Bawaslu: Tabloid Indonesia Barokah Sudutkan Salah Satu Paslon

CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 14:16 WIB
Bawaslu: Tabloid Indonesia Barokah Sudutkan Salah Satu Paslon Tabloid Indonesia Barokah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Mochammad Afifuddin mengimbau agar tidak ada lagi pihak yang menyebarkan tabloid Indonesia Barokah.

Afifuddin menyebut imbauan itu dikeluarkan karena konten Indonesia Barokah menyudutkan salah satu pasangan calon yang ikut dalam Pilpres 2019.

"Dari segi konten memang bukan kampanye hitam, tetapi ada bagian tertentu yang menyudutkan paslon tertentu. Terkesan ada framing untuk menyudutkan paslon tertentu yang bisa menimbulkan keresahan. Sehingga kita hentikan dulu penyebarannya," kata Afifuddin saat dimintai konfirmasi, Senin (28/1).


Afifuddin tidak menyebut secara gamblang siapa pihak yang disudutkan. Namun berdasarkan penelusuran, tabloid tersebut berisi tulisan-tulisan tendensius terkait pasangan nomor urut 02, Prabowo-Sandi.

Ia memastikan Bawaslu akan tetap mengawasi penyebaran Indonesia Barokah dan juga produk serupa karena sudah meresahkan masyarakat.

Selain itu Bawaslu berkoordinasi dengan Dewan Pers dan kepolisian untuk memastikan apakah Indonesia Barokah melanggar pidana umum atau pidana pemilu.

"Kita harap peserta pemilu menggunakan metode-metode kampanye yang ada untuk lebih mengelaborasi dan mensosialisasi visi-misi dan program kepada masyarakat," tutur dia.

Terpisah, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta semua pihak tak saling tuding terkait peredaran tabloid Indonesia Barokah. Moeldoko meminta para pihak yang mempermasalahkan tabloid itu menyerahkan kepada polisi untuk mengusutnya.

Mantan panglima TNI itu menyatakan polisi memiliki upaya untuk membongkar dalang di balik munculnya Indonesia Barokah

"Aparat penegak hukum harus melakukan langkah-langkah agar tidak ada kecurigaan yang berujung pada saling (tuding)," ujarnya.

Bawaslu Imbau Indonesia Barokah Anggota Bawasli Mochamad Afifudin. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Pensiunan jenderal bintang empat itu menyebut keberadaan Indonesia Barokah akan merusak iklim demokrasi. Kata Moeldoko, semua upaya yang dilakukan untuk saling menjatuhkan dan merusak kehidupan demokrasi harus dihilangkan.

"Saya pikir semua bentuk apapun yang ujung-ujungnya saling menyakiti atau dalam kehidupan demokrasi yang tidak sehat harus sama-sama kita berupaya untuk menghindari," tuturnya.

Moeldoko sebelumnya juga menyatakan mendukung instruksi Wakil Presiden, sekaligus Ketua Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla yang meminta seluruh pengurus masjid membakar tabloid Indonesia Barokah bila telah menerima tabloid itu.

Indonesia Barokah beredar di sejumlah wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tabloid ini menggegerkan panggung politik karena dianggap menyudutkan salah satu calon.

Tabloid itu berisi berita-berita saduran dari media massa lain. Namun tak ada struktur keredaksian yang jelas dalam tabloid itu. Selain itu alamat redaksi yang dicantumkan juga palsu.

Konten di dalam Indonesia Barokah memiliki tendensi terhadap Prabowo-Sandi. Salah satunya headline 'Reuni 212: Kepentingan Umat atau Kepentingan Politik?'. Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi telah mengadukanmya ke Dewan Pers dan kepolisian. (dhf/wis)