Eksistensi Jan Etes di Medsos Disebut Bukan buat Dulang Suara

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 00:08 WIB
Eksistensi Jan Etes di Medsos Disebut Bukan buat Dulang Suara Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menilai tudingan yang diberikan kubu calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, mengenai keterlibatan sosok Jan Ethes, cucu Presiden Joko Widodo (Jokowi), untuk mendongkrak elektabilitas calon petahana, tidaklah tepat.

Menurut Airlangga eksistensi Jan Ethes di media sosial hanya sekadar ajang berbagi momen yang dilakukan keluarga Presiden Jokowi, namun tidak bertujuan mendulang suara di kancah pertarungan politik dalam rangka Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

"Semua tahu sosial media bukan politik. Semua harus membedakan kampanye yang mendorong partai dan yang lain," ujarnya di Istana Negara, Selasa (29/1).


Lebih lanjut ia menilai hal ini lebih baik diserahkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). "Kalau pun itu politik, itu menjadi bagian yang diawasi Bawaslu," terangnya.

Sementara Presiden Jokowi sendiri enggan menanggapi tudingan penggunaan Jan Ethes sebagai cara mendongkrak elektabilitas dirinya di media sosial. Kepala negara hanya diam ketika ditanya awak media.

Sebelumnya, Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno, Ferdinand Hutahaean mempersoalkan keterlibatan Jan Ethes sebagai cara mendongkrak elektabilitas Jokowi. Sebab, melibatkan anak dalam politik merupakan pelanggaran perundangan.

"Tidak baik dan jelas itu dilarang oleh Undang undang. Pelibatan anak kecil untuk politik itu ada sanksi pidananya," kata Ferdinand kepada CNNIndonesia.com, Minggu (27/1).

Di samping dilarang undang-undang, Ferdinand juga menyebut Jan Ethes tidak patut dieksploitasi untuk kepentingan politik lantaran belum cukup umur. Dia mengatakan politik Indonesia cenderung keras, bahkan kejam.

"Kasihan Jan Ethes nanti kalau jadi korban bully akibat politik," imbuh Ferdinand.

Ferdinand lantas memberi saran kepada Jokowi dan Tim Kampanye Nasional agar berhenti melibatkan Jan Ethes. Dia ingin bocah tersebut menikmati dunia dengan cara yang sesuai dengan usianya saat ini.

Kepala Divisi Advokasi Partai Demokrat itu menolak segala bentuk pelibatan anak-anak dalam kepentingan politik.

"Terlebih kepada Jokowi, jangan egois hanya untuk tujuan politik membawa anak kecil ke kancah politik yang keras," kata Ferdinand.

Hal ini disampaikannya guna merespons pernyataan dari Tim Cakra 19, tim bayangan Jokowi-Ma'ruf, Andi Widjajanto yang menyebut Jan Ethes merupakan salah satu nilai plus dalam rangka mendongkrak popularitas kakeknya di media sosial. Sosok seperti Jan Ethes pun tidak dimiliki kubu penantang.

Andi mengatakan pihaknya mampu memainkan politik yang serius dan tergolong receh. Langkah serius, lanjutnya, yakni dengan memaparkan data-data.

"Kami bisa main serius dengan data-data, tapi kami juga bisa memviralkan Jan Ethes," katanya.

"Kami unggul yang mereka enggak punya, contohnya kartun Pak Jokowi main bum bum car dengan Jan Ethes, itu viral di mana-mana," lanjutnya. (uli/fea)