari upaya deradikalisasi yang rutin dijalankan kepolisian. Don menyebut penyuluhan semacam ini sebagai program yang dijalankan dari polsek hingga polda di seluruh Indonesia.

"Sudah rutin dilakukan, setiap tahun ada," pungkas Da Costa. (bin/rea)