Terduga Pelaku Mutilasi Sempat Lapor Bos Tekstil Hilang

CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 20:17 WIB
Terduga Pelaku Mutilasi Sempat Lapor Bos Tekstil Hilang Ilustrasi pembunuhan. (Istockphoto/joebelanger)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi menyebut dua terduga pelaku pembunuhan dengan mutilasi terhadap warga negara Indonesia (WNI) di Malaysia sempat melaporkan kehilangan korban ke kantor kepolisian setempat.

Sebelumnya, Polis Diraja Malaysia (PDRM) mengamankan dua orang warga negara Pakistan berinisial A dan JIR yang diduga menjadi pelaku mutilasi terhadap Ujang Nuryanto, bos tekstil asal Bandung, di Malaysia.

Sekretaris National Central Bureau (NCB) Interpol Indonesia Brigjen Napoleon Bonaparte mengatakan kedua terduga pelaku tersebut sempat bertemu dengan korban pada 23 Januari.


Selain itu, terduga pelaku juga mengaku sempat mengantarkan korban ke sebuah tempat perbelanjaan di Kuala Lumpur, Malaysia.

"Anehnya dua hari kemudian dua orang ini membuat laporan ke polisi tentang hilangnya orang [korban] itu," kata Napoleon di Mabes Polri, Kamis (14/2).

Berdasarkan hasil penyelidikan, lanjutnya, diketahui bahwa kedua orang itu menjadi pihak yang terakhir bertemu dengan korban. PDRM kemudian menangkap keduanya pada 7 Februari dan ditahan selama 14 hari berikutnya guna kepentingan pemeriksaan.

Ilustrasi penangkapan.Ilustrasi penangkapan. (Istockphoto/BrianAJackson)
Napoleon melanjutkan bahwa pihaknya sudah menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menulusuri data transaksi keuangan korban. Data itu akan dikirimkan pada PDRM guna kepentingan penyelidikan.

"Bukti keuangan berupa transaksi di Bank BCA atas nama Nuryanto sudah kami dapat juga. Dari Divisi Hubungan Internasional (Hubinter) Polri akan berkoordinasi dengan Ses NCB Interpol di Malaysia dan PDRM," tutur Napoleon.

Selain itu, kata Napoloen, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri juga telah menyetorkan data rekam panggilan keluar-masuk atau call data record pada nomor ponsel Nuryanto ke Divisi Hubinter. Nantinya, semua data tersebut akan dikirim kepada pihak PDRM.

Identitas Dipastikan

Anggota Tim Penyidik dari Pusat Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Pusinafis) Polri Kombes Yayat Ruhiyat menyebut kepolisian telah memastikan bahwa jasad pria yang menjadi korban mutilasi adalah WNI bernama Nuryanto yang merupakan bos tekstil asal Bandung.

Kepastian itu diperoleh berdasarkan hasil identifikasi sampel sidik jari korban. Dari identifikasi tersebut, setidaknya ada enam sidik jari yang cocok dengan sidik jari Nuryanto sesuai yang terekam pada data e-KTP.

"Kami bandingkan dengan sidik di enam jari korban yang dinyatakan identik dengan sidik jari Nuryanto yaitu jempol tangan kiri mayat identik dengan jempol tangan kiri di e-KTP Nuryanto, kemudian jempol tangan kanan mayat identik sama dengan jempol tangan kanan di data e-KTP atas nama Nuryanto," tutur Yayat.


Selain itu, polisi juga telah mengirim sampel DNA ayah kandung dari rekan Nuryanto, Ai Munawaroh. Nantinya, sampel DNA tersebut akan digunakan untuk memastikan identitas dari korban.

Munawaroh diketahui juga menjadi korban pembunuhan dengan mutilasi bersama Nuryanto. Dari hasil penelusuran, Munawaroh merupakan karyawan dari Nuryanto.

Terpisah, istri Nuryanto, Meli Rahmawati (33), yang didampingi pengacaranya, Hermawan, datang ke Mapolda Jabar, Bandung, Kamis (14/2) sekitar pukul 12.00 WIB. Keduanya langsung menuju ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Jabar.

"Kita laporan dulu, berkoordinasi dengan pihak Reskrimum Polda Jawa Barat untuk melihat dulu unsur tindak pidananya masuk atau tidak," kata Hermawan seusai memberikan pengaduan.

Hermawan belum mengetahui apakah laporan tersebut diterima pihak kepolisian. Namun saat ini pihaknya ingin mengkoordinasikan terlebih dahulu dengan Direskrimum.

"Ya kita koordinasi lah ke pihak Reskrimum melihat menggelar perkaranya seperti apa. Bisa di terbitkan LP atau gak, ucapnya.
Menurut Hermawan, ada dua pengaduan yang akan disampaikan. Namun ia belum bisa merinci terkait laporan itu.

"Nanti kita sampaikan lagi kan kita ada dua laporan. Kita akan kaji dulu nanti," katanya.

[Gambas:Video CNN] (hyg/dis)