Selama Januari 395 Warga Sumsel Kena DBD, 3 Orang Tewas

CNN Indonesia | Selasa, 29/01/2019 19:34 WIB
Selama Januari 395 Warga Sumsel Kena DBD, 3 Orang Tewas Ilustrasi penderita demam berdarah dengue (DBD). (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)
Palembang, CNN Indonesia -- Sebanyak 395 warga Sumatra Selatan terjangkit demam berdarah dengue (DBD) sepanjang Januari 2019. Dari jumlah itu, 3 orang di antaranya meninggal dunia.

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Selatan mencatat jumlah tersebut berdasarkan laporan dari 17 kabupaten/kota.

Tiga orang yang meninggal itu berasal dari Kabupaten Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), dan OKU Selatan. Kepala Dinas Kesehatan Sumatra Selatan Lesty Nuraini mengatakan DBD meningkat salah satunya dipengaruhi cuaca.



"Kasus DBD meningkat disebabkan karena curah hujan juga yang masih tinggi. Lingkungan yang tidak bersih dan perilaku masyarakat juga menentukan," ujar Lesty, Selasa (29/1).

Meski jumlah kasus DBD cukup tinggi, pemerintah provinsi belum menetapkan kasus tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Pemerintah mencatat DBD pada 2018 sebanyak 2.396 kasus. Dari jumlah itu 26 orang di antaranya meninggal dunia.

Berdasarkan data sementara, hingga Senin (27/1), sebanyak 99 kasus DBD terjadi di Palembang, 42 kasus di Banyuasin, 41 kasus di OKU Timur, 28 kasus di Ogan Ilir, 26 kasus di Musi Rawas, 25 kasus di Muara Enim, 25 kasus di Prabumulih, serta 21 kasus di PALI.

"Jumlah kasus kemungkinan masih bisa bertambah karena Januari masih belum berakhir dan kabupaten/kota masih menyusun untuk data selengkapnya," kata Lesty.


Selain itu juga ditemukan 18 kasus di Musi Banyuasin, 17 kasus di Pagaralam, 16 kasus di OKI, 10 kasus di Lubuk Linggau, 9 kasus di Lahat, 7 kasus di Empat Lawang, 6 kasus di OKU Selatan, 4 kasus di Musirawas Utara, dan 1 kasus ditemukan di Kabupaten OKU.

Selama Januari, 395 Warga Sumsel Kena DBD, 3 Orang TewasPetugas melakukan pengasapan (fogging) guna memberantas nyamuk penyebab demam berdarah di Palmerah, Jakarta. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Dinas Kesehatan Sumsel mengirim edaran ke kabupaten/kota untuk mengantisipasi DBD dengan cara membantu menyebarkan larvasida dan alat fogging di setiap daerah.

"Yang terpenting terapkan pola hidup sehat serta konsultasi ke fasilitas pelayanan kesehatan jika ada gejala DBD. Bersihkan lingkungan dari air menggenang," ujarnya.

Lesty mengatakan pada November 2018, Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes terkait antisipasi DBD oleh pemerintah daerah di tingkat kabupaten dan kota. Penyakit ini rawan ditemukan saat musim penghujan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Fery Yanuar, mengatakan meningkatnya kasus DBD tidak hanya dikarenakan siklus musim, melainkan juga disebabkan faktor lingkungan.

Menurut dia, jenis penyakit ini akan sangat mudah tersebar di lingkungan yang kotor/kumuh pada genangan air.

Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk, memelihara ikan tempalo, menggunakan larvasida untuk membunuh jentik nyamuk dan mengaktifkan 3M, dan secepatnya mendatangi puskesmas atau rumah sakit jika sudah ada gejala DBD.

(idz/pmg)