Banjir Sulsel Renggut 30 Korban Jiwa, 25 Orang Hilang

CNN Indonesia | Kamis, 24/01/2019 17:35 WIB
Banjir Sulsel Renggut 30 Korban Jiwa, 25 Orang Hilang Warga menyaksikan aliran air dari Bendungan Bili-bili di Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1). Korban tewas banjir Sulsel mencapai 30 orang. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutakhirkan jumlah korban dan dampak banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebut korban meninggal dunia tercatat hingga Kamis (24/1) pukul 14.00, mencapai 30 orang.

"25 orang hilang dan 47 orang lainnya mengalami luka-luka. Sementara itu tercatat 3.321 orang mengungsi," kata Sutopo dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (24/1).


Sutopo merinci, korban jiwa diketahui tersebar dari sejumlah daerah terdampak. Di Kabupaten Gowa, 16 orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu dari Kabupaten Jeneponto tercatat 10 orang tewas. Sementara itu empat orang korban tewas lainnya berasal dari Kabupaten Maros.

Selain korban jiwa dan luka-luka, tercatat 76 unit rumah juga dinyatakan rusak. Dari 76 unit tersebut 32 di antaranya hanyut, 25 unit rusak berat, dua unit rusak sedang, 12 unit rusak ringan dan lima unit lainnya tertimbun.

"Sedangkan, sebanyak 2.694 unit rumah masih dinyatakan terendam," kata Sutopo menambahkan.


Dampak banjir juga diketahui telah merusak 9 jembatan dan dua pasar. Banjir yang terjadi karena curah hujan tinggi tersebut juga diketahui merendam enam rumah ibada dan 13 unit sekolah.

"11.433 hektare sawah juga terendam banjir," sambungnya.

Menurut catatan Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, total 78 desa di 52 kecamatan yang tersebar di 10 kabupaten/kota telah terdampak bencana tersebut. 10 kabupaten/kota tersebut adalah Jeneponto, Maros, Gowa, Kota Makassar, Soppeng, Wajo, Barru, Pangkep, Sidrap dan Bantaeng.


Meski begitu, saat ini banjir di beberapa tempat termasuk yang terdampak debit aliran dari Waduk Bili-Bili dinyatakan telah surut. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang juga berkurang. BNPB pun menyatakan status aman.

"Status di bawah normal. Artinya aman dengan tinggi bukaan pintu air menjadi 1 meter," tambahnya.

Kendati demikian, BNPB tetap mengimbau kepada masyarakat agar terus waspada menghadapi bencana banjir, longsor dan puting beliung dalam kurun waktu Januari-Februari. Hal ini karena waktu tersebut merupakan puncak curah hujan tertinggi yang akan terjadi di seluruh wilayah di Indonesia.

(ani/ain)