Kebakaran Mendominasi Kejadian Bencana di Jakarta pada 2018

dis, CNN Indonesia | Sabtu, 02/02/2019 03:30 WIB
Kebakaran Mendominasi Kejadian Bencana di Jakarta pada 2018 Petugas berusaha memadamkan api yang membakar rumah warga di kawasan Kebon Kosong, Kemayoran. Jakarta, Selasa, 25 Desember 2018. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Jupan Royter mengatakan kebakaran dan bencana yang diakibatkan cuaca ekstrem mendominasi peristiwa bencana di wilayah Jakarta sepanjang 2018.

Ia menyebut setidaknya ada 1.078 kejadian bencana yang tercatat sepanjang 2018. Dari jumlah tersebut, 951 di antaranya merupakan peristiwa kebakaran dan bencana akibat cuaca ekstrem.

"Kebakaran 692 kejadian dan cuaca ekstrem 259, itu baru yang dilaporkan ke kami, jumlahnya mungkin lebih dari itu," kata Jupan saat dihubungi wartawan, Jumat (1/2).


Dari data BPBD DKI Jakarta, peristiwa kebakaran banyak terjadi di Jakarta Timur dengan 177 peristiwa. Kemudian di Jakarta Selatan sebanyak 158 kejadian, Jakarta Barat 142 kejadian, Jakarta Utara sebanyak 114 kejadian, Jakarta Pusat ada 96 kejadian, dan di Kepulauan Seribu ada lima kejadian.

Peristiwa kebakaran sepanjang 2018 telah merenggut 25 korban jiwa, kemudian luka berat sebanyak 23 orang, dan luka ringan 159 orang. Kemudian untuk jumlah pengungsi tercatat sebanyak 6.348 orang.

Jupan menuturkan dari peristiwa kebakaran tersebut diperkirakan kerugian materiil mencapai Rp180 miliar.

Terkait penyebab kebakaran, menurut Jupan sebagian besar dikarenakan konsleting listrik. Selain itu, sambungnya, kebakaran juga lebih banyak terjadi pada musim kemarau atau pada pertengahan tahun.

Sementara itu, untuk bencana akibat cuaca ekstrem, kata Jupan, lebih banyak terjadi pada awal dan akhir tahun.

Dari data BPBD DKI Jakarta, bencana yang diakibatkan oleh cuaca ekstrem tercatat sebanyak 269 kejadian. Rinciannya, 249 kejadian pohon tumbang, 10 peristiwa angin kencang, dan 10 persitiwa longsor.

Jupan menyampaikan pohon tumbang mengakibatkan kerusakan 56 sarana dan prasarana serta menyebabkan kerugian sekitar Rp360 juta.

Sedangkan bencana akibat angin kencang tercatat merusak 55 sarana dan prasarana serta kerugian ditaksir sebesar Rp130 juta.

Kemudian untuk tanah longsor tercatat menyebabkan enam rumah rusak berat dan lima rusak ringan dengan jumlah warga terdampak sebanyak 52 jiwa.

Lebih dari itu, Jupan memprediksi bencana akibat cuaca ektrem akan terus terjadi sepanjang 2019. Apalagi, lanjutnya, anomali cuaca diperkirakan masih akan terus terjadi.

"Tahun ini diprediksi masih ada anomali cuaca," ucap Jupan. (dis/fea)